Taman Ma’rifat
1.
Abu ‘Umar Al-Husain ibn Manshur Al-Hallaj,
semoga Allah menyucikan ruhnya, berkata:
Kata-benda nyata tercakup dalam pengertian kata-benda tak-nyata,
dan kaya-benda tak-nyata tercakup dalam pengertian kata-benda nyata.
Ketaknyataan adalah pertanda sang arif (‘irfan),
dan ketidaktahuan adalah perwujudannya.
Perwujudan-lahir ma’rifat tersembunyi dari pengertian,
dan kembali pada ma’rifatnya.
Bagaimana ia mengetahui Dia, padahal tidak ada ‘bagaimana’?
Di mana ia mengetahui Dia, padahal tidak ada ‘di mana’?
Bagaimanakah ia mencapai Dia, padahal tidak ada ide penyatuan?
Bagaimanakah ia terpisah dari-Nya, padahal tidak ada pemisahan?
Kenyataan-murni tidak mungkin menjadi obyek
dari segala sesuatu yang terbatas, atau obyek-terbilang.
Tidak juga membutuhkan perawatan ataupun pengapkiran.
2.
Ma’rifat itu melampaui gagasan ‘kelampauan’,
melampaui batasan ruang dan melampaui tujuan.
Melampaui kesadaran, tradisi yang lumrah, juga melampaui persepsi.
Sebab, semua yang ada ini merupakan sesuatu yang ‘tiada’
sebelum diadakannya, yang muncul untuk mengada di suatu tempat.
Dia tak-henti mengadakan,
ada dan ‘ada’ sebelum dimensi, sebab maupun akibat.
Jadi, bagaimana mungkin dimensi memuat-nya,
atau pembatasan mencakup-Nya?
3.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui Allah karena kurang tahuku atas-Nya,”
bagaimana bisa ia yang kurang tahu mengetahui Dia yang selalu ‘Ada’?
4.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya karena aku ada,”
dua kemutlakan-lahir tidak mungkin sama-sama ada.
5.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya, sebab aku tidak tahu Dia,”
ketidaktahuan hanyalah sebuah hijab, dan ma’rifat itu melampaui hijab.
Kalau tidak, tidak ada hakikat untuknya.
6.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya dengan Nama-Nya,”
sang ‘Nama’ tidak terpisahkan dari yang Dinamainya,
sebab Dia bukanlah makhluk.
7.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya lewat Diri-Nya,’
Ini menyinggung dua obyek pengakuan (bagaimana mungkin)!
8.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya lewat karya-Nya,”
itu (artinya) mencukupkan seseorang dengan karya-karya,
tanpa mencari sang Esa yang membuatnya.
9.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya,
karena ketidakmampuanku untuk mengetahui-Nya,”
ini seseorang yang tidak mampu karena terputus.
Maka (dalam keadaan terputus) bagaimana mungkin
(subyek) yang dihubungkan dapat memahami obyek yang diketahui?
10.
Ia yang berkata: ”Sebagaimana Dia mengetahuiku, aku mengetahui-Nya,’
itu sudah menyinggung pengetahuan sejati (‘ilm),
dan ini berarti kembali lagi pada (obyek) yang diketahui,
yang berbeda dari Zat Ilahi.
Dalam keadaan berbeda dari Zat, bagaimana mungkin memahami Zat?
11.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya,
sebagaimana Dia menjelaskan Diri-Nya,”
ini berarti puas dengan wibawa ahli tradisi, tanpa penegasan langsung.
12.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya lewat sifat antitesis-Nya,”
yang diketahui adalah sesuatu (Zat) yang tidak beranak-pinak
ataupun membelah-diri menjadi belahan-belahan!
13.
Ia yang berkata: “Sang obyek sendiri yang mengetahui diri-Nya,”
ini hanya menegaskan bahwa sang arif (‘irfan) terikat oleh perbedaan,
sebab sang Obyek tak-henti mengetahui diri-Nya dalam Diri-Nya.
14.
Maha Kesucian Allah!
Bahkan, sebelumnya manusia tidak mengetahui,
bagaimana sehelai rambut di tubuhnya tumbuh dari hitam menjadi putih.
Maka, bagaimana ia mengetahui Dia yang membuat segala sesuatu ada?
Ia yang tidak mengetahui ikhtisar ataupun analisa,
tidak yang Terawal dan yang Terakhir, tidak juga perubahan,
tidak sebab, tidak kenyataan ataupun kelengkapan,
tidak mungkin ia memiliki pengetahuan tentang Dia yang senantiasa ‘ada’.
15.
Segenap puji bagi Allah,
yang menghijab segala sesuatu dengan Nama (‘Ism),
ketentuan (ta’rif) dan pertanda (ayat).
Dia menghijabnya di bawah firman, keadaan, kesempurnaan,
juga keindahan dari-Nya yang Satu, yang selalu ada dan ‘ada’!
Hati (qalb) adalah segumpal daging,
maka ma’rifat tidak mungkin tinggal di sana,
karena adanya merupakan substansi Ilahi.
16.
Kearifan itu memiliki dua dimensi logis: pencapaian dan pendalaman.
Keshalihan spiritual juga memiliki dua aspek: kebiasaan dan kewajiban.
Keseluruhan makhluk ciptaan pun berada di dunia dan di akhirat.
17.
Kendati demikian, ma’rifat tidak memiliki pencapaian dan pendalaman,
tidak bertempat di dunia atau di akhirat,
tidak juga tercirikan dalam wujud-lahir ataupun kehendak-batin.
Sebagaimana pada kebiasaan dan kewajiban.
18.
Ia yang berkata: “Aku mengetahui-Nya dengan hakikat-Nya,”
ia membuat keberadaannya lebih besar dari sang Obyek (Allah).
Sebab, barangsiapa mengetahui ‘sesuatu’ sesuai hakikat sebenarnya,
akan menjadi lebih perkasa dari obyek-sederhana yang ia ketahui.
19.
Hai insan! Tidak ada di jagat ini makhluk yang lebih kecil dari atom,
dan kau tidak merasakannya.
Bagaimana mungkin seseorang yang tidak dapat mengenali atom
mampu mengetahui Dia yang ‘ada’-nya lebih lembut dari atom?
20.
Apa yang terjelma (makhluk) akan berlalu ke sisi yang pasti musnah,
dan apa yang tertutup (gaib) akan tetap berada di sisi pengetahuan-inti.
Adapun inti ma’rifat tersembunyi bersama nama ma’rifatnya.
Dan, tetap terputus sangat dari pemikiran,
Obyek-pengaburan, apalagi pelalaian.
21.
Ia yang menginginkan ma’rifat, mengkhawatiri hal itu.
Dan, ia yang mengkhawatiri hal itu, melepaskan diri darinya,
bahkan mengucilkan diri dari hal itu.
Timurnya (ma’rifat) adalah Barat, dan Baratnya adalah Timur.
Tidak ada sebuah tempat pun di atas dunia ini
yang lebih tinggi darinya (ma’rifat),
dan tidak ada sebuah tempat pun di bawah yang lebih rendah baginya.
Ma’rifat terlepas dari segala sesuatu yang ada,
tetap kekal dengan keabadian Ilahi.
Jalannya sempit, dan tidak ada jalur untuk menempuhnya.
Maknanya jelas, tapi tidak ada bimbingan kepadanya.
Perasaan tidak dapat merasakannya,
dan penerangan pun tidak dapat mencapainya.
22.
Ia yang kerasukan ma’rifat menjadi terpencil sendiri,
dan ia yang berpadu dengannya dianggap bid’ah.
Ia yang mendalaminya menjadi kere,
dan ia yang mengikatkan diri padanya akan binasa.
Kilatnya (ma’rifat) adalah sumber persediaan air yang melimpah-ruah.
Hembusannya menganugerahkan kebebasan. Anak panahnya melesat.
Dan, seandainya (ma’rifat) dilepas ke bumi, niscaya menenangkan.
Orang yang mengkhawatirinya akan menjadi asketis (zuhud),
bahkan membuatnya sebagai pengintai yang seadanya (wara’).
Tali kemahnya adalah para ‘arifin, juga alat pendakiannya.
23.
Ma’rifat tidak memiliki qiyas (analogi) selain dirinya.
Allah pun tidak memiliki analogi selain Diri-Nya.
Jadi, Dia mirip dengannya.
Dia seperti ia (ma’rifat), tapi Dia pun seperti Diri-Nya,
sebagaimana ia (ma’rifat) analog dengan dirinya.
Dia hanya seperti Diri-Nya, dan ma’rifat pun hanya seperti dirinya.
Bangunan ma’rifat adalah dukungannya,
dan dukungan ma’rifat adalah bangunannya.
Justru, siapa yang kerasukan ma’rifat adalah ‘siapa’ yang kerasukannya.
Bangunan ma’rifat adalah untuknya, di dalamnya, dan bersamanya.
Ia (ma’rifat) bukan Dia, dan Dia pun bukan ia.
Tidak ada Dia kecuali ia (ma’rifat), dan tidak ada ia kecuali Dia.
Tidak ada ma’rifat kecuali Dia. Tidak ada Dia kecuali ‘Dia’.
24.
Jadi, sang arif (‘irfan) adalah “seseorang yang ‘melihat’”,
dan ma’rifat terletak di “ia yang tetap”.
Sang arif tinggal dengan sikap kesadarannya,
sebab ia adalah kesadarannya dan kesadarannya adalah ia.
Sedangkan ma’rifat melampaui itu,
dan sang Obyek masih lebih jauh lagi melampaui itu.
25.
Cerita adalah urusan tukang cerita,
dan ma’rifat adalah urusan orang terpilih (khasysy).
Tingkah kepura-puraan adalah urusan perorangan,
dan celotehan adalah kerjaan orang penuh angan-angan.
Meditasi adalah kerjaan orang yang putus-asa,
dan kesembronoan adalah kerjaan orang yang liar.
26.
Allah adalah Allah, makhluk adalah ‘makhluk’.
Dan, ia (ma’rifat) tiada kaitan apa pun. []