Memasuki awal tahun baru, Maharaja berkenan memberi hadiah kepada para hambanya, sebagai pahala atas pengabdian mereka selama ini.
Maka, diumumkanlah bahwa hari itu Maharaja membuka semua pintu gerbang kerajaan, dan mempersilakan para hambanya untuk memasuki semua ruangan istana. Tak terkecuali. Setiap hamba boleh mengambil apa saja yang diinginkannya, dan boleh membawa pulang semua itu sekebawanya.
Seperti dapat diduga, para hamba pun hiruk-pikuk berlarian dan saling berebutan hadiah. Yang satu memperebutkan makanan dan minuman yang berlimpah-ruah, yang lain memperebutkan emas-permata dan baju-baju kerajaan. Ada juga yang memperebutkan dayang- dayang cantik seperti bidadari. Di kolam renang kerajaan, sekelompok hamba berebutan mandi sambil bermain sabun dan parfum. Ribut sekali keadaannya, semua memperebutkan semua.
Tapi, Rabi’ah lain. Berbeda dengan para hamba yang hiruk-pikuk berebutan itu, Rabi’ah hanya celingukan ke sana kemari, seperti mencari-cari sesuatu.
Maharaja heran, kenapa hamba yang seorang ini tidak memperebutkan hadiah apa pun. Maka, ditanyakannya:
“Hai Rabi’ah, kenapa kau tidak mengambil hadiah yang berlimpah-ruah ini – sebagai pahala dariku – seperti yang lain?”
“Tidak, Paduka,” jawab Rabi’ah tegas. “Sebab, yang hamba inginkan sebagai pahala Paduka bukanlah hadiah semegah apa pun… Yang hamba dambakan, justru, Paduka sendiri sajalah hadiah buat hamba… Cukup ‘satu’ selamanya…”
Maka, Rabi’ah pun memboyong ‘satu’ Maharaja…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar