Syarif Hidayatullah dan Putri Ong Tien
Dari Negeri Mesir, Syarif Hidayatullah diantar dengan kapal laut menuju Tanah Jawa. Cita-citanya sudah bulat, ia ingin bergabung dengan ua-nya (kakak dari ibunya, Raden Kian Santang atau Pangeran Cakrabuana) di Dukuh Cirebon, untuk menyebarkan agama Islam. Dalam perjalanan itu, kapal lautnya mampir di pelabuhan Cina Selatan.
Kedatangan Syarif Hidayatullah langsung mendapat sambutan dari Raja Muda penguasa wilayah itu. Setidaknya, nama Syarif Hidayatullah sering disebut-sebut sebagai putra mahkota kerajaan Mesir yang meninggalkan tahtanya untuk menyebarkan agama Islam. Dan, ia pun disebut-sebut sebagai orang keramat – orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Raja Muda penguasa wilayah itu bermaksud untuk mengujinya.
Singkat cerita, Syarif Hidayatullah dijamu dengan berbagai makanan dan minuman beralkohol. Tapi, ia menolak dengan halus, dengan alasan puasa. Ketika sang Raja Muda memaksa, karena katanya semua itu jadi mubazir. Ia hanya tersenyum, lalu tangannya menyentuh makanan yang ada. Tiba-tiba saja makanan itu hidup kembali seperti asalnya. Maka, suasana perjamuan pun hiruk-pikuk oleh berbagai binatang yang berlarian ke sana kemari.
Sang Raja Muda mangkel terhadap Syarif Hidayatullah. Lalu, dicarinya cara untuk mempermalukan anak muda itu. Terpikir olehnya, bahwa putrinya yang masih gadis akan disalinnya seperti sedang hamil, dan ia harus menebak kehamilan putrinya.
Syarif Hidayatullah ber-istighfar atas ujian Raja Muda yang berlebihan itu. Apalagi dilihatnya putri Raja Muda itu tampak lugu, hanya tertunduk malu. Dan – dengan mata batinnya – ia tahu bahwa sang putri tidak hamil, yang dikandungnya hanya sebuah guci. Tapi, sambil tersenyum ia berkata:
“Tuanku, putri Paduka memang hamil, bahkan sudah bulannya…”
Mendengar begitu, Sang Raja Muda tertawa terbahak-bahak. Ia merasa senang dan menang, karena menurutnya tebakan Syarif Hidayatullah salah.
“Ha ha ha ha..,” sahutnya. “Anak muda, tebakanmu salah. Putriku ini, namanya Ong Tien, statusnya masih anak gadis. Jadi, boro-boro hamil, yang dikandungnya ini hanya guci, untuk mengujimu dan menjebakmu. Ha ha ha ha ha…!”
Sambil tertawa begitu, Sang Raja Muda memerintahkan dayang-dayang membantu putrinya membuka pakaian hamilnya. Tapi, alangkah kagetnya!
Ternyata, begitu pakaian hamilnya dibuka, perut putri itu besar seperti yang hamil. Dan tak ada guci atau apa pun di balik itu. Maka, alangkah murkanya Sang Raja Muda atas kemusykilan yang menimpa putrinya.
“Ini sihir!” tuduhnya. Dan, dengan berangnya, Sang Raja Muda mengusir Syarif Hidayatullah dari kerajaannya.
Syarif Hidayatullah hanya tersenyum. Lalu, pamit kepada Sang Raja Muda, kembali ke kapal lautnya. Tak lama kemudian, ia segera berlayar lagi menuju Tanah Jawa, untuk bergabung dengan ua-nya di Dukuh Cirebon.
Tapi, sebelum itu, Syarif Hidayatullah sempat wanti-wanti kepada Sang Raja Muda. Katanya:
“Kelak, putri Ong Tien akan menyusulku ke Dukuh Cirebon..!”