Karomah Syeh Abdulqadir...
Syeh Abdulqadir Al-Jailani -- wali quthub -- suatu hari didatangi seorang ibu. Datang-datang si ibu menangis, dan dengan teringhak-inghak ia menceritakan kemalangannya.
"Tolonglah, Syeh..," ratapnya. "Saya hanya punya anak semata wayang, laki-laki. Mendadak tadi meninggal dunia, menyusul almarhum suami saya. Padahal, ia satu-satunya tulang punggung saya. Karena itu, Syeh, mohonlah kepada Allah. Hidupkanlah kembali anak saya. Kalau perlu, saya bersedia menebus nyawa anak saya bahkan dengan nyawa saya sendiri. Tolonglah, Syeh..."
Dengan penuh pengertian Syeh Abdulqadir berusaha menghibur si ibu. Tapi, ibu itu malah semakin terisak.
"Baiklah," akhirnya Syeh Abdulqadir mengiakan. "Insya Allah, saya akan munajat dengan memohon izin-Nya, agar anak ibu dihidupkan kembali. Mudah-mudahan..."
Lalu, ia meninggalkan si ibu dan masuk ke kamarnya. Duduk bertafakur. Menyatukan zikir dan fikir, dan memusatkannya ke titik Cahaya -- kalis dari batasan ruang dan waktu.
Maka, tiba-tiba Syeh Abdulqadir berada di depan gerbang maut. Tentu saja ia tahu, bahwa kalau ruh seseorang sudah melewati gerbang maut, maka seseorang itu tak bisa kembali ke kehidupan di alam dunia.
Dari jauh, dilihatnya Izra'il sang malaikat maut datang membawa peti. Ia memberi salam. Lalu, ia katakan bahwa "dengan izin Allah" ia meminta Izra'il supaya mengembalikan ruh anak laki-laki si ibu. Tapi, Izra'il tak memberikannya. Syeh Abdulqadir memaksa. Lalu, terjadilah perebutan yang luar biasa.
Syeh Abdulqadir berusaha menarik peti yang dibawa Izra'il, dan Izra'il tetap mempertahankannya. Rupanya, kewibawaan karamah Syeh Abdulqadir lebih unggul dari Izra'il. Sehingga peti yang dibawanya terlepas dan tutupnya terbuka. Dan, tiba-tiba berlepasanlah ruh-ruh yang baru saja dicabut oleh Izra'il.
Singkat cerita, Syeh Abdulqadir kembali dari kamarnya. Tampak si ibu masih menangis. Maka, katanya:
"Alhamdulillah... Bu, pulanglah segera, anak ibu sudah hidup lagi...!" []
Syeh Abdulqadir Al-Jailani -- wali quthub -- suatu hari didatangi seorang ibu. Datang-datang si ibu menangis, dan dengan teringhak-inghak ia menceritakan kemalangannya.
"Tolonglah, Syeh..," ratapnya. "Saya hanya punya anak semata wayang, laki-laki. Mendadak tadi meninggal dunia, menyusul almarhum suami saya. Padahal, ia satu-satunya tulang punggung saya. Karena itu, Syeh, mohonlah kepada Allah. Hidupkanlah kembali anak saya. Kalau perlu, saya bersedia menebus nyawa anak saya bahkan dengan nyawa saya sendiri. Tolonglah, Syeh..."
Dengan penuh pengertian Syeh Abdulqadir berusaha menghibur si ibu. Tapi, ibu itu malah semakin terisak.
"Baiklah," akhirnya Syeh Abdulqadir mengiakan. "Insya Allah, saya akan munajat dengan memohon izin-Nya, agar anak ibu dihidupkan kembali. Mudah-mudahan..."
Lalu, ia meninggalkan si ibu dan masuk ke kamarnya. Duduk bertafakur. Menyatukan zikir dan fikir, dan memusatkannya ke titik Cahaya -- kalis dari batasan ruang dan waktu.
Maka, tiba-tiba Syeh Abdulqadir berada di depan gerbang maut. Tentu saja ia tahu, bahwa kalau ruh seseorang sudah melewati gerbang maut, maka seseorang itu tak bisa kembali ke kehidupan di alam dunia.
Dari jauh, dilihatnya Izra'il sang malaikat maut datang membawa peti. Ia memberi salam. Lalu, ia katakan bahwa "dengan izin Allah" ia meminta Izra'il supaya mengembalikan ruh anak laki-laki si ibu. Tapi, Izra'il tak memberikannya. Syeh Abdulqadir memaksa. Lalu, terjadilah perebutan yang luar biasa.
Syeh Abdulqadir berusaha menarik peti yang dibawa Izra'il, dan Izra'il tetap mempertahankannya. Rupanya, kewibawaan karamah Syeh Abdulqadir lebih unggul dari Izra'il. Sehingga peti yang dibawanya terlepas dan tutupnya terbuka. Dan, tiba-tiba berlepasanlah ruh-ruh yang baru saja dicabut oleh Izra'il.
Singkat cerita, Syeh Abdulqadir kembali dari kamarnya. Tampak si ibu masih menangis. Maka, katanya:
"Alhamdulillah... Bu, pulanglah segera, anak ibu sudah hidup lagi...!" []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar