Senin, 31 Januari 2011

ANTARA DIA & SESUATU...


Bagaimana mungkin DIA terhijab sesuatu, padahal DIA yang menampakkan segala sesuatu..
Bagaimana mungkin DIA terhijab sesuatu, padahal DIA yang nyata-nyata tampak bersama sesuatu..
Bagaimana mungkin DIA terhijab sesuatu, padahal DIA yang nyata-nyata tampak dalam sesuatu..
Bagaimana mungkin DIA terhijab sesuatu, padahal DIA yang nyata-nyata tampak pada sesuatu..
Bagaimana mungkin DIA terhijab sesuatu, padahal DIA yang tampak sebelum adanya sesuatu..
Bagaimana mungkin DIA terhijab sesuatu, padahal DIA yang lebih tampak dari segala sesuatu..
Bagaimana mungkin DIA terhijab sesuatu, padahal DIA Maha Esa yang tiada di sisiNYA sesuatu pun..
Bagaimana mungkin DIA terhijab sesuatu, padahal DIA lebih dekat kepadamu dari pada sesuatu..
Bagaimana mungkin DIA terhijab sesuatu, padahal kalaupun DIA tiada niscaya takkan ada sesuatu pun...
:
("AL-HIKAM", IBNU ATHAI'LLAH)

"HambaKU, AKU telanjang, tapi kau tak menyelimutiKU!"
"Ya RABB, bagaimana hamba menyelimutiMU, KAU RABB Semesta Alam?"
"HambaKU si Anu telanjang, tapi kau tak menyelimutinya. Padahal, andai kau menyelimutinya, akan kau dapati AKU di sisinya..!"
(HADITS QUDSI)
"HambaKU, AKU sakit, tapi kau tak menjengukKU/mengobatiKU!"
"Ya RABB, bagaimana hamba menjengukMU/mengobatiMU, KAU RABB Semesta Alam?"
"HambaKU si Anu sakit, tapi kau tak menjenguknya/mengobatinya. Padahal, andai kau menjenguknya/mengobatinya, akan kau dapati AKU di sisinya...!"
(HADITS QUDSI)
"HambaKU, AKU lapar, tapi kau tak memberiKU makan!"
"Ya RABB, bagaimana hamba memberiMU makan, KAU RABB Semesta Alam?"
"HambaKU si Anu lapar, tapi kau tak memberinya makan. Padahal, andai kau memberinya makan, akan kau dapati AKU di sisinya...!"
(HADITS QUDSI)

Bani Israil MengusirNYA dan MelempariNYA


            Kaum Bani Israil datang beramai2 menemui Nabi Musa as. Mereka mohon, bahwa mereka ingin berjumpa dgn ALLAH. Tentu saja Nabi Musa as marah, karena hal itu tak mungkin. Tapi, ketika Nabi Musa as naik ke Gunung Sinai untuk menemuiNYA, ALLAH menegur Nabi Musa as. FirmanNYA:
            "Sampaikan kepada mereka, buatlah sebuah perhelatan besar, penuh makanan dan minuman bermacam2. Nanti AKU akan menjumpai mereka di sana..."
            Betapa senangnya kaum Bani Israil mendengar berita itu. Dengan beramai2 mereka mempersiapkan perhelatan besar. Makanan dan minuman diada2kan, bahkan dgn segala pernik2nya. Lalu ditatanya semua di atas meja2 besar, dikelilingi kursi2 empuk, hingga memenuhi seluruh lapangan.
            Tapi, ALLAH yg mereka tunggu tak kunjung datang.
            Selagi begitu, tiba2 datang seorang tua kere compang-camping dan bau yg meminta2. Semua yg hadir menggerutu atas kedatangan peminta2 itu, bahkan mereka mengusirnya dan melemparinya.
            Setelah peminta2 itu pergi, kembali kaum Bani Israil menunggu. Tapi, hingga malam larut, ALLAH yg ditunggunya tak kunjung datang juga. Sehingga, beramai2 mereka marah dan protes kepada Nabi Musa as.
            Singkat cerita, esoknya, di Gunung Sinai, Nabi Musa as mengeluhkan protes kaum Bani Israil itu. Menanyakan, kenapa DIA tak datang -- padahal sudah janji... Tapi, jawabNYA:
            "Bukankah AKU datang menjumpai kalian? Bukankah AKU datang, sebagai seorang tua kere compang-camping bau? Tapi, kenapa kalian mengusirKU dan melempariKU...?"
            (: Astaghfirullahal'azhim...)

Selasa, 25 Januari 2011

"Musyawarah Para Burung"

 

            Saudara2ku dan anak2ku...
            Pernahkah kalian dengar kisah "Musyawarah Para Burung" (Manthiqut-Thayr) karya Fariduddin Aththar... maukah kuceritakan?
            Alkisah, para burung bermusyawarah, karena mereka rindu bertemu Sang Maharaja. Tapi, mereka tak tahu, ke mana harus mencari. Lalu, datanglah burung Bulbul membawa kabar, bahwa Sang Maharaja itu bernama Simurgh*) dan berada di Gunung Qaf.
            Maka, berangkatlah para burung tersebut. Menempuh panas dan dingin, darat dan laut, gunung dan lembah, dan tak sedikit dari mereka yang kepayahan. Menjadi sakit ataupun mati di jalan. Hingga, begitu sampai ke Gunung Qaf, yang tersisa hanya 30 burung. Maka, mereka berthawaf mengelilingi Gunung Qaf itu, tapi mereka tak menemukan Sang Maharaja yang mereka bayangkan.
            (:Umumnya, dalam bayangan mereka, Sang Maharaja itu 'Maha' Besar, 'Maha' Kuasa, 'Maha' Perkasa, dan serba 'Maha' Lain-lainnya...)
            Tiba-tiba, di depan mereka tampak seperti sebuah cermin, dan di cermin itu mereka melihat pantulan diri mereka sendiri: 30 burung...
            Mereka takjub dengan penglihatannya, lalu hanyut, dan akhirnya fana!
------------------------------
*) Dalam bahasa Urdu/Parsi, artinya Simurgh adalah '30'...

Senin, 24 Januari 2011

Menghidupkan yang Mati
 
                Ibrarim as berkata: "Ya RABB, perlihatkanlah kepada hamba bagaimana KAU menghidupkan yang mati..."
            ALLAH berfirman: "Apa kau tak percaya?"
            Jawab Ibrahim as: "Percaya, tapi hati hamba ingin lebih mantap..."
            FirmanNYA: "(Kalau begitu) ambillah 4 burung, cincanglah/satukanlah, dan letakkanlah masing2 di atas gunung, kemudian panggillah, niscaya ia seger
a mendatangimu..."
            (AL-BAQARAH, 2 : 260)
 

Minggu, 23 Januari 2011

Karomah Syeh Abdulqadir...


            Syeh Abdulqadir Al-Jailani -- wali quthub -- suatu hari didatangi seorang ibu. Datang-datang si ibu menangis, dan dengan teringhak-inghak ia menceritakan kemalangannya.
            "Tolonglah, Syeh..," ratapnya. "Saya hanya punya anak semata wayang, laki-laki. Mendadak tadi meninggal dunia, menyusul almarhum suami saya. Padahal, ia satu-satunya tulang punggung saya. Karena itu, Syeh, mohonlah kepada Allah. Hidupkanlah kembali anak saya. Kalau perlu, saya bersedia menebus nyawa anak saya bahkan dengan nyawa saya sendiri. Tolonglah, Syeh..."
            Dengan penuh pengertian Syeh Abdulqadir berusaha menghibur si ibu. Tapi, ibu itu malah semakin terisak.
            "Baiklah," akhirnya Syeh Abdulqadir mengiakan. "Insya Allah, saya akan munajat dengan memohon izin-Nya, agar anak ibu dihidupkan kembali. Mudah-mudahan..."
            Lalu, ia meninggalkan si ibu dan masuk ke kamarnya. Duduk bertafakur. Menyatukan zikir dan fikir, dan memusatkannya ke titik Cahaya -- kalis dari batasan ruang dan waktu.
            Maka, tiba-tiba Syeh Abdulqadir berada di depan gerbang maut. Tentu saja ia tahu, bahwa kalau ruh seseorang sudah melewati gerbang maut, maka seseorang itu tak bisa kembali ke kehidupan di alam dunia.
            Dari jauh, dilihatnya Izra'il sang malaikat maut datang membawa peti. Ia memberi salam. Lalu, ia katakan bahwa "dengan izin Allah" ia meminta Izra'il supaya mengembalikan ruh anak laki-laki si ibu. Tapi, Izra'il tak memberikannya. Syeh Abdulqadir memaksa. Lalu, terjadilah perebutan yang luar biasa. 
            Syeh Abdulqadir berusaha menarik peti yang dibawa Izra'il, dan Izra'il tetap mempertahankannya. Rupanya, kewibawaan karamah Syeh Abdulqadir lebih unggul dari Izra'il. Sehingga peti yang dibawanya terlepas dan tutupnya terbuka. Dan, tiba-tiba berlepasanlah ruh-ruh yang baru saja dicabut oleh Izra'il.
            Singkat cerita, Syeh Abdulqadir kembali dari kamarnya. Tampak si ibu masih menangis. Maka, katanya:
            "Alhamdulillah... Bu, pulanglah segera, anak ibu sudah hidup lagi...!" []

Jumat, 21 Januari 2011


Kalau Punya Keberanian Jihad

            Tersebutlah, seorang pemuda datang menghadap Syeh Dzunnun. Setelah mengucapkan salam, pemuda itu bersimpuh. Katanya:
            "Ya Syeh, izinkanlah saya mengikuti Syeh -- ajarilah saya tentang ma'rifat (mengenal Allah)..."
            Untuk sejenak Syeh Dzunnun terdiam. Kepalanya tertunduk dalam.
            Si pemuda mengulang perkataannya untuk kedua kalinya. Tapi, mata Syeh Dzunnun tampaknya tetap terpejam. Dan si pemuda pun mengulang perkataannya sampai tiga kali.
            Sekejap kemudian Syeh Dzunnun mengangkat kepalanya. Menyorotkan matanya, menyelidik. Lalu, dari bibirnya yang tak lepas senyum itu meluncur jawabnya:
            "Anak muda, kalau kau punya kesanggupan dan keberanian jihad (bersungguh-sungguh menaklukkan diri sendiri) mari ikut aku... Tetapi, kalau tidak, jangan buang-buang waktu -- pulanglah sejak sekarang...!"
"THASIN": Pencapaian Sang Laron


Sang laron terbang di sekeliling nyala api hingga terbit fajar.
Lalu ia kembali ke rekan-rekannya, dan menceritakan
keadaan (hal) spiritualnya dengan ungkapan yang penuh kesan.
Ia berpadu (hulul) dengan geliatnya nyala api
dalam hasratnya untuk mencapai Penyatuan (Tawhid) yang sempurna.

Cahayanya nyala api itu adalah Pengetahuan hakikat,
panasnya adalah Kenyataan hakikat,
dan Penyatuan dengannya adalah Kebenaran hakikat.

Ia merasa tidak puas dengan cahayanya ataupun dengan panasnya,
sehingga ia melompat ke dalam nyala api langsung.
Sementara itu rekan-rekannya menantikan kedatangannya,
supaya ia menceritakan kepada mereka tentang 'penglihatan' aktualnya,
karena ia merasa tidak puas dengan kabar angin saja.
Tetapi, ketika itu ia tengah tuntas sirna (fana'),
musnah dan buyar ke dalam kepingan-kepingan,
yang tersisa tanpa wujud, tanpa jasad ataupun tanda pengenal!
Jadi, dalam peringkat (maqam) apa ia dapat kembali ke rekan-rekannya?
Dan keadaan (hal) spiritual apa yang tengah dicapainya sekarang?
Ia yang sampai pada pandangan (bashirah) batin,
niscaya sanggup terlepas dari perkabaran saja.
Juga ia yang sampai pada inti pandangan batin,
tidak lebih prihatin tentang pandangan batinnya...

(: Dari Fragmen "THAWASIN" Al-Hallaj...)
Bandingan Firdaus di Tengah Surga
 

"AKU hanya menerima ibadah mereka yang berendah hati di hadapan KebesaranKU,
tak berbangga di depan makhlukKU,
tak larut dalam lalai kepadaKU,
mengisi malamnya dengan zikir atasKU,
mengasihi orang yang susah,
orang yang punya masalah,
dan yang kena musibah...
mereka bercahaya laksana mentari...
bandingan mereka seperti Firdaus di tengah Surga..."
(HADITS QUDSI)
"THASIN TITIK 'AZALI"
(Sebuah Fragmen dalam "THAWASIN" Al-Hallaj)


... aku 'melihat' Tuhanku dengan mata hatiku,
aku menyapa: "Siapakah Engkau?"
Dia menjawab: "Kau!"
namun, bagiku, 'di mana' tak memiliki tempat,
dan tak ada 'di mana' ketika perhatian menyangkut-Mu,
akal pun tak punya bayangan
tentang keberadaan-Mu dalam (dimensi) waktu,
yang mengizinkan akal mengetahui 'di mana' Engkau adanya...
Engkau adalah 'Sesuatu' yang meliputi setiap 'di mana',
mengatasi 'Titik' yang 'tak-di mana-mana'.
jadi, 'di mana'-kah Engkau adanya...?

Kamis, 20 Januari 2011

Takdir Ke-syahid-an Al-Hallaj


            Tiga malam sudah petugas sipir penjara Baghdad kelabakan mengontrol sel Al-Hallaj.
            Malam pertama, ia tak menemukan sang pesakitan itu di selnya. Besok malamnya, ia boro-boro menemukan sang pesakitan itu, bahkan selnya pun sekaligus tak ia temukan. Dan, baru malam ketiga ia menemukan utuh: Al-Hallaj dan selnya ada!
            "Kenapa bisa begini, Syeh?" tanya si sipir kepada Al-Hallaj.
            Al-Hallaj tersenyum, dan jawabnya kalem:
            "He... Di malam pertama, aku berangkat menghadap Allah dengan penuh khusyu. Sehingga kau tak menemukanku di sel ini. Besok malamnya, bahkan ALLAH Sendiri yang menghadapku. Sehingga kau boro-boro menemukanku, bahkan sel ini pun tak kau temukan -- hilang dalam liputan Cahaya-NYA. Baru di malam ini kau menemukanku lagi, sebab ALLAH sengaja dengan Iradat-NYA mengembalikanku ke dalam Takdir yang harus segera kutanggung: aku akan mati syahid...!"
            (Begitulah yang tertulis sebagai Takdir ke-syahid-an Al-Hallaj...)
            : Cag!

Minggu, 16 Januari 2011

Kelapa Nawawi sudah Berbuah


            Nawawi muda belum lagi bergelar Syeh Al-Bantani. Ayahnya, Ki Umar, menyuruhnya melanjutkan ngaji ke Jawa. Sebelum berangkat, ibunya berkata:
            "Nawawi, ibu mau menanam kelapa ini, sebagai tanda awal ngajimu ke Jawa. Kau tak boleh pulang, sebelum kelapa ini berbuah...!"
            Maka, ngajilah Nawawi sekitar 7 tahun. Setelah dianggap tamat, ia kembali ke Banten. Tapi, belum sampai rumahnya, ia teringat pesan ibunya dulu -- yang tak mengizinkannya pulang kalau kelapa belum berbuah.
            Begitulah, takut melanggar, disuruhnya pembantu untuk menengok: apakah kelapa di pekarangannya sudah berbuah atau belum.
            Alhamdulillah... kepalanya -- eh, kelapanya, sudah berbuah....

Kamis, 13 Januari 2011


Syeh Nawawi di Al-Azhar

            Syeh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi tiba-tiba mendapat undangan untuk menghadiri acara ta’aruf (perkenalan diri) pada majlis silaturahim ulama Al-Azhar. Alasannya, karena telah banyak kitab Syeh Nawawi yang diterbitkan Al-Azhar. Tapi siapa Syeh Nawawi sendiri tak seorang pun ulama Al-Azhar yang mengenalnya.
            Maka, sebelum pergi, ia delegasikan tugasnya sebagai imam Masjidil-Haram. Lalu berangkatlah ia bersama pembantunya, Yusuf. Menunggangi seekor unta. Berhari-hari berjalan, akhirnya sampailah mereka berdua di luar kota Kairo.
            Sambil istirahat, tiba-tiba Syeh Nawawi berkata:
            “Yusuf, kita sudah berjalan jauh. Dan kau lebih banyak jalan sambil menuntun unta, sedangkan aku duduk di atasnya. Jarang sekali aku jalan dan kau duduk di atas unta. Nah, sekarang gantian, Yusuf. Kau sekarang duduk di atas unta, biar aku jalan sambil menuntunnya…”
            Pembantu itu berusaha menolak. Tapi ini perintah. Bahkan Syeh Nawawi menambahkan:
            “Jubah ini juga gantian, Yusuf. Kau pakai jubah keulamaanku, biar aku pakai jubah pembantumu…”
            Yusuf serba salah. Dan terpaksa ia bertukar peran dengan Syeh Nawawi. Setelah berganti jubah, mereka pun berangkat lagi – dengan Yusuf duduk di atas unta dan Syeh Nawawi jalan sambil menuntunnya.
            Begitu sampai Kairo, mereka langsung ke Al-Azhar. Dan kedatangannya disambut para ulama dengan meriah. Mereka semua menyilakan Yusuf turun dari unta, dan menyalaminya sambil memeluknya erat. Setelah itu, mereka menggandengnya masuk ke aula Al-Azhar dan mendudukkannya di kursi kehormatan. Di belakang, Syeh Nawawi hanya tersenyum tanpa seorang pun mempedulikannya.
            Singkat cerita, acara ta’aruf dimulai. Ketua ulama Al-Azhar naik ke mimbar dan membuka acara. Pertama-tama ia menjelaskan tujuan acara, yaitu ‘perkenalan diri’ dengan Syeh Nawawi. Akhirnya, ia mempersilakan Syeh Nawawi naik ke mimbar. Dan hadirin pun bertepuk tangan riuh.
Yusuf yang duduk di kursi kehormatan malah berkeringat dingin. Ia gelagapan. Ketika berusaha menengok ke belakang, ke arah Syeh Nawawi, ia lihat Syeh Nawawi hanya tersenyum sambil mengangkat tangan seperti mempersilakannya.
            Dengan perasaan tak menentu, akhirnya Yusuf berusaha maju ke mimbar. Lalu, dengan terbata-bata ia mengucapkan hamdalah dan salam, dan katanya lirih:
            “Saya mohon maaf… berhubung saya masih lelah karena perjalanan… untuk acara ta’aruf ini saya wakilkan kepada murid saya, Yusuf…!” 
            Sambil begitu, tangan Yusuf menunjuk ke arah Syeh Nawawi. Ia sendiri turun lagi dari mimbar dengan muka tertunduk.
            Semua hadirin saling lirik, tak mengerti. Sementara itu, Syeh Nawawi dengan tenang naik ke mimbar. Kemudian ia mulai ta’aruf-nya. Dan semua hadirin terpesona mendengar isi uraiannya yang luar biasa. Begitu acara selesai, semua hadirin bertepuk tangan sambil berdiri. Mengelu-elukan. Dan semua membatin:
            “Baru muridnya saja, sudah begitu hebat ta’aruf-nya…Apalagi gurunya…!”


Senin, 10 Januari 2011

Raden Kian Santang dan Sayidina Ali

            Raden Kian Santang – putra Prabu Siliwangi – terkenal sakti, tanpa tanding. Maka, sebagai ‘lelaki langit lelanang jagat’ ia tak bisa terima kalau ada jagoan lain di muka bumi ini. Ia akan menyantroninya, menantangnya tanding, dan selalu ia memenangkannya.
            Arkian, suatu kali didengarnya dari para saudagar Arab, bahwa di jazirah Arab ada pahlawan padang pasir yang terkenal dengan pedang bermata-dua: Dzulfiqor. Namanya terkenal sebagai Sayidina Ali.
            Maka, saking penasaran, berangkatlah Raden Kian Santang menaiki kapal laut ke negeri Arab. Turun di pelabuhan Jedah, ia berjalan kaki ke Makkah. Sepanjang perjalanan, ia merasakan gersangnya gurun pasir. Tanpa seorang pun lewat. Untungnya, sebagai pendekar, ia terlatih tempaan keras semacam itu.
            Tiba-tiba, dilihatnya seorang tua sedang berjalan sempoyongan sambil bertelekan tongkat. Maka, tegurnya, “Mau ke mana, Kek?”
            “Ooh,” jawab orang tua itu, “Mau ke Makkah…”
            “Kebetulan, saya juga mau ke Makkah… mau mencari Sayidina Ali… Kakek tahu?”
            Orang tua itu tersenyum. Mengiakan. Lalu, mereka berjalan beriringan.
            Tiba-tiba, si orang tua merandek. Katanya:
            “Ooh, anak muda, tongkatku ketinggalan… maaf, tolong ambilkan…”
            Raden Kian Santang menengok ke belakang, dilihatnya tongkat orang tua itu tak jauh tertancap di atas pasir. Ia bersungut-sungut, kalau saja si orang tua tak berbaik mengantarnya ketemu Sayidina Ali, tak sudi ia mengambilkan tongkatnya. Maka, dengan terpaksa, ia berjalan ke tongkat itu. Tapi, begitu akan diambilnya, tongkat itu bergeming!
            Dengan penasaran Raden Kian Santang berusaha mencabut tongkat itu, tapi tetap tak bisa. Bahkan, ia mencoba merapalkan ajian-ajiannya, tapi tetap saja. Tongkat itu bagai mengakar ke pasir. Semakin ia kerahkan kekuatannya, tongkat itu semakin bergeming.
            Hingga, akhirnya dari tiap lubang pori-porinya keluar darah, dan tenaganya pun terkuras. Habis sudah semua kesaktiannya. Dan, tiba-tiba didengarnya si orang tua berkata, “Ah, dasar anak muda, begini saja tak bisa…” Sambil berkata begitu, si orang tua mencabut tongkatnya dengan mudah. Rapalnya, “Bismillahir-Rahmanir-Rahim…”
            Raden Kian Santang terkejut, lalu menangis. Dirasakannya, tubuhnya lemas bagai dicopoti sensi-sendinya. Ia merasa benar-benar taluk kepada orang tua itu. Akhirnya, tanpa daya dikatakannya, bahwa ia mohon diajarkan ilmu seperti yang dirapalkan orang tua tadi.
            “Oho..,” jawab si orang tua sambil tersenyum. “Gampang, asal kau masuk Islam…”
            “Islam?” tanyanya penasaran. “Islam itu apa… dan Kakek sebenarnya siapa?”
            Si orang tua menjelaskan tentang apa itu Islam. Dan, dijelaskannya pula, bahwa ia sebenarnya adalah Sayidina Ali: orang yang dicari-cari oleh Raden Kian Santang.
            Raden Kian Santang tertegun…
            (: Wallahua'lam...)

Kamis, 06 Januari 2011

Hikayat Syeh Ibnu Mayit



            Di Labuan Banten ada makam keramat yang terkenal sebagai makam Syeh Ibnu Mayit. Menurut sahibul-hikayat, beliau adalah seorang ulama yang hidup di masa Gunung Krakatau meletus (1883) dan terlahir sebagai putra jawara Banten yang semasa hidupnya tak pernah menikah.
            Kenapa demikian? Sebab, katanya sang ayah yang jawara Banten itu dulu memiliki ilmu kadigjayaan semacam Ilmu Batara Karang, sehingga tubuhnya tak mempan apa pun sekeras batu karang. Tapi, pantangannya tak bisa -- dan tak boleh -- ia menikah atau beristeri. Maka, begitu ia meninggal, orang-orang heboh karena ada satu bagian tubuhnya yang tak meninggal. Ketika diperiksa, memang hampir seluruh tubuhnya tak bernyawa lagi. Tapi, bagian terlarangnya tampak masih hidup dan malah tegang. Sehingga hebohlah se-Labuan Banten. Dan, para ulama pun mencari petunjuk lewat kitab-kitab dan istikharah, akhirnya diputuskan bahwa jenazah sang jawara Banten itu harus dinikahkan dulu. Sebab, semasa hidupnya ia berangan-angan menikah dan mempunyai anak. Maka, dicarilah janda yang ikhlas dinikahkan dengannya.
            Begitulah, akhirnya dari 'buah' pernikahan itu kelak kemudian lahir seorang ulama yang di Labuan Banten terkenal sebagai Syeh Ibnu Mayit -- syeh anaknya sang mayit...
            (: Wallahua'lam...)
Telat Jumat Gara-gara Merokok


Syeh Abdulmuhyi terkenal sebagai wali Pamijahan Tasik, dan Syeh Mansur terkenal sebagai wali Cikadueun Banten. Diceritakan, keduanya sepakat untuk berjumatan ke Masjidil-Haram Makkah. Sebab, yang bertindak sebagai imam dan khatib Jumat itu adalah Syeh Abdulqadir Al-Jailani – yang terkenal sebagai Wali Qutub.
            “Jadi, kita mau jalan lewat mana, Kakang?” tanya Syeh Mansur.
            “Kita lewat jalan yang berbeda saja, Rai,” usul Syeh Abdulmuhyi. “Kakang mau lewat jalan laut, biar Rai lewat jalan udara saja…”
            “Baiklah, Kakang, kita ketemu lagi nanti di Jedah…”
            “Ya, Rai, ayo kita berangkat…”
            Maka, berangkatlah kedua wali itu lewat jalan masing-masing.
            Ceritanya, Syeh Abdulmuhyi masuk ke dalam laut dan melesat cepat ke arah barat. Setelah sekian lama di dalam laut, di tengah perjalanan ia naik ke permukaan, karena rasanya sudah cukup lama juga menempuh perjalanan itu.
            Dilihatnya ia berada di sebuah pantai. Maka, mendaratlah ia, karena disangkanya itu Jedah. Ditengoknya ke sana kemari, keadaan sepi. Rupanya Syeh Mansur belum sampai ke situ, batinnya. Maka, sambil beristirahat, ia mengeluarkan bungkusan tembakau kesukaannya dan merokoklah seperti kebiasaannya.
            Kebetulan dilihatnya lewat seorang nelayan. Maka, ditanyakanlah kepada nelayan itu, apa nama pantai tersebut.
            “Ini pantai Sailon,” jawab si nelayan.
            Syeh Abdulmuhyi kaget. Berarti Jedah masih jauh, batinnya. Maka, dengan terburu-buru ia segera masuk lagi ke dalam laut dan melanjutkan perjalanannya.
            Singkat cerita, akhirnya Syeh Abdulmuhyi sampai ke Jedah. Tapi, di sana ia tak menemukan Syeh Mansur. Mungkin sudah lebih dulu ke Masjidil-Haram, batinnya. Maka, ia teruskan perjalanannya lewat darat dengan cepat-kilat. Tapi, begitu sampai ke Makkah, ternyata jemaah shalat Jumat sudah bubar. Maka, dengan terburu-buru ia segera menghadap Syeh Abdulkadir – mohon maaf atas keterlambatannya berjumatan di Masjidil-Haram.
            “Aku tahu,” sahut Syeh Qutub itu. “Bukankah kau mampir dulu di Sailon, dan sempat dulu merokok?”
            “Ya, mohon maaf…”
            “Makanya aku memberi tahu dengan menjadi nelayan,” sambung Syeh Qutub. “Dan, aku peringatkan, sebaiknya kau berhenti merokok…”
            Syeh Abdulmuhyi terpana. Kata-kata Syeh Qutub itu demikian menghunjam: maklum kata-kata keramat. Ia hanya mengiakan. Dan, sejak itu ia bukan saja berhenti merokok, tapi malah sepeninggalnya pun dilarang orang merokok – setidaknya dalam radius 1 km dari pemakamannya di Pamijahan…
(: Wallahua’lam…)

Selasa, 04 Januari 2011

2 Roti Diganti 20 Roti

            Rabi’ah kedatangan dua orang tamu, dan ia bermaksud menyuguhi mereka secara layak. Dilihatnya ke dapur, tapi yang ada hanya dua potong roti lapuk. Maka doanya, “Ya Allah, jangan Kau permalukan hamba-Mu di hadapan tamu-tamu ini…”
             Lalu didengarnya di luar rumah ada peminta-minta yang minta shadaqah. Tanpa pikir panjang, Rabi’ah langsung membungkus kedua rotinya dan memberikannya kepada peminta-minta itu. Batinnya, “Ya Allah, biar hamba shadaqahkan dua roti ini, karena hamba malu kalau hanya itu yang hamba suguhkan kepada tamu-tamuku. Tolonglah, ya Allah, gantilah shadaqah ini dengan roti-roti yang lebih baik – dengan sedikitnya sepuluh kali lipat, sesuai dengan janji-Mu dalam Firman Qur’an-Mu…”
            Rabi’ah kembali ke dalam, bercengkerama dengan kedua tamunya. Tapi tiba-tiba di luar terdengar salam. Ketika didatanginya, ada seorang pelayan dengan bawaan talam. Katanya, “Ibu Rabi’ah, ini hantaran roti dari Juragan yang di ujung sana, mohon diterima…”
            Rabi’ah memeriksa isi talam itu. Tapi dihitungnya cuma ada 18 potong. Maka sahutnya, “Ini bukan untuk saya… ini salah!”
            Pelayan itu berusaha memaksa. Tapi Rabi’ah ngotot menolaknya, karena menurutnya jumlah roti-roti itu kurang. Akhirnya si pelayan kembali pamit.
            Rabi’ah masuk lagi ke rumah. Menghadapi lagi tamu-tamunya. Tapi tiba-tiba terdengar si pelayan mengetuk pintu lagi, dan Rabi’ah mendatanginya lagi. Ternyata si pelayan menghantarkan talam tadi. Katanya, “Ibu Rabi’ah, maaf saya kembali… ini hantaran roti tadi, tapi sekarang sudah lengkap… komplit 20 potong…”
            “Ooh, syukurlah,” jawab Rabi’ah. “Berarti roti-roti ini 'benar'lah hak saya…”
            (: Masya’Allah… rupanya Rabi’ah tahu, bahwa pelayan tersebut tadi berusaha menyembunyikan dua potong roti itu...)

Senin, 03 Januari 2011

Sampai ke Maqam Ibrahim

            Seorang saudagar datang menemui Syeh Junaid. Katanya, “Saya baru pulang haji!”
Syeh Junaid bertanya, “Sejak kau berangkat haji dengan niat awal perjalanan dari rumahmu, sudahkah kau lari dari dosa?”
Jawab saudagar itu, “Belum…”
“Kalau begitu,” sahut Syeh Junaid, “kau belum menempuh jalan, tahap demi tahap... Ketika kau kenakan kain ihram di miqat yang ditentukan, apakah kau buang sifat manusiawi seperti melepas pangkat sehari-hari?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum ihram… Ketika kau wuquf di Arafah, apakah kau berdiam diri sejenak dalam musyahadah kepada Allah?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum mencapai Arafah… Ketika kau ke Muzdalifah mencapai hasrat kehambaanmu, apakah kau lempar seluruh kehendak ragawi?”
 “Belum…”
“Kalau begitu kau belum sampai ke Muzdalifah… Ketika kau berhenti di Mina, apakah semua keinginanmu berhenti?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum ke Mina… Ketika kau lempar Jumrah , apakah kau lempar nafsu inderawi yang menyertaimu?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum lempar Jumrah… Ketika kau ke tempat penyembelihan qurban, apakah kau qurbankan obyek kecintaan diri?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum berqurban… Ketika kau thawaf di Baitullah, apakah kau temui Indah-Nya Nonmateri Ilahi di Masjidil-Haram itu?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum menemui Rabb Baitullah… Ketika kau sa’i antara Shafa dan Marwah, apakah kau mencapai kesucian (shafa) dan keluhuran (muruwah)?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum sa’i, apalagi tahalul, dan kau belum benar-benar haji… Ulangi hajimu dengan cara benar, agar kau sampai ke Maqam Ibrahim…!”
(“Kasyful-Mahjub”, Ibnu Utsman Al-Hujwiri)

Minggu, 02 Januari 2011

Memboyong 'Satu' Maharaja


            Memasuki awal tahun baru, Maharaja berkenan memberi hadiah kepada para hambanya, sebagai pahala atas pengabdian mereka selama ini.
            Maka, diumumkanlah bahwa hari itu Maharaja membuka semua pintu gerbang kerajaan, dan mempersilakan para hambanya untuk memasuki semua ruangan istana. Tak terkecuali. Setiap hamba boleh mengambil apa saja yang diinginkannya, dan boleh membawa pulang semua itu sekebawanya.
            Seperti dapat diduga, para hamba pun hiruk-pikuk berlarian dan saling berebutan hadiah. Yang satu memperebutkan makanan dan minuman yang berlimpah-ruah, yang lain memperebutkan emas-permata dan baju-baju kerajaan. Ada juga yang memperebutkan dayang- dayang cantik seperti bidadari. Di kolam renang kerajaan, sekelompok hamba berebutan mandi sambil bermain sabun dan parfum. Ribut sekali keadaannya, semua memperebutkan semua.
            Tapi, Rabi’ah lain. Berbeda dengan para hamba yang hiruk-pikuk berebutan itu, Rabi’ah hanya celingukan ke sana kemari, seperti mencari-cari sesuatu.
            Maharaja heran, kenapa hamba yang seorang ini tidak memperebutkan hadiah apa pun. Maka, ditanyakannya:
            “Hai Rabi’ah, kenapa kau tidak mengambil hadiah yang berlimpah-ruah ini – sebagai pahala dariku – seperti yang lain?”
            “Tidak, Paduka,” jawab Rabi’ah tegas. “Sebab, yang hamba inginkan sebagai pahala Paduka bukanlah hadiah semegah apa pun… Yang hamba dambakan, justru, Paduka sendiri sajalah hadiah buat hamba… Cukup ‘satu’ selamanya…”
            Maka, Rabi’ah pun memboyong ‘satu’ Maharaja…

Sabtu, 01 Januari 2011

Bakar Surga dan Banjur Neraka


Pagi hari itu, Rabi'ah berlari-lari sepanjang kota Baghdad, sambil mengacung-acungkan obor dan mengayun-ayunkan ember.
            Ia berteriak-teriak: "Bakaaar.., bakaaar! Banjuuur.., banjur!"
            Orang-orang bertanya, kenapa 'bakar' dan 'banjur'?
            Kata Rabi'ah: "Aku mau bakar surga, supaya surga hangus! Dan, aku mau banjur neraka, supaya neraka tenggelam!"
            Kenapa?
            "Supaya orang menyembah-Nya karena Dia semata, tanpa pamrih karena ingin surga atau enggan neraka...!!!"