Senin, 15 November 2010


Hamba yang Syukur…

            ‘Aisyah ra berkisah:
           “Suatu malam saya tiduran berdua Rasulullah saw. Saya dalam pelukannya. Tiba-tiba beliau bangun. Meminta izinku untuk shalat malam. Dan dengan berat saya izinkan…
            Setelah wudhu kemudian beliau shalat. Tapi dalam setiap rukunnya beliau terus menangis. Berlinang air mata, seakan-akan memelas. Dan saya jadi khawatir…
            Begitu subuh tiba, beliau menghentikan shalatnya. Maka saya tanya, “Ya Rasulullah, gerangan apa yang membuatmu menangis begitu rupa? Bukankah Allah telah menjamin ampunan-Nya bagi dosa-dosamu di masa lalu ataupun masa datang?”
            Rasulullah saw menjawab, “’Aisyah, tidak pantaskah aku menjadi hamba yang syukur...?””

Kamis, 11 November 2010


Kisah Syeh Junaid:

            “Aku menunggu shalat jenazah di Masjid Asy-Syuniziyah. Tiba-tiba ada yang minta-minta. Batinku, “Kalau saja orang itu kerja sedikit-sedikit, agar tidak minta-minta, tentu lebih baik…”
            Lalu, malamnya, aku wirid seperti biasa. Tapi terasa berat, sampai aku tertidur. Tiba-tiba aku mimpi, orang-orang datang membawa si peminta-minta di atas talam.
            Kata orang-orang itu, “Makanlah bangkai si peminta-minta ini, karena kau telah membunuhnya!”
Langsung aku tersadar. Rasanya aku bersalah, dan harus menghalalkan lagi hubungan dengan orang itu. Maka, tiap hari aku mencarinya, ke berbagai pelosok. Dan akhirnya bertemu, di tepi sungai, sedang memunguti buah-buah busuk.
Ketika aku memberinya salam, ia menjawab, “Apa kau akan ulangi membunuhku lagi, ya Abu Qasim?”
Aku terkaget, ternyata ruhnya telah mengenal ruhku. Maka, sahutku, “Aku tak berani…”
Ia berdoa, “Semoga Allah mengampuni kita…””

“Panasnya Api Hatiku…”

            Seorang hamba sakit. Ia ditunggui oleh sahabatnya. Dengan cerek di tangan. Siap dipanaskan di tungku untuk minum atau mandi si hamba.
            Suatu ketika si hamba tertidur. Maka sahabatnya pergi ke sumur. Mengisi cerek yang kosong, dan segera kembali.
            Karena si hamba masih tertidur, sahabatnya duduk di kursi. Ia kecapekan, dan tiduran dengan cerek di dadanya.
            Tiba-tiba si hamba bangun. Minta minum sambil membangunkan sahabatnya. Dengan terbata-bata sahabatnya langsung mengucurkan air di cerek ke gelas.
            “Auw, panas!” si hamba tersengat. “Di mana kau panaskan air cerek itu, padahal kau tertidur?”
            Si sahabat menjawab, “Kupanaskan di api hatiku...!!!”

Hakikat “ALIF”


Seorang santri belajar di pesantren. 
Tapi, sementara yang lain sudah bisa ngaji, ia tak bisa-bisa membaca ALIF pun. 
Hingga kiyainya kesal, dan ia akhirnya dikeluarkan.
Bertahun-tahun kemudian, ia tiba-tiba datang lagi ke pesantren itu. 
Menghadap kiyai, dan mengatakan bahwa ia sudah menguasai hakikat ALIF.
Ketika kiyai mengetesnya, ia menggoreskan tangannya ke tembok. 
Membentuk huruf ALIF.., dan seketika tembok itu roboh!!!