Sabtu, 30 April 2011

WILAYAH (KEWALIAN)...



Allah SWT berfirman:
"Ingatlah, sungguh para wali Allah itu tak ada ketakutan atas mereka, dan tak (pula) ada kesedihan..."
(Yunus, 62)

Dan, Sayyidah 'Aisyah ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Allah SWT berfirman, 'Siapa yang menyakiti wali-Ku, artinya memaklumkan perang kepada-Ku.'
Seorang hamba senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan kewajiban yang Ku-fardhukan kepadanya. Dan, terus-menerus ia mendekat kepada-Ku dengan amalan sunah, hingga Aku mencintainya...
Dan, Aku tak pernah ragu melakukan sesuatu seperti keraguan-Ku mencabut nyawa hamba-Ku yang Mu'min, karena ia belum mau mati, sedangkan Aku tak ingin menyakitinya -- tapi (sungguh) maut itu adalah hal yang tak terhindari oleh siapa pun..."
(HR. Tirmidzi, Ahmad dan Al-Hakim...)

Alkisah...
Abu Yazid Al-Busthamy sedang dalam perjalanan (suluk). Ia mendengar, di suatu kota ada seseorang yang terkenal sebagai wali, dengan segala kekeramatannya. Maka, pergilah ia ke kota tersebut, dan -- begitu sampai -- ia berusaha menunggu di pelataran masjid depan rumah sang wali. Tak lama kemudian, ia lihat orang itu tampak keluar rumah, lalu meludah di masjid dan menghadap kiblat pula. Melihat demikian, Abu Yazid langsung pergi tanpa memberi salam...
Katanya, "Orang ini tak dapat dipercaya untuk menjaga adab yang benar, seperti yang ditegaskan Kitabullah dan dicontohkan Rasulullah saw. Maka, bagaimana mungkin ia dapat dipercaya untuk menjaga rahasia-rahasia Allah?" []

(: Wallahua'lam...)

Jumat, 29 April 2011

"AKU SESUAI SANGKAAN HAMBA-KU..."



ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"AKU sesuai sangkaan hamba-KU tentang AKU,
dan AKU bersamanya ketika ia mengingat-KU...

Kalau ia mengingat-KU dalam dirinya,
AKU mengingatnya dalam diri-KU...

Kalau ia mengingat-KU dalam suatu majlis,
AKU mengingatnya dalam majlis yang lebih baik...

Kalau ia mendekati-KU sejengkal,
AKU mendekatinya sehasta...

Kalau ia mendekati-KU sehasta,
AKU mendekatinya sedepa...

Kalau ia mendatangi-KU berjalan kaki,
AKU mendekatinya berlari-lari..." []


(: dari "MISYKATUL-ANWAR" 101 Hadits Qudsi kumpulan Syeh Ibnu Arabi...)

Kamis, 28 April 2011

TOBAT...


Anas bin Malik ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Seseorang, apabila ia tobat dari dosa, maka ia seperti yang tidak punya dosa. Dan, apabila Allah SWT mencintai seorang hamba-Nya, niscaya ia tidak dilekati oleh dosa..."
(HR. Tirmidzi, Al-Hakim dan Ibnu Majah)
Kemudian, Rasulullah saw menyitir Al-Qur'an:
"... INNAL-LAHA YUHIBBUT-TAWWABINA WA YUHIBBUL-MUTATHAHHIRIN... sungguh, Allah mencintai orang yang tobat, dan mencintai orang yang menyucikan diri."
(Al-Baqarah, 2: 222)
Tatkala sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah tandanya tobat?"
Rasulullah saw menjawab, "Menyesal atas dosanya..."
(HR. Bukhari dan Ahmad)

Dan, Anas bin Malik ra pun meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Tidak ada yang lebih dicintai Allah SWT ketimbang anak muda yang tobat..."
(HR. As-Suyuthi)
***

Rabu, 27 April 2011

CINTA (MAHABBAH) LAGI...




Rasulullah saw bersabda:
"Seseorang akan dibangkitkan bersama apa yang dicintainya..."
(HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Rasulullah saw pun bersabda:
"Manakala Allah swt mencintai seorang hamba-Nya, Dia akan berfirman kepada Jibril, "Hai Jibril, Aku mencintai si Anu, maka cintailah ia!" Jibril pun mencintai si Anu, lalu dia berseru kepada para penghuni langit, "Hai para penghuni langit, Allah swt mencintai si Anu, maka hendaklah kalian pun mencintainya!" Dan, para penghuni langit lalu mencintai si Anu, bahkan ia juga diterima oleh makhluk-makhluk di muka bumi..."
(HR. Muslim dan Tirmidzi, dari Abu Hurairah ra)

Dan, Syeh Abu Ali Ad-Daqqaq memberi penjelasan atas hadits Rasulullah saw, bahwa, "Cintamu terhadap sesuatu, niscaya membuatmu buta dan tuli..."
(HR. Abu Dawud, dari Anas bin Malik ra)
Komentar Syeh, "Cinta itu membutakan dan menulikan seseorang terhadap sesuatu adalah karena 'cemburu', sedangkan terhadap Sang Kekasih adalah karena 'kharisma' (takjub)..."
Lalu, beliau ber-syair:
Bila Kebesaran-Nya tak nampak padaku
aku niscaya terusir dalam kondisi yang sama
dengan mereka yang belum pernah menghasratkan cinta... [] 

(: Hasbiyallah...)

THASIN: PENCAPAIAN HAKIKAT...

[: Bab Kedua kitab"THAWASIN" karya Husain bin Manshur Al-Hallaj]



1.
Pemahaman tentang alam-makhluk tidak terkait dengan hakikat,
dan hakikat tidak juga terkait dengan alam-makhluk.
Pemikiran [yang asal-terima] adalah taqlid,
dan taqlid-nya alam-makhluk tidak ada keterkaitannya dengan hakikat.
Pengertian tentang hakikat itu sulit dicapai,
makanya betapa lebih sulit lagi
mencapai pengertian tentang hakikatnya-Hakikat (Allah).
Apalagi, Allah itu di luar hakikat,
dan hakikat tidak dengan sendirinya menyatakan 'ada'-Nya Allah.

2.
Sang laron terbang di sekeliling nyala api hingga terbit fajar.
Lalu, ia kembali ke teman-temannya,
dan menceritakan keadaan (hal) spiritualnya
dengan ungkapan yang penuh kesan.
Ia berpadu (hulul) dengan geliatnya nyala api
dalam hasratnya untuk mencapai Penyatuan (Tawhid) yang sempurna.

3.
Cahayanya nyala api adalah Pengetahuan ('llm) hakikat,
panasnya adalah Kenyataan ('Ayn) hakikat,
dan Penyatuan dengannya adalah Kebenaran (Haqq) hakikat.

4.
Ia merasa tidak puas dengan cahayanya ataupun dengan panasnya,
sehingga ia melompat ke dalam nyala api langsung.
Sementara itu, teman-temannya menantikan kedatangannya,
supaya ia menceritakan kepada mereka tentang 'penglihatan' aktualnya,
karena ia merasa tidak puas dengan kabar angin saja.
Tetapi, ketika itu ia tengah tuntas sirna (fana'),
musnah dan buyar ke dalam serpihan-serpihan,
yang tersisa tanpa wujud, tanpa jasad ataupun tanda pengenal.
Jadi, dalam peringkat (maqam) apa ia dapat kembali ke teman-temannya?
Dan, keadaan (hal) spiritual apa yang tengah dicapainya sekarang?
Ia yang sampai pada pandangan (bashirah) batin
niscaya sanggup terlepas dari pekabaran saja.
Juga ia yang sampai pada inti pandangan batin
tidak lebih prihatin tentang pandangan batinnya.

5.
Pemaknaan (masalah) ini tidak menyangkut manusia yang alpa,
tidak juga manusia yang maya, atau manusia yang penuh dosa,
ataupun manusia yang menuruti hawa-nafsunya semata.

6.
Wahai kau yang ragu-ragu!
Jangan persamakan 'aku' (insani) dengan 'Aku' Ilahi -- janganlah sekarang,
janganlah di masa depan nanti, janganlah pula di masa lampau dulu.
Bahkan, kendatipun 'aku' itu merupakan pencapaian seorang 'Arif,
kendatipun ini merupakan keadaan (hal) spiritual,
namun itu bukanlah kesempurnaan.
Kendatipun 'aku' adalah milik-Nya, namun 'aku' bukanlah Dia.

7
Bila kau memahami ini, maka pahamilah juga
bahwa pemaknaan (masalah) itu bukanlah kebenaran bagi siapa pun
kecuali (bagi) Muhammad (shalallahu 'alaihi wasallam),
dan "Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang kerabatmu" (Q. 33: 40)
tapi Rasulullah (Utusan Allah) dan penutup para nabi (khatam an-nabiyyin).
Ia mem-fana'-kan dirinya dari manusia dan jin,
serta memejamkan matanya ke (arah) 'mana' pun,
hingga tidak lagi tersisa kepalsuan hati ataupun kemunafikan.

8.
Ada suatu "jarak sepanjang dua busur" lebarnya (Q. 53: 9),
atau lebih dekat lagi, saat ia mencapai gurun Pengetahuan hakikat,
dan "ia beritahukan hal itu dari hati-lahirnya (fu'ad)" (Q. 53: 10).
Ketika sampai pada Kebenaran hakikat, ia menanggalkan hasratnya di situ,
dan mempersembahkan dirinya naik ke Hadirat Sang Pengasih.
Setelah mencapai Kebenaran (Allah), ia pun kembali sambil berkata:
"Hati-batinku bersujud kepada-Mu, dan hati-lahirku beriman kepada-Mu."
Ketika mencapai Pohon-Batas Penghabisan, ia berkata:
"Aku tidak dapat memuji-Mu sebagaimana mestinya Engkau dipuji."
Dan, ketika mencapai Kenyataan hakikat, ia berkata:
"Hanya Engkau Sendiri yang dapat memuji Diri-Mu."

Ia menanggalkan lagi hasratnya, dan menuruti panggilan tugasnya,
"hatinya tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya" (Q. 53:11)
di maqam dekat Pohon-Batas-Terjauh (Sidrat al-Muntaha). (Q. 53:14)
Ia tidak berpaling ke kanan, ke arah hakikat sesuatu,
tidak juga ke kiri, ke arah Kenyataan hakikat.
"Matanya tidak celingukan, tidak juga jelalatan..." (Q. 53: 17) []

Senin, 25 April 2011

RINDU BERJUMPA ALLAH...



Syeh Abdullah ibnu Mubarak, diriwayatkan, suatu ketika kedatangan sahabatnya, Ahmad bin Hamid Al-Aswad. Katanya, "Sahabatku, aku memimpikanmu meninggal setahun lagi. Mungkin itu pertanda, sahabatku, bahwa kau harus siap-siap untuk keluar dari dunia ini."
Jawab Syeh Abdullah ibnu Mubarak, "Kau memberiku waktu yang terlalu lama, sahabatku, sampai aku harus hidup setahun lagi. Padahal, aku menyukai syair yang kudengar dari Abu Ali Ats-Tsaqafi:
"Hai jiwa yang tercekam rindu
karena perpisahan yang panjang ini
bersabarlah,
siapa tahu esok
kau berjumpa dengan Sang Kekasih..."

Dalam hal ini, Allah swt berfirman:
"Siapa yang merindukan untuk berjumpa (liqa') dengan Allah, maka sesungguhnya saat yang dijanjikan Allah itu (pasti) segera datang. Dan, Dia Maha Mendengar lagi Maha Tahu..."
(Al-Ankabut, 5)

Dan, Syeh Abu Ali Ad-Daqqaq menjelaskan hadits Rasulullah saw tentang 'rindu' ini, "Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, berilah aku rindu untuk selalu berjumpa dengan-Mu..."
Komentar Syeh: "Rindu itu ada seratus bagian. Rasulullah saw memperoleh 99 bagian, sedangkan yang satu bagian lagi Allah bagi-bagikan di antara umat manusia..."

(Wallahua'lam...)

Minggu, 24 April 2011

THASIN: PELITA NUBUWAH


(: Inilah Bab Pertama kitab “THAWASIN” Husain bin Manshur Al-Hallaj, 
yang didedikasikannya sebagai 'Pemujaan Agung' kepada Rasulullah Muhammad saw...)


               
1
Sang Pelita (As-Siraj) tampak dan tercerah dari Cahaya Kegaiban,
ia terpancar dan (tampak) kembali, dan melampaui pelita-pelita lain.
Ia rembulan yang cerlang, yang menampakkan kecemerlangannya
lebih dari bulan-bulan lain.
Ia bintang yang graha perbintangannya di Langit ‘Azaly.
Allah menyebutnya ‘ummi (awam) atas dasar keterpusatan aspirasinya,
juga harami (suci) disebabkan kelimpahan syafa’atnya,
dan makki (pusat) karena kedekatannya di Hadirat-Nya.

2
Dia (Allah) lapangkan dadanya, Dia tingkatkan kekuatannya, dan
mengangkatnya dari beban “yang memberati punggungnya” (Q. 94: 2-3)
serta Dia tetapkan kewenangannya.
Sebagaimana Allah membuat ‘Badr’-nya terpancar,
demikianlah purnamanya muncul dari awan Yamamah,
mentarinya terbit di bukit Tihamah [Makkah],
dan pelitanya bersinar gemerlap dari sumur Karamah (Zamzam).

3
Ia tidak menyampaikan sesuatu
kecuali yang menyangkut pandangan (bashirah) batinnya,
dan tidak mewajibkan diikuti keteladanannya
kecuali yang menyangkut kebenaran Sunnah-nya.
Ia berada di Hadirat Allah, dan ia mengajukan yang lain ke Hadirat-Nya.
Ia telah ‘melihat’ (Kebenaran), lalu ia sampaikan apa yang dilihatnya.
Ia telah diutus sebagai sang Pemberi Tunjuk,
maka ia menggariskan batas (halal-haram) perilaku.

4
Tidak seorang pun mampu mengungkapkan kebenaran maknanya
kecuali sang Tulus Hati (Al-Amin) ini.
Karena ia menegaskan ke-syahid-annya, serta mengiringkannya,
maka tiada lagi tersisa perbedaan di antara kaumnya.

5
Tiada seorang arif (‘irfan) pun yang merasa ‘kenal’ padanya,
yang tidak keliru mengenali kebenaran kualitasnya.
Kualitasnya hanya jelas kepada seseorang yang Allah bimbing
untuk menyingkap (kasyf) tabirnya,
“Yaitu yang telah Kami berikan kepadanya Kitab,
mereka mengenalinya seperti mengenali anak-anaknya.
Namun, sebagian mereka menyembunyikan kebenarannya,
padahal mereka mengetahui.” [Q. 2: 146]

6
Segenap cahaya nubuwah berasal dari cahayanya,
dan cahayanya tercerahkan dari Cahaya yang Gaib.
Di antara cahaya-cahaya itu tidak ada yang lebih gemerlap,
lebih nyata atau lebih mutlak dari cahayanya
sang Junjungan Semesta Rahmat ini.

7
Aspirasi (himmah)-nya mendahului segenap aspirasi lain,
adanya mendahului ‘Tiada’ (‘Adam),
namanya mendahului ‘Pena’ (Qalam),
sebab keberadaannya terdahulu ada sebelum apa pun.

Tidak pernah ada di atas semesta atau di luar semesta,
tidak juga di balik semesta, sesuatu yang lebih indah, lebih agung,
lebih bijak, lebih adil, lebih kasih, lebih taat atau lebih takwa,
yang lebih dari sang Tokoh Utama ini.

Gelarnya adalah sang Junjungan Makhluk,
namanya adalah Ahmad, dan harkatnya adalah Muhammad.
Perintahnya penuh kepastian, hikmahnya penuh kebaikan,
sifatnya penuh kemuliaan, dan aspirasinya penuh keunikan.

8
Maha Kesucian Allah!
Adakah yang lebih nyata, lebih tampak, lebih agung, lebih masyhur,
lebih kemilau, lebih perkasa ataupun cendekia, yang lebih darinya?
Ia – sungguh – telah dikenal sebelum penciptaan sesuatu,
yang ada, juga semesta.
Ia senantiasa diingat sebelum adanya ‘sebelum’
dan setelah adanya ‘setelah’,
juga sebelum ada substansi dan kualitas.
Substansinya adalah cahaya semata, ucapannya adalah nubuwah,
hikmahnya adalah wahyu, gaya bahasanya adalah Arab,
kesukuannya adalah “tiada Timur dan tiada Barat” [Q. 24: 35],
silsilahnya adalah garis kebapakan, misinya adalah damai,
dan sebutannya adalah ‘ummi (awam).

9
Segenap mata terbuka dengan isyaratnya,
segenap rahasia dan segenap jiwa terasa dengan kehadirannya yang ada.
Adalah Allah yang membuatnya fasih melafalkan rangkaian Firman-Nya,
dan menjadi Bukti (Al-Hujjah) yang meneguhkannya.
Juga Allah yang mengutusnya, dan ia adalah Bukti – senyatanya Bukti.
Adalah ia yang memuaskan dahaga hati pedamba yang kehausan,
yang tidak tersentuh apa pun, tidak terkatakan lidah,
tidak juga terekayasa, yang ‘menyatu’ dengan Allah tanpa terpisahkan,
bahkan jauh di luar jangkauan pikiran.
Pokoknya ia yang mengabarkan adanya akhir,
dan akhirnya akhir, serta akhir-akhirnya akhir.

10
Ia singkapkan awan, dan menunjuk ke Rumah Suci (Bayt al-Haram).
Ia adalah ‘pembeda’, bahkan ia adalah panglima perang.
Adalah ia yang diperintah untuk meluluhlantakkan berhala-berhala,
juga ia yang diutus kepada ummat manusia untuk membasmi pemujaan.

11
Di atasnya awan bergemuruh menyambarkan kilat,
dan di bawahnya kilat menyambar gemuruh, berkilatan,
mencurahkan hujan, serta menyuburkan.
Segenap pengetahuan hanyalah setetes dari samuderanya,
segenap kearifan hanyalah secauk dari bengawannya,
dan segenap waktu hanyalah sesaat dari masanya.

12
Allah (‘ada’) bersamanya, dan bersamanya adalah hakikat.
Ia yang pertama dalam kesatuan (penciptaan)
dan terakhir yang diutus sebagai Rasul,
yang hakikatnya bersifat batin, dan ma’rifatnya bersifat lahir.

13
Tiada seorang pakar pun yang pernah mencapai hikmahnya,
bahkan para filsuf niscaya tersadar atas kearifannya.

14
Allah tidak menyerahkan [hakikat-Nya] itu kepada makhluk-Nya,
sebab ia adalah ‘ia’, dan ia adanya bersama Dia,
sedangkan Dia adalah ‘Dia’.

15
Tidak ada apa pun yang keluar dari ‘Mim’ (م )-nya Muhammad (محمد ),
dan tidak ada yang masuk ke ‘Ha’ ( ح)-nya.
Adapun ‘Ha’ ( ح)-nya sebagaimana ‘Mim’ (م )-nya yang kedua,
sedangkan ’Dal’ (د  )-nya seperti ‘Mim’ (م )-nya yang pertama.
‘Mim’ (م )-nya yang pertama adalah peringkat (maqam)-nya,
serta ‘Ha’ ( ح)-nya adalah keadaan (hal) spritualnya,
sebagaimana ‘Mim’ (م )-nya yang kedua.

16
Allah membuat bicaranya jelas, menambah nilainya,
dan membuat bukti (hujjah)-nya dikenal.
Dia menurunkan wahyu Pembeda [Al-Furqan] kepadanya.
Dia membuat lidahnya fasih, dan Dia membuat hatinya terang.
Dia membuat ummat sezamannya tidak mampu [memalsu Al-Qur’an].
Dia pun mengakui kejelasannya, dan memuji kemuliaannya.

17
Andaikan kau melarikan diri dari kewenangan syari’at-nya,
adakah jalan (lain) yang dapat kau tempuh,
tanpa adanya pembimbing, hai orang yang malang?
Ketahuilah, segenap fatwa para filsuf berantakan,
seperti gundukan pasir, dibandingkan hikmahnya. []

__________________________________________________

Diterjemahkan oleh AM Santrie
dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut
dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana
THASIN:
KE-BAQA'-AN MASA...

(: Inilah Bab Keenam kitab "THAWASIN" Husain bin Manshur Al-Hallaj)



           [: Untuk ia yang 'arif,
           dalam ke'arifannya-ke'arif
           saat berhubungan dengan wacana publik
           tentang apa yang logis dalam memperhatikan tujuan...]


1.
Sang Faqir, Abu Mughits (Al-Hallaj),
semoga Allah merahmatinya, berkata:
"Tidak ada misi yang tangguh kecuali yang diemban Iblis dan Muhammad,
shalawat dan salam atasnya.
Hanya, Iblis terjatuh dari Zat, dan Muhammad merasakan Zatnya-Zat."

2.
Telah dikatakan kepada Iblis: "Sujudlah!" (QS. 2: 34)
dan kepada Muhammad: "Tengoklah!" (QS. 53: 13)
Namun, Iblis tidak bersujud, dan Muhammad pun tidak menengok.
Ia tidak berpaling ke kanan atau ke kiri,
"Matanya tidak celingukan, tidak juga jelalatan." (QS. 53: 17)

3.
Sementara Iblis, setelah menyatakan misinya,
ia tidak kembali ke kemampuan awalnya.

4.
Sedangkan Muhammad, ketika menyatakan misinya,
ia kembali ke kemampuannya.

5.
Dengan pernyataan ini: "Bersama Engkau semata aku merasa bahagia,
dan kepada Engkau semata aku mengabdikan diriku."
Dan: "Wahai Engkau yang membolak-balik hati."
Serta: "Aku tidak tahu bagaimana memuji-Mu
sebagaimana mestinya Engkau dipuji."

6.
Di antara penghuni surga
tidak ada pemuja sekaligus peng-Esa (Tawhid) yang seperti Iblis.

7.
Karena Iblis 'di situ' telah 'melihat' penampakan Zat Ilahi.
Ia pun tercegah bahkan dari mengedipkan mata kesadarannya,
dan mulailah ia memuja Sang Esa Pujaan dalam pengasingan khusyuknya.

8.
Ia dikutuk ketika menjangkau pengasingan ganda,
dan ia didakwa ketika menuntut kesendirian (Allah) mutlak.

9.
Allah berfirman kepadanya: "Sujudlah (kepada Adam as)!"
Ia menjawab: "Tidak, kepada yang selain Engkau."
Dia berfirman lagi kepadanya: "Bahkan, apabila kutuk-Ku jatuh menimpamu?"
Ia menjawab lagi: "Itu tidak akan mengazabku!"

10.
"Pengingkaranku adalah untuk menegaskan Kesucian-Mu,
dan alasanku (ingkar) niscaya melanggar bagi-Mu.
Tetapi, apalah Adam dibandingkan dengan-Mu,
dan siapalah aku -- Iblis, hingga dibedakan dari-Mu!"

11.
Ia jatuh ke Samudera Keluasan, ia menjadi 'kere', dan berkata:
"Tidak ada jalan bagiku ke yang lain dari-Mu. Aku pecinta yang 'buta'!"
Dia berfirman kepadanya: "Kau telah takabur!"
Ia menjawab: "Apabila ada satu saja kilasan pandang di antara kita,
itu cukup membuatku sombong dan takabur.
Kendati begitu, aku adalah 'ia' yang mengenal-Mu
sejak ke-baqa'-an masa Terdahulu,
dan "aku lebih baik daripadanya" (QS. 7: 12),
sebab aku lebih lama mengabdi kepada-Mu.
Tidak ada satu pun, di antara dua jenis makhluk (Adam dan Iblis) ini,
yang mengenal-Mu secara lebih baik daripadaku!"

"Ada Kehendak-Mu bersamaku, dan ada kehendakku bersama-Mu,
sedangkan keduanya mendahului Adam.
Apabila aku bersujud kepada yang selain Engkau, ataupun tidak bersujud,
niscaya harus bagiku untuk kembali ke asalku.
Karena Engkau menciptakan aku dari api, dan api kembali ke 'api',
menuruti keseimbangan (sunnah) dan pilihan yang adanya milik-Mu."

12.
"Tidak ada jarak dari-Mu padaku,
karena aku yakin bahwa jarak dan kedekatan itu 'satu'!"

"Bagiku, apabila aku dibiarkan, pengabaian-Mu justru menjadi mitraku.
Jadi, seberapa pun jauhnya lagi, pengabaian dan cinta tetap 'menyatu'!"

"Terpujilah Engkau, dalam taufiq-Mu dan Zat-Mu yang tiada terjangkau,
bagi sang pemuja setia ini, yang tiada bersujud ke yang selain Engkau!"

13.
Musa (as) bertemu Iblis di lereng Bukit Sinai, dan bertanya kepadanya:
"Hai Iblis, apa yang mencegahmu dari bersujud?"
Ia (Iblis) menjawab: "Yang mencegahku adalah pernyataan ikrarku
mengenai Sang Pujaan yang Unik.
Dan, jika aku bersujud, aku akan menjadi sepertimu.
Karena kau hanya perlu dipanggil sekali,
"Tengoklah ke gunung," kau langsung menengok.
Sementara aku, aku telah dipanggil ribuan kali
untuk menyujudkan diriku kepada Adam, aku tidak bersujud,
karena aku bersiteguh dengan 'Tujuan' Ikrarku."

14.
Musa (as) bertanya: "Kau membangkangi perintah?"
Iblis pun menjawab: "Itu sebuah ujian, bukannya perintah."
Musa bertanya lagi: "Tanpa dosa? Kendati wajahmu berubah begitu?"
Iblis menyahut: "Hai Musa, keadaanku ini sekadar kemenduaan
dari penampilan-lahir, sementara keadaan (hal) spiritualku
tidak bergantung atasnya, bahkan tidak berubah.
Ma'rifat tetaplah benar sebagaimana pada awalnya,
dan itu tidak berubah kendatipun pribadinya berubah."

15.
Musa (as) bertanya: "Adakah kau mengingat-Nya (zikir) sekarang?"
"Hai Musa, pikiran yang murni tidak membutuhkan daya-ingat,
-- dengan itu aku mengingat (Dia) dan Dia mengingat (aku).
Ingatan-Nya adalah ingatanku, dan ingatanku adalah ingatan-Nya.
Bagaimana mungkin, ketika kami saling mengingat,
kami berdua berlainan satu sama lain?"

"Pengabdianku sekarang lebih murni, waktuku lebih lapang,
ingatanku lebih agung, sebab aku mengabdi kepada-Nya
secara mutlak demi keberuntunganku,
bahkan sekarang aku mengabdi kepada-Nya demi Diri-Nya."

16.
"Aku mencabut keserakahan dari segenap apa pun yang mencegahku
atau menahanku, baik demi kerugian ataupun keuntungan.
Dia mengasingkanku, membuatku mabuk-kepayang, melinglungkanku,
mengeluarkanku, sehingga aku tidak dapat berpadu dengan para ruh suci.
Dia menjauhkanku dari yang lain,
sebab kecemburuanku (kepada-Nya) supaya Dia Sendiri saja.
Dia mengubahku, sebab Dia mengagumiku.
Dia mengagumiku, sebab Dia membuangku.
Dia membuangku, sebab aku pengabdi.
Dan, menempatkanku dalam ahwal terlarang disebabkan kemitraanku.
Dia mempertunjukkan kekurangan nilaiku
disebabkan aku memuji Keagungan-Nya.
Dia menyederhanakanku dengan sehelai kain ihram
disebabkan kehajianku [hijya].
Dia membiarkanku disebabkan 'penemuan'-ku atas-Nya dalam zikir.
Dia menyingkapkan (kasyf) hijabku disebabkaan penyatuanku.
Dia mempenyatukanku disebabkan Dia memencilkanku.
Dan, Dia memencilkanku disebabkan Dia mencegah hasratku."

17.
"Dengan Kebenaran-Nya, maka aku tidak salah
dalam memperhatikan titah-Nya, bukannya aku menolak takdir.
Aku tidak peduli sama sekali tentang perubahan wajahku.
Aku hanya menjaga keseimbanganku (sunnah) melalui hukuman ini."

18.
"Kendatipun Dia mengazabku dengan api-Nya sepanjang masa,
aku tetap tidak akan bersujud kepada sesuatu (selain-Nya).
Aku tidak akan merundukkan diriku kepada pribadi atau jasad (Adam as),
sebab aku tidak mengaku berlawanan dengan-Nya!
Ikrarku khusyuk, dan aku memang seorang yang khusyuk dalam 'cinta'!"

19.
Al-Hallaj berkata:
"Ada beragam teori yang berkenaan dengan keadaan (hal)
spiritualnya 'Azazyl (عزازيل) [sebutan Iblis sebelum kejatuhannya].
Seseorang mengatakan bahwa ia ditugaskan dengan misi di surga,
serta dengan suatu misi (lainnya) di bumi.
Di surga ia berkhutbah kepada malaikat,
menunjukinya tentang amalan yang baik.
Dan, di bumi ia berkhutbah kepada manusia dan jin,
menunjukinya tentang perbuatan yang jahat."

20.
"Sebab, seseorang tidak akan mengenali sesuatu
kecuali dengan (mengenali) yang sebaliknya.
Sebagaimana dengan sutera putih halus, yang hanya dapat ditenun
dengan menggunakan lakan hitam di belakangnya
-- makanya, malaikat mempertunjukkan amalan baiknya,
dan berkata simbolis, "Jika kau beramal, kau akan mandapat pahala."
Namun, ia yang tidak mengenal kejahatan sebelumnya,
niscaya tidak dapat mengenali kebaikan."

21.
Sang Faqir, Abu Umar Al-Hallaj, berkata:
"Aku bersoal dengan Iblis dan Fir'aun tentang kehormatan Sang Pemurah."
Kata Iblis: "Jika aku bersujud, aku niscaya kehilangan gelar kehormatanku."
Dan, kata Fir'aun: "Jika aku beriman kepada Rasul (Musa as) itu,
aku niscaya terjatuh dari harkat kehormatanku."

22.
Al-Hallaj pun berkata:
"Jika aku memungkiri pengajaranku dan pernyataanku,
aku juga niscaya jatuh dari altar kehormatanku."

23.
Tatkala Iblis berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as),"
maka ia tidak melihat sesuatu pun selain dirinya.
Tatkala Fir'aun berkata: "Aku tahu pun tidak
bahwa kau (Musa as) mempunyai Tuhan yang selain aku,"
ia tidak mengetahui bahwa sembarang rakyatnya
dapat membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.

24.
Jadi, aku (Al-Hallaj) berkata:
"Andaipun kau tidak mengenal-Nya, maka kenalilah pertanda-Nya.
Akulah pertanda-Nya [tajally], dan akulah Sang Kebenaran (anal'-Haqq)!
Hal ini disebabkan aku tiada henti menyadari 'ada'-Nya Sang Kebenaran!"

25.
Mitraku adalah Iblis, dan rekanku adalah Fir'aun.
Iblis diancam dengan api dan tidak mencabut pernyataannya.
Fir'aun ditenggelamkan di Laut Merah tanpa mencabut pernyataannya
ataupun mengakui sembarang perantara (rasul).
kendatipun begitu ia berkata: "Aku beriman bahwa tiada Tuhan
kecuali Dia yang diimani oleh Bani Isra'il." (QS. 10: 90)

Dan, bukankah kau melihat
bahwa Allah pun menentang Jibril dalam Keagungan-Nya?
Dia berfirman: "Mengapa kau penuhi mulutmu dengan 'pasir'?"

26.
Jadi, aku (akhirnya) dibunuh, digantung, tangan dan kakiku dipotong,
tanpa aku mencabut pernyataan tegasku!

27.
Istilah Iblis diperoleh dari 'mutasi' nama pertamanya, 'Azazyl (عزازيل).
'Ain'-nya (ع) menunjukkan keluasan ikhtiarnya,
'zay'-nya (ز) adalah bertambah kerapnya kunjungan (kepada-Nya),
'alif'-nya (ا) sebagai jalan hidupnya dalam harkat-Nya,
'zay'-nya (ز) yang kedua keasketisannya dalam derajat-Nya,
'ya'-nya (ي) langkah pengembaraannya ke penderitaannya, dan
'lam'-nya (ل) ketegarannya dalam kesakitannya.

28.
Dia (Allah) berfirman kepadanya: "Kau tidak bersujud, hai yang nista!"
Ia menjawab: "Sebutlah lebih baik -- 'pecinta'!"
Karena pecinta dianggap rendah, maka Engkau menyebutku nista.
Aku telah membaca dalam Kitab yang Nyata,
wahai Sang Kuasa dan Setia, bahwa hal ini akan terjadi padaku.
Jadi, bagaimana mungkin aku menistakan diriku kepada Adam,
padahal Engkau menciptakannya dari tanah, sedangkan aku dari api?
Dua hal yang berlawanan tidak dapat diakurkan.
Dan, aku telah mengabdi-Mu lebih lama,
juga memiliki kebajikan yang lebih luhur, pengetahuan yang lebih luas,
serta aktivitas yang lebih sempurna."

29.
Allah, yang senantiasa terpujilah Dia, berfirman kepadanya:
"Pilihan adalah milik-Ku, bukannya milikmu."
Ia menjawab: "Segenap pilihan, bahkan pilihan diriku, adalah milik-Mu.
Karena Engkau telah terpilih untukku, wahai Sang Khaliq.
Jika Engkau mencegahku dari bersujud kepadaanya (Adam as),
Engkau adalah 'Sebab' pencegahan itu.
Jika aku khilaf berbicara, Engkau tidak membiarkanku,
karena Engkau Sang Maha Mendengar.
Jika Engkau berkehendak aku bersujud kepadanya, aku niscaya taat.
Aku tidak mengetahui seorang pun di antara (makhluk) yang 'Arif,
yang mengenal-Mu secara lebih baik daripada aku."

30.
           Jangan persalahkan aku, ide kecaman jauh dariku,
           anugerahilah aku, wahai Penguasaku, demi aku sendiri.

           Kalaupun dalam hal janji, janji-Mu itu sejatinya Kebenaran prinsip,
           tentunya prinsip ikhtiarku juga kuat.

           Ia yang berhasrat menulis ikrarku ini, atau membacanya,
           akan mengetahui bahwa aku (akhirnya) menjadi seorang Syahid!

31.
Hai saudaraku!
Ia (Iblis) disebut 'Azazyl karena ia dibebastugaskan ('uzyla),
dibebastugaskan dari kesucian purbanya.
Ia tidak kembali dari asalnya ke akhirnya,
sebab ia tidak keluar dari akhirnya.
Ia dibiarkan, dikutuk dari asalnya.

32.
Upayanya untuk keluar pun gagal, disebabkan perasaan iba-dirinya.
Ia mendapatlan dirinya antara api tempat peristirahatannya
dan cahaya posisi ketinggiannya.

33.
Sumber air di darat adalah telaga yang rendah.
Ia (Iblis) terazab kehausan di tempat yang (airnya) berlimpah-ruah.
Ia menangisi kesakitannya, karena api telah membakarnya.
Kekhawatirannya tidak lain hanyalah kepura-puraan,
dan ke-'kere'-annya adalah kesia-siaan -- itulah ia adanya!

34.
Hai saudaraku!
Andaikan kau mengerti, kau telah mempertimbangkan jalan sempit
di kesempitannya yang teramat sangat.
Kau telah menunjukkan khayalan itu kepadamu
dalam kemusykilannya yang teramat sangat.
Dan, kau akan menderita serta penuh kegelisahan.

35.
Kaum shufi yang paling terjaga pun tetap bungkam tentang Iblis,
dan para 'arifin tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan
apa yang telah dipelajarinya (tentang Iblis).
Iblis lebih kuat daripada mereka dalam hal pemujaan,
dan lebih dekat daripada mereka kepada Sang Zat Wujud.
Ia (Iblis) mengerahkan dirinya lebih dan 'lebih' setia pada perjanjian,
serta lebih dekat daripada mereka kepada Sang Pujaan.

36.
Malaikat lain bersujud kepada Adam (as) karena dukungan (Allah),
sedangkan Iblis menolak (bersujud)
karena ia telah 'tafakur' sekian lamanya.

37.
Kendati begitu, keadaannya menjadi membingungkan,
dan pikirannya kesasar, sehingga ia berkata:
"Aku lebih baik daripada ia (Adam as)." (QS. 7: 12)
Ia tetap di balik tabir, tidak menghargai 'debu' (asal kejadian Adam as),
dan mengusung kutukan di atas pundaknya
hingga Akhir Ke-'baqa'-an Masanya-Masa Ke-'baqa'-an nanti... []

[: Diterjemah dan disunting dari Edisi Arab dan Edisi Inggris
terjemahan Aisha Abd Ar-Rahman At-Tarjumana,
di-Indonesiakan oleh AM. Santrie...]

Sabtu, 23 April 2011

IMAN, ISLAM, IKHSAN...


Jarir ra meriwayatkan, bahwa suatu ketika Rasulullah saw didatangi malaikat Jibril dalam rupa seorang manusia muda berbaju putih bersih -- layaknya seorang yang datang dari tempat jauh. Kendati begitu, ia tidak menampakkan kelelahan apa pun, justru malah kelihatan segar. Begitu duduk pun, ia langsung berhadapan dan beradu kaki dengan Rasulullah saw.
Tanyanya: "Katakanlah, ya Muhammad, apakah Iman itu?"
Rasulullah saw menjawab, "Iman itu adalah (1) kau ber-iman kepada Allah swt, (2) para malaikat-Nya, (3) kitab-kitab-Nya, (4) rasul-rasul-Nya, (5) hari Akhir, dan (6) kepada taqdir baik ataupun buruk, manis ataupun pahit (itu dari Allah)..."
Ia membalas, "Kau benar!"
Dan Jarir ra berkomentar, "Kami semua heran atas penegasannya itu, padahal ia (malaikat Jibril) yang mula-mula bertanya, tapi ia juga yang membenarkan jawaban Rasulullah saw..."
Kemudian, ia kembali bertanya, "Katakanlah, ya Muhammad, apakah Islam itu?"
Rasulullah saw menjawab, "Islam itu adalah (1) kau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah, (2) kau menegakkan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) berpuasa sebulan di bulan Ramadhan, dan (5) beribadah haji ke Baitullah..."
Ia kembali membalas, "Kau benar!"
Kemudian, ia bertanya lagi, "Katakanlah, ya Muhammad, apakah Ikhsan itu?"
Rasulullah saw menjawab, "Ikhsan itu adalah hendaknya kau menyembah Allah seakan-akan kau melihat-Nya, (tapi) kendatipun kau tidak bisa melihat-Nya, kau sadarilah saja bahwa Dia melihatmu..."
Ia membalas lagi, "Kau benar!" []

(HR. Muslim, Tirmizi, Abu Dawud, dan Nasa'i...)
"AGAR SAMPAI KE MAQAM IBRAHIM..."



Seorang saudagar datang menemui Syeh Junaid Al-Baghdadi. Katanya, “Ya Syeh, saya baru pulang haji..."
Syeh Junaid bertanya, “Sejak kau berangkat haji dengan niat awal perjalanan dari rumahmu, sudahkah kau lari dari semua dosa?”
Jawab saudagar itu, “Belum…”
“Kalau begitu,” sahut Syeh Junaid, “kau belum menempuh jalan, tahap demi tahap... Ketika kau kenakan kain ihram di miqat yang ditentukan, apakah kau buang sifat manusiawimu seperti melepas pangkatmu sehari-hari?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum ihram… Ketika kau wuquf di 'Arafah, apakah kau berdiam diri sejenak dalam musyahadah kepada Allah?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum mencapai 'Arafah… Ketika kau ke Muzdalifah mencapai hasrat kehambaanmu, apakah kau lempar seluruh kehendak ragawimu?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum sampai ke Muzdalifah… Ketika kau berhenti di Mina, apakah semua keinginanmu berhenti?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum ke Mina… Ketika kau lempar Jumrah, apakah kau lempar nafsu inderawi yang menyertaimu?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum lempar Jumrah… Ketika kau ke tempat penyembelihan qurban, apakah kau qurban-kan obyek kecintaan dirimu?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum ber-qurban… Ketika kau thawaf di Baitullah, apakah kau temui Indah-Nya Nonmateri Ilahi di Masjidil-Haram itu?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum menemui Rabb Baitullah… Ketika kau sa’i antara Shafa dan Marwah, apakah kau mencapai kesucian (shafa) dan keluhuran (muruwah)?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum sa’i, apalagi tahalul, dan kau belum benar-benar haji… Ulangi hajimu dengan cara benar, agar kau sampai ke Maqam Ibrahim…!” []

(: disarikan dari "KASYFUL-MAHJUB" Syeh Ibnu Utsman Al-Hujwiri...)

Selasa, 19 April 2011

HAKIKAT 'UBUDIYAH...


Imam Ja'far Ash-Shadiq ra didatangi seorang tua yang ingin berguru kepada cucu-buyut Rasulullah saw itu, dan beliau mula-mula menolaknya. Karena orang tua itu sedemikian "keukeuh", hingga shalat sunat dua raka'at di Raudhah Masjid Nabawi, memohon kiranya Allah melembutkan hati Imam Ja'far untuk menerimanya sebagai murid. Maka, ringkasnya diterimalah orang tua itu sebagai murid Imam Ja'far.
Imam Ja'far berkara kepada si orang tua:
"Hai Abu Abdullah, ilmu itu tidaklah didapat melalui belajar (ta'allum). Karena ilmu itu "Cahaya" yang menerangi hati seseorang yang dikehendaki Allah untuk diberi hidayah. Apabila kau menginginkan ilmu, lebih dahulu carilah dalam dirimu apa hakikat 'ubudiyah. Carilah ilmu dengan kau amalkan. Mohonlah pemahaman dari Allah, agar Allah memberimu pemahaman..."
"Ya Syarif..," si orang tua mengiakan. "Apakah hakikat 'ubudiyah itu...?"
"Ada tiga tingkat..," jawab Imam Ja'far.
"Satu, kau tidak boleh menganggap apa pun pemberian Allah kepadamu sebagai milikmu, karena seorang hamba tidak berhak mempunyai kepemilikan. Kau lihat harta itu sebagai harta Allah, dan kau belanjakan harta itu sebagaimana diperintahkan-Nya.
Dua, kau ketahuilah bahwa seorang hamba tidak berhak mengatur dirinya sendiri. Kau sibukkan dirimu sesuai perintah Allah, dan kau lepaskan kemelekatanmu atas hak milik padamu, agar ringanlah bagimu infaq sebagaimana diperintahkan-Nya.
Tiga, kau serahkan segala urusanmu kepada Yang Maha Pengurus, agar ringanlah bagimu urusan dunia. Apabila kau sibuk dengan segala perintah atau larangan Allah, maka kau tidak sempat lagi berbangga ataupun berdebat dengan manusia.
Begitulah, apabila Allah memuliakanmu sebagai hamba-Nya dengan tiga sifat itu, maka rendahlah dunia, semua makhluk -- bahkan Iblis -- dalam pandanganmu. Kau tidak mencari harta atau apa pun untuk berbanyak dan berbangga diri, dan tidak kau cari pada sisi manusia sekadar kebanggaan dan ketinggian...
Itulah hakikat 'ubudiyah...!"

(Wallahua'lam...)

(: dari "RAKAIZ AL-IMAM BAYNA AL-'AQL WA AL-QALB" Muhammad Al-Ghazzali)

MAQAM 'UBUDIYAH...


Abu Hurairah rhadiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Tujuh jenis manusia yang dinaungi Allah subhanahu wata'ala dalam naungan-Nya di Hari ketika tiada naungan selain naungan-Nya:
1) Pemimpin (imam) yang adil,
2) Pemuda yang semangat beribadah kepada Allah,
3) Seseorang yang terkait hatinya ke masjid sejak ia keluar hingga kembali lagi,
4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, saling bertemu dan berpisah karena Allah,
5) Seseorang yang mengingat Allah (zikrullah) hingga air matanya mengalir,
6) Seseorang yang digoda wanita cantik, tapi ia menyahut, "Aku takut kepada Allah, Pencipta alam semesta...!" dan
7) Seseorang yang shadaqah secara diam-diam, hingga tangan kirinya tak tahu apa yang di-shadaqah-kan tangan kanannya..."
(HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa'i)

Allah subhanahu wataa'la berfirman:
"Ibadahlah kepada Tuhanmu hingga keyakinanmu datang..."
(Al-Hijr, 99)

Dan, Syeh Abu Ali Ad-Daqqaq berkata:
"Ubudiyah itu lebih sempurna ketimbang Ibadah. Sebab, yang pertama adalah Ibadah, lalu Ubudiyah, dan terakhir Abudah..."
Ibadah adalah amalan kaum awam, yang menguasai tahap ilmul-yaqin,
Ubudiyah adalah amalan kaum terpilih (khawash), yang menguasai tahap 'ainul-yaqin, dan
Abudah adalah amalan kaum sangat terpilih (khawashul-khawash), yang menguasai tahap haqqul-yaqin...

(Wallahua'lam...)

Minggu, 17 April 2011

HIKMAH...


"Terkadang Allah melapangkanmu, agar kau tak tenggelam dalam kesempitan..
terkadang Allah menyempitkanmu, agar kau tak hanyut terlena dalam kelapangan..
terkadang Allah melepaskanmu dari keduanya, agar kau tak bergantung kepada apa pun selain Allah..."

"Kadangkala Allah memberimu kesenangan dunia, namun tak memberimu taufik dan hidayah-Nya..
kadangkala Allah menolakmu dari kesenangan dunia, namun memberimu taufiq dan hidayah-Nya..."

"Ketika Allah membukakanmu pengertian (faham) tentang penolakan-Nya, maka penolakan-Nya itu niscaya berubah menjadi pemberian-Nya..."

(: dari "AL-HIKAM" Syeh Ibnu Atha'illah As-Sakandary)

Jumat, 15 April 2011

ZIKIR...



Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan, katanya,
"Rasulullah saw mengunjungi kami, dan bersabda:
"Hai manusia, merumputlah kalian di taman-taman surga...!"
Kami bertanya,
"Ya Rasulullah, apakah taman surga itu?"
Rasulullah menjawab:
"Itulah majlis orang-orang yang sedang zikir...!"
Lalu, beliau melanjutkan:
"Berjalanlah kalian di pagi dan sore hari dengan melakukan zikir.
Barangsiapa yang ingin mengetahui derajat kedudukannya di sisi Allah swt, maka lihatlah pada derajat mana kedudukan Allah pada dirinya.
Ketahuilah, derajat yang Allah tempatkan kepada hamba-Nya, sepadan dengan derajat mana si hamba menempatkan Allah dalam dirinya...!"
(HR. Tirmidzi)

Rasulullah saw bersabda:
"Maukah kalian kuberitahukan tentang amalan yang paling baik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt... juga, orang-orang yang derajatnya paling tinggi di antara kalian, yang lebih baik ketimbang menyedekahkan emas atau perak, atau memerangi musuhmu dan kalian memotong lehernya, atau mereka yang memotong lehermu...?"
Para sahabat bertanya,
"Ya Rasulullah, apakah itu?"
Rasulullah menjawab:
"Itulah zikir kepada Allah...!"
(HR. Baihaqy)

Dan, Allah swt berfirman:
"Zikirlah kepada-Ku, niscaya Aku pun berzikir kepadamu..."
(Al-Baqarah, 152)

RIDHA ALLAH...

 


"Allah meridhai mereka, dan mereka pun ridha atas-Nya..."
(QS. Al-Maidah, 119)

Dari Jabir radhiyallahu 'anh, bahwa Rasulullah shalallahu 'alahi wassalam bersabda:
"Di Hari Qiyamat kelak, para penghuni Surga akan berada di suatu majlis. Kala itu tampak Cahaya dari gerbang Surga menyinari mereka. Dan mereka akan mengangkat kepalanya, sedang Allah memandang mereka seraya berfirman:
"Wahai penghuni Surga, mintalah kepada-Ku apa yang kalian inginkan..."
"Kami mohon, kiranya Engkau ridha kepada kami," jawab mereka serempak.
Allah membalas, "Keridhaan-Ku-lah yang membawa kalian ke Rumah-Ku, ke Surga-Ku, dan Aku-lah yang memberi kalian Kemuliaan-Ku. Hari ini adalah Saat yang tepat, maka segeralah kalian mohon kepada-Ku...!"
"Kami memohon tambahan selain ini..." jawab mereka lagi... []
(HR. Ibnu An-Najjar dan Al-Bazzar)

MALU...



Sabda Rasulullah saw:
"Malulah kalian di hadapan Allah dengan sebenar-benarnya malu...!"
"Tapi, ya Nabiyallah," sanggah beberapa sahabat. "Kami sudah merasa malu... alhamdulillah..."
"Itu bukan malu yang sebenarnya," jawab Rasulullah saw. "Orang yang malu di hadapan Allah dengan sebenar-benarnya, hendaknya selalu menjaga lintasan pikiran dan bisikan hatinya, selalu menjaga perutnya dari apa yang dimakannya, dan selalu mengingat maut serta fitnah kubur... barangsiapa yang lebih menghendaki akhirat, hendaknya juga meninggalkan perhiasan dunia... maka, yang melaksanakan hal itu, artinya sudah benar-benar memiliki rasa malu di hadapan Allah..."
(HR. Tirmizi dan Hakim)

CINTA (HUBB) ...


Abu Hurairah ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Siapa yang cinta untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah pun cinta untuk bertemu dengannya...
dan siapa yang tidak cinta untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah pun tidak cinta untuk bertemu dengannya..."
(HR. Bukhari)

Dan, Anas bin Malik ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Siapa yang menyakiti wali-Ku, artinya ia memaklumkan perang kepada-Ku...
tiadalah hal taqarrub (pendekatan diri) seorang hamba-Ku, yang paling Kucinta, dibandingkan halnya melaksanaan kewajiban (fardhu) yang Kuperintahkan kepadanya...
dan, terus-menerus ia mendekati-Ku, dengan menambahkan ibadah sunah (nawafil), hingga Aku mencintainya...
bila Aku sudah mencintainya, maka Akulah telinganya yang dengan-Ku ia mendengar, Akulah matanya yang dengan-Ku ia melihat, Akulah tangannya yang dengan-Ku ia memegang, dan Akulah kakinya yang dengan-Ku ia bertopang..."
(Hadits Qudsi: Ibnu Abud-Dunya, Al-Hakim, Ibnu Mardawih, Abu Nu'aim, dan Ibnu Asakir)

ISTIQAMAH...



"Sungguh, orang-orang yang berkata: "Tuhan kami Allah!" kemudian mereka teguh (istiqamah) dengan pernyataannya, maka akan turun malaikat kepada mereka...
hendaklah kalian tidak takut (la takhaf) dan tidak bersedih (la tahzan)...
dan hendaklah kalian bergembira dengan surga yang dijanjikan..."
(Al-Fushshilat, 30)

Tsauban ra, mantan budak Rasululah saw, menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Berteguhlah (istiqamah) kalian, sekalipun kalian tidak akan mampu melaksanakan dengan sepenuhnya...
ketahuilah, bahwa bagian terbaik dari agamamu adalah shalat...
dan tiadalah seseorang yang memelihara wudhu, kecuali ia beriman..."
(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, dan Bayhaqi)

SABAR DAN MUSIBAH...


Dari Abu Hurairah ra, bahwa Sayidah 'Aisyah ra menuturkan hadits Rasulullah saw, yang sabdanya:
"Sungguh, sabar (yang sebenar-benarnya) itu adalah ketika menghadapi musibah di awal kejadiannya..."
(HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Nasa'i)

Allah pun berfirman:
“Dan, Kami senantiasa mencoba kalian dengan sesuatu, baik dari rasa takut, lapar atau kurang, dari hal harta, diri, juga buah-buahan, tetapi sampaikanlah kabar gembira buat yang sabar.
(Yaitu) orang-orang yang kalau ditimpa musibah, mereka berkata: "Sungguh, ini kepunyaan Allah, dan kepada Allah'lah semua ini kembali..."
Bagi merekalah shalawah dari Tuhannya, juga rahmah, dan bagi merekalah hidayah…
(Al-Baqarah, 2: 155-157)

Adapun sabar, menurut para ulama, sedikitnya terbagi atas 3 hal:
1) Sabar dalam menjalankan taat kepada Allah,
2) Sabar dalam menghadapi musibah apa pun, karena yakin atas taqdir Allah, dan
3) Sabar dalam meninggalkan perkara maksyiat sekecil apa pun, dengan mengharap perlindungan-Nya...

(: Wallahua'lam...)

BERLOMBALAH MEMINJAMKAN KEPADA ALLAH...



"Apabila kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakannya atasmu dan mengampuni kekhilafanmu, dan Allah Maha Pemberi Syukur (lagi) Maha Penyantun..."
(At-Taghabun, 64: 17)

Di zaman Rasulullah saw, ada sekelompok orang yang selalu mendapat pinjaman kepada Allah, yang dikenal sebagai ahli Shufah.
Tadinya, mereka berdatangan dari berbadai negeri. Berbai'at kepada Rasulullah saw untuk masuk Islam, dengan meninggalkan keluarganya dan harta-bendanya, dan mereka menyerahkan jiwa-raganya demi perjuangan Islam.
Di Madinah, Rasulullah saw menampung mereka di sebuah pojok Masjid Nabawi. Sehingga pojok itu dikenal sebagai pojok Shufah, dan yang tinggal di sana dikenal sebagai ahli Shufah.
Mereka adalah orang-orang yang menyerahkan jiwa-raganya demi perjuangan Islam. Sebutlah di antaranya: Abu Hurairah ra, ahli periwayat hadits Rasulullah saw.. Salman Al-Farisi ra, ahli strategi perang.. Huzaifah Al-Yaman ra, ahli ilmu jiwa Islam.. Abuz-Zar Al-Ghiffari ra, ahli ibadah.. Ibnu 'Abbas ra, ahli tafsir Al-Quran.. Bilal Al-Habsyi ra, penyeru 'adzan.. Sa'ad ibn Abi Waqqas, ahli perang.. dan banyak lagi.
Allah memerintahkan Rasul-Nya (saw) bahwa, di antara umat itu harus ada yang menyingkir dari kehidupan dunia untuk mendalami ilmu. Dan, Allah pun mencegah Rasulullah saw mengusir mereka dari pojok Shufah -- apalagi membiarkannya -- kendatipun kehidupan mereka sepintas seperti benalu. Sebab, ahli Shufah itu sebenarnya adalah tipikal orang yang diberi pinjaman kepada Allah...
Dan, kemudian terbukti, seperti ditulis sejarah, bahwa kontribusi mereka dalam pengembangan Islam mencakup berbagai bidang. Semua itu tiada lain karena pedulinya orang-orang yang membantu penghidupan mereka, tanpa pamrih apa pun -- seperti yang dilakukan oleh kaum Anshor terhadap para ahli Shufah.
Oleh karena itu, mari... berlomba-lombalah meminjamkan kepada Allah... []

IKHLAS...



Huzaifah al-Yaman radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa ada yang bertanya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tentang apa itu ikhlas.
Dan Rasulullah bersabda:
"Aku bertanya kepada Jibril 'alaihissalam, 'apakah itu ikhlas?'
Kemudian Jibril berkata, 'Aku bertanya kepada Allah subhanahu wataa'la, 'apakah yang sebenarnya ikhlas?'
Dan Allah menjawab dengan berfirman, 'Ikhlas adalah suatu rahasia dari Rahasia-Ku yang Kutempatkan di lubuk hati hamba-Ku yang Kucintai..."
(HR. Al-Qazwiny)


Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menuturkan, bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Ada tiga perkara yang tidak akan menjadi belenggu di dalam hati seorang Muslim, kalau ia menetapinya:
1) ikhlas dalam beramal semata karena Allah,
2) memberi nasihat yang tulus kepada pimpinan atau atasan, dan
3) tetap berkumpul seiring dengan sesama Muslim..."
(HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Ibnu Hajar)


Dan, Allah subhanahu wata'ala berfirman:
"Ingatlah, sesungguhnya hanya kepunyaan Allah-lah agama yang ikhlas (tulus dari syirik)..."
(Az-Zumar, 3)

Selasa, 05 April 2011

MANFAATKAN 5 SEBELUM YANG 5...
 
Manfaatkan 5 hal sebelum datang 5 hal:
1. Manfaatkan usia mudamu sebelum datang usia tuamu
2. Maanfatkan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu
3. Manfaatkan kekayaanmu sebelum datang kefakiranmu
4. Manfaatkan saat lapangmu sebelum datang saat sempitmu
.5. Manfaatkan kehidupanmu sebelum datang kematianmu...
3 GOLONGAN AHLI ILMU...

Imam Al-Ghazali menerangken, behwe ilmu penge'tahu'an itu seperti air, & orang yang mencarinya dikategorikan dalam 3 golongan:
1. Seperti orang yang hanya mengandalkan tadah hujan.
2. Seperti orang yang membuat bak penampungan, lalu dibuatnya saluran2 yg menghubungkan bak
dengan sumber2 mata air.
3. Seperti orang yang menggali sumur di tanahnya sendiri, hingga dari kedalamannya muncul sumber air yang bening & melimpah.
Pertanyaannya, termasuk katerori mana penge'tahu'an Anda?
MUNAJAT RABI'AH...
 
"Ya RABB...
sekiranya hamba mencintaiMU karena mengharapkan SurgaMU, jauhkan hamba dari Surga
& sekiranya hamba mencintaiMU karena takut NerakaMU, tenggelamkan saja hamba di Neraka
tapi, kalau hamba mencintaiMU semata2 karena merindukanMU, maka jangan KAU palingkan WajahMU sedetik pun dari 'Penglihatan' hamba..."
CAHAYA LANGIT & BUMI...
 
"ALLAH Cahaya langit & bumi, permisalan CahayaNYA seperti lubang dinding, yang di dalamnya ada lampu, lampunya dalam kaca, kacanya seakan-akan bintang beruntai seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon berkah, yaitu zaitun yang tak di timur & tak di barat, yang minyaknya saja kemilau walau belum disentuh api, Cahaya di atas Cahaya, ALLAH menunjuki kepada CahayaNYA siapa yang DIA kehendaki, & demikianlah ALLAH membuat permisalan untuk manusia, ALLAH Maha Tahu segala sesuatu..."
UWUNG-AWANG
 
Uwung-uwung awang-awang
bumi langit durung ana
witing ana rupaning Alif
angadeg tengahing jagat
naktu Alif jeneng ingsun
.
patalukan nyawa sakabeh...

(: la ilaha illallah, Muhammad Rasulullah
)
"AKU MAHA LEBIH TAHU..."
 
"Dan, ingatlah, ketika RABBmu berfirman kepada para malaikat:
Sungguh, AKU akan menjadikan khalifah di muka bumi!
Para malaikat bertanya:
Mengapa KAU akan menjadikannya,
padahal ia hanya akan membuat kerusakan di dalamnya,
.dan saling menumpahkan darah saja?
tidak cukupkah kami yang senantiasa bertasbih,
dengan memujiMU dan mengquduskanMU?
(ALLAH) menjawab:
Sungguh, AKU Maha Lebih Tahu apa yang tidak kalian tahu..."
TRAGEDI ANTI'AHMADIYAH DI CIKEUSIK, BANTEN


Percuma jadi kyai, kalau hanya gemar meengobarkan benci
Percuma jedi ustat, kalau hanya mau dekat dengan para pejabat
Percuma jedi santri, kalau hanya teriak jihad membantai saudara sendiri
.Percuma jadi pamong, kalau hanya bengong menghadapi massa yg menggonggong
Percuma jadi pemerintah, kalau hanya pura2 terperangah karena katanya itu musibah...
(: inna lillahi wainna ilaihi roji'uuuuuuunn...!!!)
KINANTI

Eling-eling mangka eling,
rumingkang di bumi alam,
darma wawayangan bae,
.taya tangan pangawasa,
jumerit Gusti Hyang Widi,
raga kadar katempuhan...
ANAK ADAM

Anak Adam di dunya ukur ngumbara
hirup anjeun di dunya teh moal lila
lamun maot niti mangsa anak Adam
.moal aya nu bisa ngahalang-halang...

Digogotong kunu hirup
dibabawa ka kuburan
diiring diceungceurikan
dianteur ku babacaan...

Ahli kubur ngan sorangan
teu aya nu ngabaturan
mulang hanteu babawaan
ngan boeh salapis pisan... *
 
_______________
* Dikutip dari lagu "Entah Siapa"...
KALAU KU'CINTA'I IA...
 
"Barangsiapa memusuhi WaliKU, KUnyatakan kepadanya perang...!
Tiada hambaKU mendekat kepadaKU dengan sesuatu
yang lebih KUcintai dibandingkan hal yang KUfardukan kepadanya...
Malah senantiasa hambaKU terus mendekat kepadaKU
dengan sunah Nawafil
hingga KUcintai ia...
Kalau KUcintai ia
jadilah AKU pendengarannya yang denganKU ia mendengar
penglihatannya yang denganKU ia melihat
tangannya yang denganKU ia berbuat
dan kakinya yang denganKU ia berjalan...
Kalau ia mohon kepadaKU, KUkabulkan
kalau berlindung kepadaKU, KUlindungi...
Dan, terhadap jiwa si Mu'min yang enggan mati
AKU segan menyakitinya..."
(: dari "MISYKATUL-ANWAR" 101 Hadits Qudsi kumpulan Syeh 'Ibnu Arabi...)
MUHAMMAD YA RASUL, SHOLU 'ALAIK...
 
"Muhamad itu Rasulullah... dan orang2 yg bersamanya senantiasa tegas/keras terhadap kekufuran, saling berkasih-sayang di antara mereka... kau lihat mereka senantiasa ruku' & sujud karena mengharap fadhilah (keutamaan) dari ALLAH dan keridhaanNYA, tampak di wajah mereka ada bekas sujud..."
 
"Dia'lah pelita terang-benderang (sirojan muniro...)..."
CAHAYA-CAHAYA

"Di sekitar Arasy ada tiang2 Cahaya, di dalamnya ada orang2 berjubah Cahaya, wajah2 mereka juga berCahaya... mereka bukan nabi & syuhada, tapi nabi & syuhada pun terkagum pada mereka..."
"Siapa mereka, ya Rasul?"
"Mereka adalah orang2 yang saling mencintai karena ALLAH, saling berbagi karena ALLAH, & saling kunjung/perhatikan karena ALLAH..."
"Mereka yang saling berkasih-sayang demi KeluhuranKU, bagi mereka mimbar2 Cahaya yang menyebabkan nabi & syuhada pun terkagum pada mereka..."

"UMMATI, UMMATI, UMMATI..."


            Di saat2 akhir kehidupan Rasulullas saw, ditatapnya sahabat2 yg mengelilinginya, dan sabdanya: "Sahabat2ku, semoga kalian berumur panjang, dan semoga DIA menolong serta melindungi kalian. Aku wasiatkan u/terakhir kalinya, takwalah kalian kpd ALLAH, dan ingatlah (zikr) selalu kpd ALLAH. Janganlah angkuh dan sombong terhadap org kampung atau org jauh2. Sungguh, telah datang saat azalku dan kembali kpd ALLAH, ke Sidratul-Muntaha, ke Jannatul-Ma'wa... Sampaikan kata2ku ini kpd yg lain sesudahmu..."
            Lalu Jibril datang, dan Rasulullah saw bertanya: "Ya Jibril, siapakah yg akan menyertai kaumku setelah aku?"
            Jibril menjawab: "Ya Kekasih ALLAH, ALLAH menitip pesan bhw berikanlah kabar gembira u/mu, sebab pd Hari Qiyamat nanti engkaulah yg p'tama2 bangkit dr kubur dan yg p'tama2 memimpin umat manusia. Dan, ALLAH tidak akan mengazab kaummu, sebab ALLAH mengharamkan Surga kpd kaum lain sebelum kaummu memasukinya..."
            "Mantaplah hatiku, ya Jibril," sahut Rasulullah saw.
            Sayidah 'Aisyah ra lalu menyandarkan kepala Rasulullah saw di antara dada dan kerongkongannya. Di depan beliau ada air dalam bejana, dan beliau masukkan tangannya ke air itu sambil berkata: "LA ILAHA ILLALLAH... tiada tuhan kecuali ALLAH... sungguh, ada rasa pedih saat kematian datang...!"
            Beliau taruh tangan kanannya di sisi kanan, katanya: "AR-RAFIQ AL-A'LA... Wahai Teman yg Maha Tinggi...!"
            Tampak beliau pingsan bbrapa saat. Begitu sadar dan dapat berbicara lg, katanya: "Shalat, shalat, shalatlah berjamaah. Sungguh, kalian tidak akan lemah dan senantiasa kokoh bila menegakkan shalat...!"
            Lalu, datanglah Izra'il dgn minta izin u/mencabut ruh Rasulullah saw.
            Sela Jibril: "Ya Kekasih ALLAH, tentulah RABB rindu bertemu dgnmu sekarang. Demi ALLAH, malaikat maut tidak pernah minta izin kpd s'org pun  u/mengambil ruh, tidak pernah minta izin seperti ini. DIA menyempurnakan kehormatan dan kemuliaanmu, dan DIA sangat rindu bertemu dgnmu..."
            Rasulullah saw bersabda: "Silakan Izra'il datang..."
            Dan, tampak beliau terkulai di pangkuan Sayidah 'Aisyah ra. Keringat membasahi dahinya. Beliau berkata: "Ya 'Aisyah, ruh s'org mu'min keluar dgn keringat yg berlebihan, dan ruh s'org kafir keluar dgn suara dari kedua rahangnya sbgmana nyawa kedelai..."
            Beliau menengok ke aras Jibril, katanya: "Sakaratul-maut ini betapa sakit..."
            Jibril memalingkan wajahnya, karena ia tidak tega melihat kesakitan beliau.
            Saat2 ajalnya pun semakin dekat. Fatimah ra, putrinya, hanya menangis. Dan, 'Ali melihat bibir Rasulullah saw bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu.
            'Ali mendekatkan telinganya ke bibir beliau. Terdengar beliau berbisik: "UMMATI, UMMATI, UMMATI... ummatku, ummatku, ummatku..."

(: Akhirnya, kembalilah Rasulullah saw ke "Sangkan Paraning Dumadi" beliau, Asal semua Asal -- kembali ke ALLAH'nya...)
 DHUHA-MU
 
"Ya ALLAH, sungguh Dhuha adalah DhuhaMU
Keelokan adalah KeelokanMU
Keindahan adalah KeindahanMU
Kekuatan adalah KekuatanMU
Kekuasaan adalah KekuasaanMU
dan Perlindungan adalah PerlindunganMU...
Ya ALLAH, kalau rizkiku di Langit turunkan
kalau di Bumi keluarkan
kalau susah mudahkan
kalau haram halalkan
kalau jauh dekatkan...
Dengan haq DhuhaMU
KeelokanMU
KeindahanMU
KekuatanMU
KekuasaanMU
& PerlindunganMU,
Limpahkanlah padaku apa yang telah KAU limpahkan pada hamba-hambaMU yg shaleh..."

KELAHIRAN RABI'AH TERANG-BENDERANG...


            Alkisah, di malam kelahiran Rabi'ah, bapaknya yang fakir tidak punya minyak setetes pun. Istinya di perbaringan sedang menahan geliatnya si jabang bayi yg terasa makin sering. Bapaknya berusaha menghibur si istri, tapi karena kecapean akhirnya dia tertidur.
            Dalam mimpi, dia merasa didatangi Rasulullah saw. Katanya: "Gubernur kota, tiap malam Jumat, biasanya shalat malam 400 raka'at. Tapi malam Jumat kemarin dia lupa. Maka, sampaikan salam dariku kepadanya, sambil mengingatkan dia untuk membayar fidiyah ketertinggalannya 400 raka'at shalat malam. Mintakan padanya 400 dinar..."
            Dengan kaget dia terbangun dari mimpinya. Tapi, karena rasanya yakin bahwa mimpi ketemu Rasulullah saw itu benar, maka diberanikannya malam itu juga menghadap Gubernur Kota untuk menyampaikan mimpinya.
            Singkat cerita, Gubernur Kota begitu mendengar penuturan mimpinya itu langsung menangis, lalu masuk ke kamarnya dan kembali dengan 2 buah pundi. Katanya, "Bapa, terima kasih bahwa Rasulullah saw masih mengingatku, dan terima kasih juga atas pesannya. Ini 2 pundi, yang masing2 berisi 400 dinar. Yang 1 sebagai fidiyahku, karena malam Jumat kemarin aku betul tertidur, hingga ketinggalan 400 raka'at shalat malam. Dan, yang 1 lagi, hadiah dariku untuk anakmu yang akan lahir. Sebab, malam Jumat kemarin itu aku mimpi melihat anakmu kelak akan menjadi wanita sufi gemilang yang ahli Pecinta ALLAH (Mahabbah)... Subhanallah...!"
            Akhir cerita, bapaknya Rabi'ah kembali ke rumahnya dengan 2 buah pundi, sambil masih was2 keadaan istrinya, sedangkan di rumah tadi keadaannya gelap.
            Tapi, begitu sampai, dia lihat dari jauh rumahnya ternyata terang-benderang. Sepertinya ada ribuan malaikat datang. Dan, sayup2, didengarnya suara tangisan bayi Rabi'ah menyambut tasbih semesta...

THASIN: PELITA NUBUWAH MUHAMMAD (SAW)


Oleh Hussain bin Manshur Al-Hallaj

(: Inilah Bab Pertama kitab “THAWASIN” Al-Hallaj, yang didedikasikannya
sebagai 'Pemujaan Agung' kepada Baginda Rasulullah Muhammad saw...)
               
1
Sang Pelita (As-Siraj) tampak dan tercerah dari Cahaya Kegaiban,
ia terpancar dan (tampak) kembali, dan melampaui pelita-pelita lain.
Ia rembulan yang cerlang, yang menampakkan kecemerlangannya
lebih dari bulan-bulan lain.
Ia bintang yang graha perbintangannya di Langit ‘Azaly.
Allah menyebutnya ‘ummi (awam) atas dasar keterpusatan aspirasinya,
juga harami (suci) disebabkan kelimpahan syafa’atnya,
dan makki (pusat) karena kedekatannya di Hadirat-Nya.

2
Dia (Allah) lapangkan dadanya, Dia tingkatkan kekuatannya, dan
mengangkatnya dari beban “yang memberati punggungnya” (Q. 94: 2-3)
serta Dia tetapkan kewenangannya.
Sebagaimana Allah membuat ‘Badr’-nya terpancar,
demikianlah purnamanya muncul dari awan Yamamah,
mentarinya terbit di bukit Tihamah [Makkah],
dan pelitanya bersinar gemerlap dari sumur Karamah (Zamzam).

3
Ia tidak menyampaikan sesuatu
kecuali yang menyangkut pandangan (bashirah) batinnya,
dan tidak mewajibkan diikuti keteladanannya
kecuali yang menyangkut kebenaran Sunnah-nya.
Ia berada di Hadirat Allah, dan ia mengajukan yang lain ke Hadirat-Nya.
Ia telah ‘melihat’ (Kebenaran), lalu ia sampaikan apa yang dilihatnya.
Ia telah diutus sebagai sang Pemberi Tunjuk,
maka ia menggariskan batas (halal-haram) perilaku.

4
Tidak seorang pun mampu mengungkapkan kebenaran maknanya
kecuali sang Tulus Hati (Al-Amin) ini.
Karena ia menegaskan ke-syahid-annya, serta mengiringkannya,
maka tiada lagi tersisa perbedaan di antara kaumnya.

5
Tiada seorang arif (‘irfan) pun yang merasa ‘kenal’ padanya,
yang tidak keliru mengenali kebenaran kualitasnya.
Kualitasnya hanya jelas kepada seseorang yang Allah bimbing
untuk menyingkap (kasyf) tabirnya,
“Yaitu yang telah Kami berikan kepadanya Kitab,
mereka mengenalinya seperti mengenali anak-anaknya.
Namun, sebagian mereka menyembunyikan kebenarannya,
padahal mereka mengetahui.” [Q. 2: 146]

6
Segenap cahaya nubuwah berasal dari cahayanya,
dan cahayanya tercerahkan dari Cahaya yang Gaib.
Di antara cahaya-cahaya itu tidak ada yang lebih gemerlap,
lebih nyata atau lebih mutlak dari cahayanya
sang Junjungan Semesta Rahmat ini.

7
Aspirasi (himmah)-nya mendahului segenap aspirasi lain,
adanya mendahului ‘Tiada’ (‘Adam),
namanya mendahului ‘Pena’ (Qalam),
sebab keberadaannya terdahulu ada sebelum apa pun.

Tidak pernah ada di atas semesta atau di luar semesta,
tidak juga di balik semesta, sesuatu yang lebih indah, lebih agung,
lebih bijak, lebih adil, lebih kasih, lebih taat atau lebih takwa,
yang lebih dari sang Tokoh Utama ini.

Gelarnya adalah sang Junjungan Makhluk,
namanya adalah Ahmad, dan harkatnya adalah Muhammad.
Perintahnya penuh kepastian, hikmahnya penuh kebaikan,
sifatnya penuh kemuliaan, dan aspirasinya penuh keunikan.

8
Maha Kesucian Allah!
Adakah yang lebih nyata, lebih tampak, lebih agung, lebih masyhur,
lebih kemilau, lebih perkasa ataupun cendekia, yang lebih darinya?
Ia – sungguh – telah dikenal sebelum penciptaan sesuatu,
yang ada, juga semesta.
Ia senantiasa diingat sebelum adanya ‘sebelum’
dan setelah adanya ‘setelah’,
juga sebelum ada substansi dan kualitas.
Substansinya adalah cahaya semata, ucapannya adalah nubuwah,
hikmahnya adalah wahyu, gaya bahasanya adalah Arab,
kesukuannya adalah “tiada Timur dan tiada Barat” [Q. 24: 35],
silsilahnya adalah garis kebapakan, misinya adalah damai,
dan sebutannya adalah ‘ummi (awam).

9
Segenap mata terbuka dengan isyaratnya,
segenap rahasia dan segenap jiwa terasa dengan kehadirannya yang ada.
Adalah Allah yang membuatnya fasih melafalkan rangkaian Firman-Nya,
dan menjadi Bukti (Al-Hujjah) yang meneguhkannya.
Juga Allah yang mengutusnya, dan ia adalah Bukti – senyatanya Bukti.
Adalah ia yang memuaskan dahaga hati pedamba yang kehausan,
yang tidak tersentuh apa pun, tidak terkatakan lidah,
tidak juga terekayasa, yang ‘menyatu’ dengan Allah tanpa terpisahkan,
bahkan jauh di luar jangkauan pikiran.
Pokoknya ia yang mengabarkan adanya akhir,
dan akhirnya akhir, serta akhir-akhirnya akhir.

10
Ia singkapkan awan, dan menunjuk ke Rumah Suci (Bayt al-Haram).
Ia adalah ‘pembeda’, bahkan ia adalah panglima perang.
Adalah ia yang diperintah untuk meluluhlantakkan berhala-berhala,
juga ia yang diutus kepada ummat manusia untuk membasmi pemujaan.

11
Di atasnya awan bergemuruh menyambarkan kilat,
dan di bawahnya kilat menyambar gemuruh, berkilatan,
mencurahkan hujan, serta menyuburkan.
Segenap pengetahuan hanyalah setetes dari samuderanya,
segenap kearifan hanyalah secauk dari bengawannya,
dan segenap waktu hanyalah sesaat dari masanya.

12
Allah (‘ada’) bersamanya, dan bersamanya adalah hakikat.
Ia yang pertama dalam kesatuan (penciptaan)
dan terakhir yang diutus sebagai Rasul,
yang hakikatnya bersifat batin, dan ma’rifatnya bersifat lahir.

13
Tiada seorang pakar pun yang pernah mencapai hikmahnya,
bahkan para filsuf niscaya tersadar atas kearifannya.

14
Allah tidak menyerahkan [hakikat-Nya] itu kepada makhluk-Nya,
sebab ia adalah ‘ia’, dan ia adanya bersama Dia,
sedangkan Dia adalah ‘Dia’.

15
Tidak ada apa pun yang keluar dari ‘Mim’ (م )-nya Muhammad (محمد ),
dan tidak ada yang masuk ke ‘Ha’ ( ح)-nya.
Adapun ‘Ha’ ( ح)-nya sebagaimana ‘Mim’ (م )-nya yang kedua,
sedangkan ’Dal’ (د  )-nya seperti ‘Mim’ (م )-nya yang pertama.
‘Mim’ (م )-nya yang pertama adalah peringkat (maqam)-nya,
serta ‘Ha’ ( ح)-nya adalah keadaan (hal) spritualnya,
sebagaimana ‘Mim’ (م )-nya yang kedua.

16
Allah membuat bicaranya jelas, menambah nilainya,
dan membuat bukti (hujjah)-nya dikenal.
Dia menurunkan wahyu Pembeda [Al-Furqan] kepadanya.
Dia membuat lidahnya fasih, dan Dia membuat hatinya terang.
Dia membuat ummat sezamannya tidak mampu [memalsu Al-Qur’an].
Dia pun mengakui kejelasannya, dan memuji kemuliaannya.

17
Andaikan kau melarikan diri dari kewenangan syari’at-nya,
adakah jalan (lain) yang dapat kau tempuh,
tanpa adanya pembimbing, hai orang yang malang?
Ketahuilah, segenap fatwa para filsuf berantakan,
seperti gundukan pasir, dibandingkan hikmahnya. []

__________________________________________________

Diterjemahkan oleh AM Santrie
dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut
dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

SEDIKIT TENTANG SHALAT KHUSYU'


"Berbahagialeh orang yg Mu'min, yaitu orang yg shalatnya khusyu'... dan orang yg atas shalatnya terjaga/terpelihara..."
(AL-MU'MINUN, 23: 1-2 & 9)
Adapun makna "khusyu" adalah terpusatnya seluruh perhatian, pikiran & hati, hanya kpd ALLAH... seakan-akan sedang 'melihatNYA', kalaupun tak bisa merasakan sedang 'melihatNYA', sadari saja dengan merasakan bahwa DIA 'Melihat' -- seperti dirasakan, misalnya, Uwaisy Al-Qarani...
Sedang makna "shalatnya terjaga/terpelihara" adalah menyadari dengan pikiran & hati, dengan penuh keterjagaan/keterpeliharaan, atas seluruh bacaan & gerak tubuh -- dengen mata memicing ke arah sujud, telinga memperhatikan bacaan serta maknanya, dan pengaturan nafas... (Rasulullah bersabda: "Barangsiapa mengenal nafs'nya/dirinya, niscaya ia mengenal TUHANnya...")
Maka, bagaimana manganggap kenal nafs'nya/dirinya, kalau nafas saja tak kenal? Padahal, dalam sehari-hari kita tahu, kalau ada orang emosi, kita bilang kepadanya: "Atur nafas, tarik pelan2, lepaskan selepas-lepasnya..." Maka, orang-orang pernafasan tahu, bahwa kalau mau sehat aturlah nafas, dan orang-orang persilatan tahu, bahwa kalau mau dipukul, tarik nafas, pasti tubuh lebih tahan pukul, tapi kalau nafas sedang tertiup keluar, gampang jatuhnya...
Dan, terakhir, disebutkan bahwa Sayidina Ali terkena panah tertusuk dalam di tubuhnya. Beliau kesakitan. Tapi, ketika sahabat lain mau mencabutnya, beliau keberatan karena sakit. Beliau minta izin sahabat lain u/shalat sunah 2 raka'at. Ktika sdg shalat itulh panahnya dicabut oleh sahabat lain, tanpa beliau merasakannya...
Subhanallah...
(: Kalau tak tahu rahasia nafas, bagaimana bisa? -- baca kitab "BIHARUL-ANWAR" Bab Shalat Khusyu'...)

SEDIKIT TENTANG "NAFAS"


'Nafas' adalah hembusan qalbu yg teratur melalui kelembutan ruhani. Orang yg menyadari 'nafas' ruhaninya, lebih lembut dan jernih ketimbang yg hanya mengalami kondisi (ahwal) ruhani. Yg menyadari waktu (waqt) hanyalah pemula, sedangkan yg menyadari 'nafas' adalah pemancangnya, dan yg mengalami 'ahwal' berada di antara keduanya. Orang yg berada pada tahap 'ahwal' adalah pemelihara ruhani, sedangkan pemelihara 'nafas' adalah ahli rahasia Ilahi...
Ahli sufi berkata, "Sebaik2 ibadah adalah yg didasari dgn menghitung 'nafas' ruhani bersama ALLAH..." Mereka pun berkata, "ALLAH mencipta qalbu, dan menjadikan qalbu sebagai tambang ma'rifat. Dan, ALLAH mencipta rahasia (sirr) di balik qalbu, serta menjadikannya sebagai wadah tauhid. Setiap 'nafas' yg tak muncul dari bukti2 ma'rifat, dan setiap isyarat tauhid yg timbul dari bentangan pikir yg rumit, adalah mayat -- yg pemiliknya akan dimintai tanggung jawab kelak..."
Jadi, bagi orang arif (irfan), 'nafas' tidak asal hembus, karena ia tidak terserah ke 'nafas'nya saja. Sebab, bagi sang pecinta (mahabbah) ALLAH, 'nafas' adalah keharusan (wajib) dgn selalu menyadarinya. Kalau tidak menyadari 'nafas' ruhani, maka sama dengan bangkai hidup saja.... (Wallahu a'lam...)

(: dari kitab "AL-LUMA'' Abu Nashr As-Sarraj, dan "RISALATUL-QUSYAIRIYAH" Imam Al-Qusyairi, bab "Nafas")

SEDIKIT TENTANG PROSES ASAL KEJADIAN MANUSIA


ALLAH berfirman:
"Sungguh, KAMI telah menciptakan manusia dari (1) bibit sperma (Sulalah) dari saripati tanah (thin)...
"Lalu, KAMI jadikan saripati itu (2) air mani (Nuthfah) dalam tempat yang kokoh [rahim]...
"Lalu, KAMI jadikan air mani itu (3) segumpal darah ('Alaqah), segumpal darah itu KAMI jadikan (4) segumpal daging (Mudhghah), segumpal daging itu KAMI jadikan (5) tulang belulang ('Izhama), lalu tulang belulang itu KAMI bungkus (6) dengan daging lagi (Lahma), dan KAMI jadikan (7) ia makhluk berbentuk lain (Khalqan Akhar), maka Maha Sucilah ALLAH Pencipta yg Maha Baik [ciptaanNYA]..."
(AL-MU'MINUN, 23: 12-14)

Penjelasan:
Proses asal kejadian manusia itu, dari segi kejadian fisik/jasmani, ada 7 tahap.
1) berawal dari bibit sperma (Sulalah) yg masih berdiri sendiri di tulang sulbi,
2) dari saripati itu dijadikan air mani (Nuthfah) yang bercampur dengan 'jodohnya', kemudian tersimpan dalam rahim yang kokoh,
3) lalu air mani itu menjadi segumpal darah ('Alaqah) yang kental dan keras,
4) segumpal darah itu menjadi segumpal daging (Mudhghah) yang keras dan liat,
5) lalu segumpal daging itu menjadi tulang-belulang ('Izhama) maksudnya, di balik daging itu muncul tulang-belulang sebagai kerangka yang akan menopang jeroan,
6) dari tulang-belulang itu muncul daging lagi (Lahma) maksudnya, di balik tulang-belulang itu muncul daging jeroan, juga otak. sehingga ia terbungkus kerangka,
7) setelah lengkap secara fisik/jasmani, jadilah ia makhluk berbentuk lain (Khalqan Akhar) maksudnya, ia berbeda dengan asalnya yang hanya sperma...

Alam "Khalqan Akhar" ini juga disebut alam "Syahadah" maksudnya, di alam inilah seorang jabang bayi -- pra lahir ke alam dunia -- melakukan sebuah "Persaksian" primordial, ketika TUHAN bertanya, "ALASTU BI RABBIKUM... bukankah AKU ini RABBmu...?" maka ia menjawab, "BALA, SYAHIDNA... Benar (KAU memang RABB), hamba bersaksi (atas kebenaranNYA)..."

Kalau dihitung, proses kejadian manusia setiap tahapnya ada 40 hari. Jadi, 7 tahap kali 40 hari per tahap, sama dengan 280 hari. Karena sebulan 30 hari, maka 280 hari bagi 30 hari sama dengan (dalam bahasa awam) 9 bulan 10 hari...

Sekarang mari dikaji proses kejadian manusia dari segi spiritual/ruh hakikinya. ALLAH berfirman: "LAQAD KHALAQNA FAWQAKUM SAB'A THARA'IQ... sungguh, KAMI telah menciptakan di atas kejadianmu 7 Jalan..." ... dan yang disebut 7 Jalan itu, dalam kajian tasawuf, lebih dikenal dengan "Martabat 7"...

Ringkasnya, Martabat 7 itu adalah:
1) Martabat Ahadiyah, yaitu 'alam' ketika ALLAH hanya Sendiri dengan DiriNYA, belum ada Sifat dan Nama ALLAH, masih "uwung-uwung awang-awan" saja,
2) Martabat Wahdah, 'alam' ketika ALLAH mulai menunjukkan SifatNYA yang Maha Wujud kepada DiriNYA Sendiri, karena DIA berkehendak untuk dikenal olehNYA,
3) Martabat Wahidiyah, 'alam' ketika ALLAH menampakkan NamaNYA yang Maha Baik (Asma'ul-Husna) kepada DiriNYA, untuk menjabarkan pengenalanNYA Sendiri,
* Di sini, ada semacam tahap transisi, antara 3 Martabat di atas yang bersifat Qadim (Terdahulu) dengan Martabat selanjutnya yang bersifat Muhdats (Baharu),
4) Martabat Arwah, 'alam' ketika ALLAH mulai penciptaan dengan memfirmankan: "KUN... Jadilah!" ... dan, yg awal muncul adalah "Nur Muhammad", lalu terjadilah proses unsur ruh-ruh dan malaikat, juga partikel halus seperti kabut semesta,
5) Martabat Mitsal, 'alam' ketika ALLAH mengembangkan penciptaanNYA, dengan menjadikan jin dan makhluk-makhluk halus yang sejenisnya, juga mengumpulkan tiap partikel dalam pampatan bintang dan planet-planet yang mengelilinginya,
6) Martabat Ajsam, 'alam' ketika ALLAH melengkapkan penciptaanNYA, dan mulai menjadikan kehidupan seperti binatang dan tumbuhan, baik darat, air, atau udara,
7) Martabat Insan Kamil, 'alam' ketika ALLAH menggenapkan penciptaanNYA, yaitu menjadikan manusia (Insan) sebagai makhluk yang terbaik (ahsani taqwim) untuk mewakiliNYA (khalifah) di muka bumi (fil-ardh) dalam rangka ibadah kepadaNYA...

Dengan 7 tahap penciptaan ini, ALLAH memperingatkan manusia dengan firmanNYA: "SANURIHIM AYATINA FIL-AFAQ WA FI ANFUSIHIM, QAD TABAYYANA LAHUMUL-HAQ... telah KAMI perlihatkan kepada mereka ayat (tanda-tanda) KAMI di ufuk cakrawala dan di dalam diri mereka sendiri, sungguh terbukti bahwa hal itu Benar (Haq)..." ... dan, berkali-kali ALLAH peringatkan: "AFALA TA'QILUN... apakah kau tidak berakal...?" "AFALA TAFQURUN... apakah kau tidak berpikir...?" dsb...

Rasulullah saw bersabda: "MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD 'ARAFA RABBAHU... barangsiapa mengenal Dirinya Sendiri, niscaya ia mengenal TUHANnya..." ...Hadits ini, menurut sebagian ulama, sanadnya lemah (dha'if), tapi ulama-ulama sekaliber Imam Al-Ghazali sering mengutipnya berdasarkan pada kedekatan matan hadits tersebut dengan muatan rasa (zauq) dalam Al-Qur'an. Pada intinya, hadits ini menyarankan -- kalau tidak disebut menegaskan -- bahwa: "kenalilah Dirimu...!" "Kenalilah Diri 'Sejati'mu...!"

Sudahkah Anda mengenal: "siapa Anda Sejati yg sebenarnya...?" ... dan sudahkah Anda mengenal: "siapa RABB Anda...?" ... kenalilah Diri, dengan pertama-tama mengenal proses awal penciptaan Diri, mulai dari hanya setetes sperma (Sulalah), melalui 7 tahap, sampai menjadi makhluk berbentuk lain (Khalqan Akhar)... mulai dari Martabat Ahadiyah, melalui 7 tahap, sampai menjadi Martabat Insan Kamil...

Kalau itu sudah Anda kenal, ketahuilah bahwa -- kalau datangnya ke dunia melalui 7 tahap -- maka kembalinya ke akhirat pun melalui 7 tahap pula. Tahap apakah itu? Itulah tahap 1) alam kubur, 2) alam barzah, 3) alam qiyamah, 4) alam mahsyar, 5) alam mizan/shirah, 6) alam surga/neraka, dan 7) alam menyatu dengan 'Wajah' ALLAH...

(: Wallahu a'lam bish-shawab...)

Notes:
"Ya RABB, tetapkan hambaMU ini dalam ishtiqamah di jalanMU, dengan mahabbah dan ma'rifah kepadaMU -- karena kerinduan hambaMU hanya menatap 'Wajah'MU..."
: TAQABBAL YA KARIM...