Sampai ke Maqam Ibrahim
Seorang saudagar datang menemui Syeh Junaid. Katanya, “Saya baru pulang haji!”
Syeh Junaid bertanya, “Sejak kau berangkat haji dengan niat awal perjalanan dari rumahmu, sudahkah kau lari dari dosa?”
Jawab saudagar itu, “Belum…”
“Kalau begitu,” sahut Syeh Junaid, “kau belum menempuh jalan, tahap demi tahap... Ketika kau kenakan kain ihram di miqat yang ditentukan, apakah kau buang sifat manusiawi seperti melepas pangkat sehari-hari?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum ihram… Ketika kau wuquf di Arafah, apakah kau berdiam diri sejenak dalam musyahadah kepada Allah?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum mencapai Arafah… Ketika kau ke Muzdalifah mencapai hasrat kehambaanmu, apakah kau lempar seluruh kehendak ragawi?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum sampai ke Muzdalifah… Ketika kau berhenti di Mina, apakah semua keinginanmu berhenti?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum ke Mina… Ketika kau lempar Jumrah , apakah kau lempar nafsu inderawi yang menyertaimu?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum lempar Jumrah… Ketika kau ke tempat penyembelihan qurban, apakah kau qurbankan obyek kecintaan diri?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum berqurban… Ketika kau thawaf di Baitullah, apakah kau temui Indah-Nya Nonmateri Ilahi di Masjidil-Haram itu?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum menemui Rabb Baitullah… Ketika kau sa’i antara Shafa dan Marwah, apakah kau mencapai kesucian (shafa) dan keluhuran (muruwah)?”
“Belum…”
“Kalau begitu kau belum sa’i, apalagi tahalul, dan kau belum benar-benar haji… Ulangi hajimu dengan cara benar, agar kau sampai ke Maqam Ibrahim…!”
(“Kasyful-Mahjub”, Ibnu Utsman Al-Hujwiri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar