Kamis, 06 Januari 2011

Telat Jumat Gara-gara Merokok


Syeh Abdulmuhyi terkenal sebagai wali Pamijahan Tasik, dan Syeh Mansur terkenal sebagai wali Cikadueun Banten. Diceritakan, keduanya sepakat untuk berjumatan ke Masjidil-Haram Makkah. Sebab, yang bertindak sebagai imam dan khatib Jumat itu adalah Syeh Abdulqadir Al-Jailani – yang terkenal sebagai Wali Qutub.
            “Jadi, kita mau jalan lewat mana, Kakang?” tanya Syeh Mansur.
            “Kita lewat jalan yang berbeda saja, Rai,” usul Syeh Abdulmuhyi. “Kakang mau lewat jalan laut, biar Rai lewat jalan udara saja…”
            “Baiklah, Kakang, kita ketemu lagi nanti di Jedah…”
            “Ya, Rai, ayo kita berangkat…”
            Maka, berangkatlah kedua wali itu lewat jalan masing-masing.
            Ceritanya, Syeh Abdulmuhyi masuk ke dalam laut dan melesat cepat ke arah barat. Setelah sekian lama di dalam laut, di tengah perjalanan ia naik ke permukaan, karena rasanya sudah cukup lama juga menempuh perjalanan itu.
            Dilihatnya ia berada di sebuah pantai. Maka, mendaratlah ia, karena disangkanya itu Jedah. Ditengoknya ke sana kemari, keadaan sepi. Rupanya Syeh Mansur belum sampai ke situ, batinnya. Maka, sambil beristirahat, ia mengeluarkan bungkusan tembakau kesukaannya dan merokoklah seperti kebiasaannya.
            Kebetulan dilihatnya lewat seorang nelayan. Maka, ditanyakanlah kepada nelayan itu, apa nama pantai tersebut.
            “Ini pantai Sailon,” jawab si nelayan.
            Syeh Abdulmuhyi kaget. Berarti Jedah masih jauh, batinnya. Maka, dengan terburu-buru ia segera masuk lagi ke dalam laut dan melanjutkan perjalanannya.
            Singkat cerita, akhirnya Syeh Abdulmuhyi sampai ke Jedah. Tapi, di sana ia tak menemukan Syeh Mansur. Mungkin sudah lebih dulu ke Masjidil-Haram, batinnya. Maka, ia teruskan perjalanannya lewat darat dengan cepat-kilat. Tapi, begitu sampai ke Makkah, ternyata jemaah shalat Jumat sudah bubar. Maka, dengan terburu-buru ia segera menghadap Syeh Abdulkadir – mohon maaf atas keterlambatannya berjumatan di Masjidil-Haram.
            “Aku tahu,” sahut Syeh Qutub itu. “Bukankah kau mampir dulu di Sailon, dan sempat dulu merokok?”
            “Ya, mohon maaf…”
            “Makanya aku memberi tahu dengan menjadi nelayan,” sambung Syeh Qutub. “Dan, aku peringatkan, sebaiknya kau berhenti merokok…”
            Syeh Abdulmuhyi terpana. Kata-kata Syeh Qutub itu demikian menghunjam: maklum kata-kata keramat. Ia hanya mengiakan. Dan, sejak itu ia bukan saja berhenti merokok, tapi malah sepeninggalnya pun dilarang orang merokok – setidaknya dalam radius 1 km dari pemakamannya di Pamijahan…
(: Wallahua’lam…)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar