BISMILLAH...
بسم اللہ الرحمن الرحيم.....
(Khasanah-khas ini adalah ajang berbagi hikmah yang terserak tak karuan sumbernya -- siapa tahu hikmah-hikmah itu jadi ilham yang mencerahkan...)
Sabtu, 21 Mei 2011
Kamis, 19 Mei 2011
PELAJARAN MALAM INI: KEDERMAWANAN...
Sayidah 'Aisyah ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Orang yang dermawan dekat dengan Allah SWT, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil jauh dari Allah SWT, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih disukai Allah SWT ketimbang orang yang tekun ibadah tetapi bakhil..."
Dan, Allah SWT berfirman:
"Mereka (kaum Anshar) lebih mengutamakan (kaum Muhajirin) ketimbang diri mereka sendiri, walaupun mereka juga memerlukan (apa yang diberikannya itu)."
Adapun pelajarannya, dikatakan bahwa seorang 'arif billah berfatwa:
"Kedermawanan itu, artinya kau bertindak sesuai dengan munculnya dorongan naluri yang pertama kali mengetuk hatimu, tanpa berhitung apa pun..."
"Orang yang dermawan dekat dengan Allah SWT, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil jauh dari Allah SWT, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih disukai Allah SWT ketimbang orang yang tekun ibadah tetapi bakhil..."
(HR. Tirmidzi, Baihaqi dan Thabrani)
Dan, Allah SWT berfirman:
"Mereka (kaum Anshar) lebih mengutamakan (kaum Muhajirin) ketimbang diri mereka sendiri, walaupun mereka juga memerlukan (apa yang diberikannya itu)."
(Al-Hasyr, 59: 9)
"Kedermawanan itu, artinya kau bertindak sesuai dengan munculnya dorongan naluri yang pertama kali mengetuk hatimu, tanpa berhitung apa pun..."
(: Wallahua'lam...)
Rabu, 18 Mei 2011
AL-HASYR, 59: 18-21...
"YA AYYUHAL-LADZINA AMANUT-TAQULLAHA WAL-TANZHUR NAFSU(N) MA QADDAMAT LIGHAD, WAT-TAQULLAH, INNALLAHA KHABIRU(N) BIMA TA'MALUN...
hai orang-orang yang beriman, taqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri/jiwa memperhatikan bekal apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok (akhirat), bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan...""WA LA TAKUNU KAL-LADZINA NASULLAHA FA ANSAHUM ANFUSAHUM, ULAIKA HUMUL-FASIQUN...
janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikannya lupa kepada dirinya sendiri, mereka itulah orang-orang fasik..."LA YASTAWI ASHHABUN-NARI WA ASHHABUL-JANNAH, ASHHABUL-JANNATI HUMUL-FAIZUN...
tidak sama ahli-neraka dengan ahli-surga, ahli-surga itulah orang-orang beruntung..."LAW ANZALNA HADZA-QUR'ANA 'ALA JABALI(N) LARA'AYTAHU KHASYI'A(N) MUTASHADDI'A(N) MIN KHASYYATILLAH, WA TILKAL-AMTSALU NADHRIBUHA LINNASI LA'ALLAHUM YATAFAKKARUN...
seandainya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke atas gunung, niscaya kalian melihatnya tunduk (dan) pecah-belah saking takutnya kepada Allah, dan permisalan itu Kami peruntukkan bagi manusia agar mereka berfikir..."(Shadaqallahul-azhim...)
Selasa, 17 Mei 2011
TAQWA...
Abu Sa'id al-Khudriy ra meriwayatkan, bahwa seseorang datang kepada Rasulullah saw, katanya:
"Ya Rasulullah, nasihatilah saya..."
Rasululah saw bersabda:
"Kau harus memiliki ketaqwaan kepada Allah, karena ketaqwaan itu merupakan kumpulan segenap kebaikan. Kau juga harus melakoni jihad, karena jihad itu kependetaan orang Islam. Dan, kau harus senantiasa dzikir kepada Allah, karena dzikir itu cahaya untukmu."
(HR. Ibnu Dharis)
Anas bin Malik ra meriwayatkan, bahwa seseorang datang kepada Rasulullah saw, tanyanya:
"Ya Rasulullah, siapakah yang disebut 'keluarga Muhammad' itu?"
Rasulullah saw bersabda:
"Setiap mereka yang taqwa!"
Dan, Allah SWT berfirman:
"Sungguh, orang yang paling mulia di antaramu -- di sisi Allah -- adalah orang yang paling taqwa di antaramu..."
(Al-Hujurat, 49: 13)
Abu Sa'id al-Khudriy ra meriwayatkan, bahwa seseorang datang kepada Rasulullah saw, katanya:
"Ya Rasulullah, nasihatilah saya..."
Rasululah saw bersabda:
"Kau harus memiliki ketaqwaan kepada Allah, karena ketaqwaan itu merupakan kumpulan segenap kebaikan. Kau juga harus melakoni jihad, karena jihad itu kependetaan orang Islam. Dan, kau harus senantiasa dzikir kepada Allah, karena dzikir itu cahaya untukmu."
(HR. Ibnu Dharis)
Anas bin Malik ra meriwayatkan, bahwa seseorang datang kepada Rasulullah saw, tanyanya:
"Ya Rasulullah, siapakah yang disebut 'keluarga Muhammad' itu?"
Rasulullah saw bersabda:
"Setiap mereka yang taqwa!"
Dan, Allah SWT berfirman:
"Sungguh, orang yang paling mulia di antaramu -- di sisi Allah -- adalah orang yang paling taqwa di antaramu..."
(Al-Hujurat, 49: 13)
BERITA BESAR (AN-NABA')
Riwayat dari Mu'adz bin Jabbal ra, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw mengenai "Berita Besar" (An-Naba')...
Dan Rasulullah saw bersabda:
"Ya Mu'adz, kau bertanya mengenai 'Berita Besar'..." sambil beliau tampak menatap jauh tetapi fokus ke depan, seakan-akan sedang mengamati sesuatu, kemudian sabdanya:
"Di Akhirat kelak ummatku akan dikumpulkan dalam 10 golongan.
"Sebagian ada yang berbentuk kera.
"Sebagian lain ada yang berbentuk babi.
"Sebagian lagi terseret kaki terbalik di atas dan kepala di bawah.
"Sebagian yang buta.
"Sebagian yang tuli dan bisu.
"Sebagian bibirnya komat-kamit ke dada sambil muntah nanah menjijikkan.
"Sebagian lagi tangan dan kakinya dipotong.
"Sebagian lain disalib di tiang neraka.
"Sebagian yang lebih busuk baunya ketimbang bau bangkai.
"Dan, sebagian lainnya mengenakan jubah panjang dan besar dari aspal panas yang melelehkan tubuh mereka..."
Rasulullah saw melanjutkan sabdanya:
"Adapun golongan yang berbentuk kera itu adalah tukang fitnah.
"Golongan yang berbentuk babi adalah tukang makan barang haram.
"Golongan yang kakinya terbalik dengan kepala adalah pemakan riba.
"Golongan buta adalah yang suka bertindak lalim atas nama hukum.
"Golongan tuli dan bisu adalah yang suka berbangga dengan amal.
"Golongan yang bibirnya terjulur penuh nanah adalah tukang cari kesalahan orang.
"Golongan yang tangan dan kakinya dipotong adalah tukang menyakiti tetangga.
"Golongan yang disalib adalah tukang mengadu orang lain kepada penguasa.
"Golongan berbau busuk lebih dari bangkai adalah yang suka mengumbar nafsu.
"Dan, golongan berjubah aspal panas adalah mereka yang sombong, ujub, dan gila hormat..."
(Wallahu a'lam...)
[: dari "ISYARAT ILAHI" karya Syaikhul-Akbar Muhyiddin Ibnu 'Arabi]
Dan Rasulullah saw bersabda:
"Ya Mu'adz, kau bertanya mengenai 'Berita Besar'..." sambil beliau tampak menatap jauh tetapi fokus ke depan, seakan-akan sedang mengamati sesuatu, kemudian sabdanya:
"Di Akhirat kelak ummatku akan dikumpulkan dalam 10 golongan.
"Sebagian ada yang berbentuk kera.
"Sebagian lain ada yang berbentuk babi.
"Sebagian lagi terseret kaki terbalik di atas dan kepala di bawah.
"Sebagian yang buta.
"Sebagian yang tuli dan bisu.
"Sebagian bibirnya komat-kamit ke dada sambil muntah nanah menjijikkan.
"Sebagian lagi tangan dan kakinya dipotong.
"Sebagian lain disalib di tiang neraka.
"Sebagian yang lebih busuk baunya ketimbang bau bangkai.
"Dan, sebagian lainnya mengenakan jubah panjang dan besar dari aspal panas yang melelehkan tubuh mereka..."
Rasulullah saw melanjutkan sabdanya:
"Adapun golongan yang berbentuk kera itu adalah tukang fitnah.
"Golongan yang berbentuk babi adalah tukang makan barang haram.
"Golongan yang kakinya terbalik dengan kepala adalah pemakan riba.
"Golongan buta adalah yang suka bertindak lalim atas nama hukum.
"Golongan tuli dan bisu adalah yang suka berbangga dengan amal.
"Golongan yang bibirnya terjulur penuh nanah adalah tukang cari kesalahan orang.
"Golongan yang tangan dan kakinya dipotong adalah tukang menyakiti tetangga.
"Golongan yang disalib adalah tukang mengadu orang lain kepada penguasa.
"Golongan berbau busuk lebih dari bangkai adalah yang suka mengumbar nafsu.
"Dan, golongan berjubah aspal panas adalah mereka yang sombong, ujub, dan gila hormat..."
(Wallahu a'lam...)
[: dari "ISYARAT ILAHI" karya Syaikhul-Akbar Muhyiddin Ibnu 'Arabi]
AKHLAQ IBRAHIM BIN ADHAM...
Alkisah...
Ibrahim bin Adham sedang berada di suatu padang pasir tandus. Tiba-tiba muncul seorang askar, tanyanya:
"Di mana perkotaan yang ramai?"
Ibrahim menunjuk ke arah pekuburan.
Askar itu dengan beringasnya langsung memukuli Ibrahim, dan baru berhenti ketika ada seseorang yang mengingatkannya dengan berkata:
"Hai, orang ini Ibrahim bin Adham, sufi -- malah dulunya pangeran -- dari Khurasan..."
Dan, askar itu pun memohon-mohon untuk diberi maaf kepada Ibrahim bin Adham.
Sambil tersenyum, Ibrahim berkata:
"Ketika kau berakhlaq buruk dengan memukulku tadi, aku berdoa agar Allah Subhanahu Wa Ta'ala memasukkanmu ke surga..."
"Kenapa demikian?" tanya askar itu heran.
"Sebab," jawab Ibrahim, "aku tahu, bahwa aku akan memperoleh pahala karena akhlaq burukmu... Aku tidak mau nasibku menjadi baik gara-gara kerugian (buruk) akhlaqmu, dan perhitungan amalmu menjadi (berakhlaq) buruk gara-gara diriku..."
(Wallahu a'lam...)
Alkisah...
Ibrahim bin Adham sedang berada di suatu padang pasir tandus. Tiba-tiba muncul seorang askar, tanyanya:
"Di mana perkotaan yang ramai?"
Ibrahim menunjuk ke arah pekuburan.
Askar itu dengan beringasnya langsung memukuli Ibrahim, dan baru berhenti ketika ada seseorang yang mengingatkannya dengan berkata:
"Hai, orang ini Ibrahim bin Adham, sufi -- malah dulunya pangeran -- dari Khurasan..."
Dan, askar itu pun memohon-mohon untuk diberi maaf kepada Ibrahim bin Adham.
Sambil tersenyum, Ibrahim berkata:
"Ketika kau berakhlaq buruk dengan memukulku tadi, aku berdoa agar Allah Subhanahu Wa Ta'ala memasukkanmu ke surga..."
"Kenapa demikian?" tanya askar itu heran.
"Sebab," jawab Ibrahim, "aku tahu, bahwa aku akan memperoleh pahala karena akhlaq burukmu... Aku tidak mau nasibku menjadi baik gara-gara kerugian (buruk) akhlaqmu, dan perhitungan amalmu menjadi (berakhlaq) buruk gara-gara diriku..."
(Wallahu a'lam...)
KEAGUNGAN AKHLAQ...
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, tanyanya:
"Ya Rasulullah, siapakah di antara yang mu'min yang paling utama imannya?"
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjawab:
"Mereka yang paling baik (ahsanuhum) akhlaqnya..."
(HR. Ibnu Majah)
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pun bersabda:
"Sungguh, kalian tidak akan mampu memberi kebahagiaan kepada orang lain dengan hartamu, maka berilah kebahagiaan dengan wajah sejuk (penuh senyum) dan akhlaq baik..."
(HR. Al-Bazzar dan Hakim)
Dan, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa seseorang memohon kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam:
"Ya Rasulullah, mohonlah agar kiranya Allah Subhanahu Wa Ta'ala membinasakan orang-orang musyrik...!"
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjawab:
"Sungguh, aku diutus sebagai rahmat, bukan sebagai adzab..."
(HR. Muslim)
Adapun mengenai akhlaq Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sendiri, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya:
"WA INNAKA LA'ALA KHULUQIN 'AZHIM... dan sesungguhnya engkau benar-benar berakhlaq agung..."
(Al-Qalam, 68: 4)
Sedangkan mengenai firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
"WA TSIYABAKA FATHAHHIR... dan pakaianmu, hendaknya kau bersihkanlah..."
(Al-Muddatstsir, 74: 4)
Hasan Al-Bashriy menerangkan, bahwa ayat ini bermakna, "Dan akhlaqmu, hendaknya kau perindahlah..."
Alkisah...
Ibrahim bin Adham sedang berada di suatu padang pasir tandus. Tiba-tiba muncul seorang askar, tanyanya:
"Di mana perkotaan ramai?"
Ibrahim menunjuk ke arah pekuburan.
Askar itu dengan beringasnya langsung memukuli Ibrahim, dan baru berhenti ketika ada seseorang yang mengingatkannya dengan berkata:
"Hai, orang ini Ibrahim bin Adham, sufi -- malah dulunya pangeran -- dari Khurasan..."
Dan, askar itu pun memohon-mohon untuk diberi maaf kepada Ibrahim bin Adham.
Sambil tersenyum, Ibrahim berkata:
"Ketika kau berakhlaq buruk dengan memukulku tadi, aku berdoa agar Allah Subhanahu Wa Ta'ala memasukkanmu ke surga..."
"Kenapa demikian?" tanya askar itu heran.
"Sebab," jawab Ibrahim, "aku tahu, bahwa aku akan memperoleh pahala karena akhlaq burukmu... Aku tidak mau nasibku menjadi baik gara-gara kerugian (buruk) akhlaqmu, dan perhitungan amalmu menjadi (berakhlaq) buruk gara-gara diriku..."
(Wallahu a'lam...)
"Ya Rasulullah, siapakah di antara yang mu'min yang paling utama imannya?"
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjawab:
"Mereka yang paling baik (ahsanuhum) akhlaqnya..."
(HR. Ibnu Majah)
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pun bersabda:
"Sungguh, kalian tidak akan mampu memberi kebahagiaan kepada orang lain dengan hartamu, maka berilah kebahagiaan dengan wajah sejuk (penuh senyum) dan akhlaq baik..."
(HR. Al-Bazzar dan Hakim)
Dan, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa seseorang memohon kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam:
"Ya Rasulullah, mohonlah agar kiranya Allah Subhanahu Wa Ta'ala membinasakan orang-orang musyrik...!"
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjawab:
"Sungguh, aku diutus sebagai rahmat, bukan sebagai adzab..."
(HR. Muslim)
Adapun mengenai akhlaq Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sendiri, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya:
"WA INNAKA LA'ALA KHULUQIN 'AZHIM... dan sesungguhnya engkau benar-benar berakhlaq agung..."
(Al-Qalam, 68: 4)
Sedangkan mengenai firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
"WA TSIYABAKA FATHAHHIR... dan pakaianmu, hendaknya kau bersihkanlah..."
(Al-Muddatstsir, 74: 4)
Hasan Al-Bashriy menerangkan, bahwa ayat ini bermakna, "Dan akhlaqmu, hendaknya kau perindahlah..."
Alkisah...
Ibrahim bin Adham sedang berada di suatu padang pasir tandus. Tiba-tiba muncul seorang askar, tanyanya:
"Di mana perkotaan ramai?"
Ibrahim menunjuk ke arah pekuburan.
Askar itu dengan beringasnya langsung memukuli Ibrahim, dan baru berhenti ketika ada seseorang yang mengingatkannya dengan berkata:
"Hai, orang ini Ibrahim bin Adham, sufi -- malah dulunya pangeran -- dari Khurasan..."
Dan, askar itu pun memohon-mohon untuk diberi maaf kepada Ibrahim bin Adham.
Sambil tersenyum, Ibrahim berkata:
"Ketika kau berakhlaq buruk dengan memukulku tadi, aku berdoa agar Allah Subhanahu Wa Ta'ala memasukkanmu ke surga..."
"Kenapa demikian?" tanya askar itu heran.
"Sebab," jawab Ibrahim, "aku tahu, bahwa aku akan memperoleh pahala karena akhlaq burukmu... Aku tidak mau nasibku menjadi baik gara-gara kerugian (buruk) akhlaqmu, dan perhitungan amalmu menjadi (berakhlaq) buruk gara-gara diriku..."
(Wallahu a'lam...)
Kamis, 12 Mei 2011
Taman Ma’rifat
1.
Abu ‘Umar Al-Husain ibn Manshur Al-Hallaj,
semoga Allah menyucikan ruhnya, berkata:
Kata-benda nyata tercakup dalam pengertian kata-benda tak-nyata,
dan kaya-benda tak-nyata tercakup dalam pengertian kata-benda nyata.
Ketaknyataan adalah pertanda sang arif (‘irfan),
dan ketidaktahuan adalah perwujudannya.
Perwujudan-lahir ma’rifat tersembunyi dari pengertian,
dan kembali pada ma’rifatnya.
Bagaimana ia mengetahui Dia, padahal tidak ada ‘bagaimana’?
Di mana ia mengetahui Dia, padahal tidak ada ‘di mana’?
Bagaimanakah ia mencapai Dia, padahal tidak ada ide penyatuan?
Bagaimanakah ia terpisah dari-Nya, padahal tidak ada pemisahan?
Kenyataan-murni tidak mungkin menjadi obyek
dari segala sesuatu yang terbatas, atau obyek-terbilang.
Tidak juga membutuhkan perawatan ataupun pengapkiran.
2.
Ma’rifat itu melampaui gagasan ‘kelampauan’,
melampaui batasan ruang dan melampaui tujuan.
Melampaui kesadaran, tradisi yang lumrah, juga melampaui persepsi.
Sebab, semua yang ada ini merupakan sesuatu yang ‘tiada’
sebelum diadakannya, yang muncul untuk mengada di suatu tempat.
Dia tak-henti mengadakan,
ada dan ‘ada’ sebelum dimensi, sebab maupun akibat.
Jadi, bagaimana mungkin dimensi memuat-nya,
atau pembatasan mencakup-Nya?
3.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui Allah karena kurang tahuku atas-Nya,”
bagaimana bisa ia yang kurang tahu mengetahui Dia yang selalu ‘Ada’?
4.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya karena aku ada,”
dua kemutlakan-lahir tidak mungkin sama-sama ada.
5.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya, sebab aku tidak tahu Dia,”
ketidaktahuan hanyalah sebuah hijab, dan ma’rifat itu melampaui hijab.
Kalau tidak, tidak ada hakikat untuknya.
6.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya dengan Nama-Nya,”
sang ‘Nama’ tidak terpisahkan dari yang Dinamainya,
sebab Dia bukanlah makhluk.
7.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya lewat Diri-Nya,’
Ini menyinggung dua obyek pengakuan (bagaimana mungkin)!
8.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya lewat karya-Nya,”
itu (artinya) mencukupkan seseorang dengan karya-karya,
tanpa mencari sang Esa yang membuatnya.
9.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya,
karena ketidakmampuanku untuk mengetahui-Nya,”
ini seseorang yang tidak mampu karena terputus.
Maka (dalam keadaan terputus) bagaimana mungkin
(subyek) yang dihubungkan dapat memahami obyek yang diketahui?
10.
Ia yang berkata: ”Sebagaimana Dia mengetahuiku, aku mengetahui-Nya,’
itu sudah menyinggung pengetahuan sejati (‘ilm),
dan ini berarti kembali lagi pada (obyek) yang diketahui,
yang berbeda dari Zat Ilahi.
Dalam keadaan berbeda dari Zat, bagaimana mungkin memahami Zat?
11.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya,
sebagaimana Dia menjelaskan Diri-Nya,”
ini berarti puas dengan wibawa ahli tradisi, tanpa penegasan langsung.
12.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya lewat sifat antitesis-Nya,”
yang diketahui adalah sesuatu (Zat) yang tidak beranak-pinak
ataupun membelah-diri menjadi belahan-belahan!
13.
Ia yang berkata: “Sang obyek sendiri yang mengetahui diri-Nya,”
ini hanya menegaskan bahwa sang arif (‘irfan) terikat oleh perbedaan,
sebab sang Obyek tak-henti mengetahui diri-Nya dalam Diri-Nya.
14.
Maha Kesucian Allah!
Bahkan, sebelumnya manusia tidak mengetahui,
bagaimana sehelai rambut di tubuhnya tumbuh dari hitam menjadi putih.
Maka, bagaimana ia mengetahui Dia yang membuat segala sesuatu ada?
Ia yang tidak mengetahui ikhtisar ataupun analisa,
tidak yang Terawal dan yang Terakhir, tidak juga perubahan,
tidak sebab, tidak kenyataan ataupun kelengkapan,
tidak mungkin ia memiliki pengetahuan tentang Dia yang senantiasa ‘ada’.
15.
Segenap puji bagi Allah,
yang menghijab segala sesuatu dengan Nama (‘Ism),
ketentuan (ta’rif) dan pertanda (ayat).
Dia menghijabnya di bawah firman, keadaan, kesempurnaan,
juga keindahan dari-Nya yang Satu, yang selalu ada dan ‘ada’!
Hati (qalb) adalah segumpal daging,
maka ma’rifat tidak mungkin tinggal di sana,
karena adanya merupakan substansi Ilahi.
16.
Kearifan itu memiliki dua dimensi logis: pencapaian dan pendalaman.
Keshalihan spiritual juga memiliki dua aspek: kebiasaan dan kewajiban.
Keseluruhan makhluk ciptaan pun berada di dunia dan di akhirat.
17.
Kendati demikian, ma’rifat tidak memiliki pencapaian dan pendalaman,
tidak bertempat di dunia atau di akhirat,
tidak juga tercirikan dalam wujud-lahir ataupun kehendak-batin.
Sebagaimana pada kebiasaan dan kewajiban.
18.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya dengan hakikat-Nya,”
ia membuat keberadaannya lebih besar dari sang Obyek (Allah).
Sebab, barangsiapa mengetahui ‘sesuatu’ sesuai hakikat sebenarnya,
akan menjadi lebih perkasa dari obyek-sederhana yang ia ketahui.
19.
Hai insan! Tidak ada di jagat ini makhluk yang lebih kecil dari atom,
dan kau tidak merasakannya.
Bagaimana mungkin seseorang yang tidak dapat mengenali atom
mampu mengetahui Dia yang ‘ada’-nya lebih lembut dari atom?
20.
Apa yang terjelma (makhluk) akan berlalu ke sisi yang pasti musnah,
dan apa yang tertutup (gaib) akan tetap berada di sisi pengetahuan-inti.
Adapun inti ma’rifat tersembunyi bersama nama ma’rifatnya.
Dan, tetap terputus sangat dari pemikiran,
Obyek-pengaburan, apalagi pelalaian.
21.
Ia yang menginginkan ma’rifat, mengkhawatiri hal itu.
Dan, ia yang mengkhawatiri hal itu, melepaskan diri darinya,
bahkan mengucilkan diri dari hal itu.
Timurnya (ma’rifat) adalah Barat, dan Baratnya adalah Timur.
Tidak ada sebuah tempat pun di atas dunia ini
yang lebih tinggi darinya (ma’rifat),
dan tidak ada sebuah tempat pun di bawah yang lebih rendah baginya.
Ma’rifat terlepas dari segala sesuatu yang ada,
tetap kekal dengan keabadian Ilahi.
Jalannya sempit, dan tidak ada jalur untuk menempuhnya.
Maknanya jelas, tapi tidak ada bimbingan kepadanya.
Perasaan tidak dapat merasakannya,
dan penerangan pun tidak dapat mencapainya.
22.
Ia yang kerasukan ma’rifat menjadi terpencil sendiri,
dan ia yang berpadu dengannya dianggap bid’ah.
Ia yang mendalaminya menjadi kere,
dan ia yang mengikatkan diri padanya akan binasa.
Kilatnya (ma’rifat) adalah sumber persediaan air yang melimpah-ruah.
Hembusannya menganugerahkan kebebasan. Anak panahnya melesat.
Dan, seandainya (ma’rifat) dilepas ke bumi, niscaya menenangkan.
Orang yang mengkhawatirinya akan menjadi asketis (zuhud),
bahkan membuatnya sebagai pengintai yang seadanya (wara’).
Tali kemahnya adalah para ‘arifin, juga alat pendakiannya.
23.
Ma’rifat tidak memiliki qiyas (analogi) selain dirinya.
Allah pun tidak memiliki analogi selain Diri-Nya.
Jadi, Dia mirip dengannya.
Dia seperti ia (ma’rifat), tapi Dia pun seperti Diri-Nya,
sebagaimana ia (ma’rifat) analog dengan dirinya.
Dia hanya seperti Diri-Nya, dan ma’rifat pun hanya seperti dirinya.
Bangunan ma’rifat adalah dukungannya,
dan dukungan ma’rifat adalah bangunannya.
Justru, siapa yang kerasukan ma’rifat adalah ‘siapa’ yang kerasukannya.
Bangunan ma’rifat adalah untuknya, di dalamnya, dan bersamanya.
Ia (ma’rifat) bukan Dia, dan Dia pun bukan ia.
Tidak ada Dia kecuali ia (ma’rifat), dan tidak ada ia kecuali Dia.
Tidak ada ma’rifat kecuali Dia. Tidak ada Dia kecuali ‘Dia’.
24.
Jadi, sang arif (‘irfan) adalah “seseorang yang ‘melihat’”,
dan ma’rifat terletak di “ia yang tetap”.
Sang arif tinggal dengan sikap kesadarannya,
sebab ia adalah kesadarannya dan kesadarannya adalah ia.
Sedangkan ma’rifat melampaui itu,
dan sang Obyek masih lebih jauh lagi melampaui itu.
25.
Cerita adalah urusan tukang cerita,
dan ma’rifat adalah urusan orang terpilih (khasysy).
Tingkah kepura-puraan adalah urusan perorangan,
dan celotehan adalah kerjaan orang penuh angan-angan.
Meditasi adalah kerjaan orang yang putus-asa,
dan kesembronoan adalah kerjaan orang yang liar.
26.
Allah adalah Allah, makhluk adalah ‘makhluk’.
Dan, ia (ma’rifat) tiada kaitan apa pun. []
Tha-Sin:
Kefanaan Wujud
1.
Inilah lingkaran qiyas (alegori) Tauhid, dan inilah sosok perlambangnya:
2.
Inilah kesemestaan yang dapat memperlihatkan kepada kita
mengenai fatwa dan hukum (Tauhid), juga buat para pakar,
ahli ‘ibadah dan ahli madzhab, ahli fiqih dan ahli kalam.
3.
Lingkaran pertama adalah ‘perasaan’ harfiah,
yang kedua adalah ‘rasa’ batin,
dan yang ketiga adalah kias ‘ruh’ (yang tidak terkiaskan).
4.
Itulah keseluruhan segala sesuatu, yang dicipta ataupun digubah,
yang dipakai, ditapis, disaring, disangkal, yang dibuai ataupun dibius.
5.
Ia beredar dalam kata-ganti ‘kami’ subyek-subyek pribadi.
Seperti sebatang panah, ia menembusi sekujur mereka,
melengkapinya, mengejutkannya, dan membalikkannya.
Ia juga menakjubkan mereka, meneranginya,
dan ia mempesonakannya saat ‘menemui’ mereka.
6.
Itulah keseluruhan substansi dan kualitas makhluk.
Adapun Allah tidak berhubungan dengan perumpamaan ini.
7.
Kalau kukatakan: “Ia adalah Dia,”
pernyataan itu bukanlah (refleksi) Tauhid.
8.
Bila kukatakan bahwa Tauhid Allah itu shahih,
orang akan menjawabku – “Tidak sangsi lagi!’
9.
Andai kukatakan “tanpa waktu,”
orang akan bertanya: “Adakah maknanya Tauhid itu tamsil?”
Padahal, tidak ada perbandingan saat menggambarkan Allah.
Tauhidmu itu tidak ada hubungannya dengan Allah ataupun makhluk,
sebab faktanya mengungkapkan
bahwa sejumlah waktu itu mengintrodusir kondisi terbatas.
Dalam hal ini, kau telah menambahkan pengertian pada Tauhid,
seolah (Tauhid) itu bergantung.
Bagaimanapun, kebergantungan bukanlah sifat Allah. Zat-Nya itu Unik.
Dan, sekaligus, baik Kebenaran maupun apa yang gaib,
tidak mungkin terpancar (keluar) dari Zat-Nya Zat.
10.
Jika kukatakan: “Tauhid adalah Firman itu sendiri,”
‘Firman’ adalah sifatnya Zat, bukan Zat itu sendiri.
11.
Jika kukatakan: “Tauhid maknanya Allah berhasrat sebagai yang Satu,’
‘Kehendak’ Ilahi adalah sifatnya Zat, sedangkan hasrat adalah makhluk.
12.
Jika kukatakan: “Allah adalah Tauhidnya Zat
yang dinyatakan pada dirinya sendiri,”
maka aku membuat Zat bertauhid, yang bisa menjadi pergunjingan kita.
13.
Jika kukatakan: “Tidak, ’ia’ (Tauhid) bukan Zat,”
lalu dapatkah aku menyatakan bahwa Tauhid adalah makhluk?
14.
Jika kukatakan: “Nama dan obyek yang dinamai itu Satu,”
maka apakah pengertian (nama) yang dikandung Tauhid?
15.
Jika kukatakan:” Allah adalah Allah,
maka adakah aku mengatakan bahwa Allah adalah zatnya-Zat,
dan ‘ia’ (Tauhid) adalah Dia?
16.
Inilah “Tha-Sin” yang membicarakan tentang penyangkalan
atas alasan-alasan sekunder, dan inilah lingkaran-lingkarannya,
dengan ‘La’ ( ﻻ) yang tertulis di sini sebagai sosoknya:
17.
Lingkaran pertama adalah pra-Kelanggengan,
yang kedua Keterangjelasannya, yang ketiga Dimensinya,
dan yang keempat Berpengetahuannya.
18.
Adapun Zat bukannya tanpa sifat.
19.
Sang penempuh (lingkaran) pertama
membuka Gerbang Pengetahuan, dan tidak bertemu.
Yang kedua membuka Gerbang Penyucian, dan tidak bertemu.
Yang ketiga membuka Gerbang Pemahaman, dan tidak bertemu.
Yang keempat membuka Gerbang Pemaknaan, dan tidak bertemu.
Tidak seorang pun ‘ketemu’ Allah dalam Zat-nya
atau dalam Kehendak-Nya, tidak dalam pembicaraan,
apalagi dalam Dia-nya ‘Dia’ Sejati.
20.
Maha Besar Allah, yang Maha Suci, yang dengan kesucian-Nya
tidaklah Dia terjangkau oleh segenap cara (thariqah) sang arif,
apalagi oleh segenap intuisi orang kebatinan.
21.
Inilah “Tha-Sin” tentang Nafi’-Itsbat (Penyangkalan dan Penegasan)
dan inilah penjabarannya:
د ل و ۱۸۲ ۹ ![]() | |||
ﻻﻻﻻ
22.
Rumus pertama membicarakan pikiran orang kebanyakan (‘amm),
yang kedua pemikiran orang terpilih (khasysy).
Dan, lingkaran yang menggambarkan ‘Ilmu Allah ada di antara keduanya.
Adapun ‘La’ (ﻻ) yang tertutup lingkaran
adalah penyangkalan atas segenap dimensi.
Dua ‘ha’-nya (ﺡ) adalah perangkatnya,
seperti pilar dua sisinya Tauhid, yang menopangnya ke atas.
Di luar itu berawal ketergantungan (makhluk).
23.
Pikiran orang kebanyakan tercebur ke samudera khayal,
dan pemikiran orang terpilih (tercebur) ke samudera kearifan.
Tetapi, dua samudera itu akan mongering,
dan jalan yang mereka tandai akan terhapus.
Pikiran dan pemikiran itu akan lenyap,
dua pilarnya akan runtuh, dua alam maujudnya akan hancur,
juga pembuktiannya serta pengetahuannya akan musnah.
24.
Sedangkan di hadirat Keilahian Allah, Dia tetap ‘Ada’,
mengatasi sekalian makhluk yang bergantung.
Segenap puji bagi Allah, yang tidak terjangkau oleh alasan sekunder.
Bukti-nya sangat kuat, dan kuasa-Nya sangat agung.
Dia, Tuhan Sang Kemegahan dan Keagungan serta Kemuliaan.
Maha Satu yang ‘Tiada-Terbilang’ dengan kesatuan aritmetis.
Tiada patokan, hitungan, awalan atau akhiran yang menjangkau-Nya.
Wujud-Nya ‘Tiada-Terbayang’ karena Dia bebas dari maujud.
Dia Sendiri saja yang mengetahui Diri-Nya,
Penguasa Keluasan dan Keluhuran (QS. 55: 27),
Pencipta (Al-Khaliq) ruh dan jasad. []
THA-SIN:
KESADARAN TAUHID
1.
Adapun perlambang “Tha-Sin: Kesadaran-Diri dalam Tauhid”
adalah demikian ini:
[‘Alif’ ( ﺍ ) panjang – Penyatuan; Tauhid.
‘Hamzah’ ( ﺀ) – kesadaran-diri,
beberapa di satu sisi dan beberapa lagi di sisi lainnya.
‘Ain’ ( ﻉ) di awal dan akhir – Zat.]
Kesadaran-diri itu berproses dari-Nya,
kembali pada-Nya, dan beredar di dalam-Nya.
Kendati demikian, secara nalar semuanya tidak penting (bagi-Nya).
2.
Subyek sejatinya Tauhid berbolak-balik melintasi keragaman subyek,
sebab Dia tidak tercakup dalam subyek atau dalam obyek
ataupun dalam kata-ganti lainnya.
Akhiran kata-bendanya juga tidak terliput pada Obyeknya.
Kata-kepunyaan ‘ha’-nya ( ﺡ) adalah milik ‘A-ha’-nya ( ﺡﺍ),
dan bukan ‘Ha’ ( ﻫ) lain, yang tidak membuat kita bertauhid.
3.
Bila kukatakan tentang ‘Ha’ ( ﻫ) ini ‘Wa-Ha’ (ﻮﻫ),
yang lainnya akan berseru padaku, “Astaga!”
4.
Itulah julukan, sebutan dan kiasan demonstratif
yang menembus (Tauhid) ini,
sehingga kita dapat ‘melihat’ Allah melalui keadaan (hal) senyatanya.
5.
Segenap pribadi insan “seperti sebuah bangunan tersusun rapi”.
Inilah ketentuannya, dan Penyatuan Allah (Tauhid)
tidak terkecuali bagi ketentuan ini.
Kendati demikian, setiap ketentuan adalah batasan,
dan sifat batasan hanya berlaku bagi obyek-terbatas.
Sebaliknya, obyek Tauhid tidak mengakui pembatasan tersebut.
6.
Kebenaran [al-Haqq] itu sendiri tidak lain dari singgasana Allah,
bukannya Zat Allah.
7.
Dikatakan, Tauhid tidak mencapai (Kebenaran) itu,
karena peran kebahasaan dari suatu istilah dan pengertiannya yang pas,
tidak berpadu satu sama lain, ketika menyangkut sebuah imbuhan.
Kalau begitu, bagaimana dapat semua berpadu, ketika menyangkut Allah?
8.
Kalau kukatakan: “Tauhid terpancar dari-Nya,”
maka aku menggandakan Zat Ilahi,
dan membuat pancaran dari Dirinya sendiri, ada bersama dengan-Nya,
‘ada’ ataupun ‘tiada’ Zatnya secara bersamaan.
9.
Andai kukatakan bahwa ‘ada’-nya tersembunyi ‘di dalam’ Allah,
dan Dia mengejawantahkannya.
Bagaimana itu tersembunyinya,
sedangkan di (Allah) sana tidak ada ‘bagaimana’ atau ‘apa’ ataupun ‘ini-itu’,
dan di sana juga tidak ada tempat [‘di mana’] yang memuat Dia.
10.
Sebab, ‘di dalam ini-itu’ adalah ciptaan Allah,
sebagaimana adanya ‘di mana’.
11.
Adapun yang mendukung suatu aksi (aksiden) bukannya tanpa substansi.
Dan, yang tidak terpisahkan dari jasad bukannya tanpa unsur jasad.
Juga yang tidak terpisahkan dari ruh bukannya tanpa unsur ruh.
Karena itu, Tauhid merupakan sebuah perpaduan (spiritual).
12.
Kita kembali dulu, di luar semua itu, ke pokok masalah [Obyek kita]
dan memisahkannya dari kalimat tambahan,
pemaduan, penghitungan, peleburan dan penyifatan.
13.
Lingkaran pertama [pada diagram berikutnya] terdiri atas tindakan Allah,
yang kedua terdiri atas tiruannya (tindakan).
Dan, inilah dua lingkaran (makhluk) ciptaan.
14.
Sedangkan (lingkaran) titik-pusat melambangkan Tauhid,
tetapi bukan (sebenarnya) Tauhid.
Kalau tidak, bagaimana mungkin itu terpisahkan dari lingkaran? []
Langganan:
Postingan (Atom)
