Kamis, 13 Januari 2011


Syeh Nawawi di Al-Azhar

            Syeh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi tiba-tiba mendapat undangan untuk menghadiri acara ta’aruf (perkenalan diri) pada majlis silaturahim ulama Al-Azhar. Alasannya, karena telah banyak kitab Syeh Nawawi yang diterbitkan Al-Azhar. Tapi siapa Syeh Nawawi sendiri tak seorang pun ulama Al-Azhar yang mengenalnya.
            Maka, sebelum pergi, ia delegasikan tugasnya sebagai imam Masjidil-Haram. Lalu berangkatlah ia bersama pembantunya, Yusuf. Menunggangi seekor unta. Berhari-hari berjalan, akhirnya sampailah mereka berdua di luar kota Kairo.
            Sambil istirahat, tiba-tiba Syeh Nawawi berkata:
            “Yusuf, kita sudah berjalan jauh. Dan kau lebih banyak jalan sambil menuntun unta, sedangkan aku duduk di atasnya. Jarang sekali aku jalan dan kau duduk di atas unta. Nah, sekarang gantian, Yusuf. Kau sekarang duduk di atas unta, biar aku jalan sambil menuntunnya…”
            Pembantu itu berusaha menolak. Tapi ini perintah. Bahkan Syeh Nawawi menambahkan:
            “Jubah ini juga gantian, Yusuf. Kau pakai jubah keulamaanku, biar aku pakai jubah pembantumu…”
            Yusuf serba salah. Dan terpaksa ia bertukar peran dengan Syeh Nawawi. Setelah berganti jubah, mereka pun berangkat lagi – dengan Yusuf duduk di atas unta dan Syeh Nawawi jalan sambil menuntunnya.
            Begitu sampai Kairo, mereka langsung ke Al-Azhar. Dan kedatangannya disambut para ulama dengan meriah. Mereka semua menyilakan Yusuf turun dari unta, dan menyalaminya sambil memeluknya erat. Setelah itu, mereka menggandengnya masuk ke aula Al-Azhar dan mendudukkannya di kursi kehormatan. Di belakang, Syeh Nawawi hanya tersenyum tanpa seorang pun mempedulikannya.
            Singkat cerita, acara ta’aruf dimulai. Ketua ulama Al-Azhar naik ke mimbar dan membuka acara. Pertama-tama ia menjelaskan tujuan acara, yaitu ‘perkenalan diri’ dengan Syeh Nawawi. Akhirnya, ia mempersilakan Syeh Nawawi naik ke mimbar. Dan hadirin pun bertepuk tangan riuh.
Yusuf yang duduk di kursi kehormatan malah berkeringat dingin. Ia gelagapan. Ketika berusaha menengok ke belakang, ke arah Syeh Nawawi, ia lihat Syeh Nawawi hanya tersenyum sambil mengangkat tangan seperti mempersilakannya.
            Dengan perasaan tak menentu, akhirnya Yusuf berusaha maju ke mimbar. Lalu, dengan terbata-bata ia mengucapkan hamdalah dan salam, dan katanya lirih:
            “Saya mohon maaf… berhubung saya masih lelah karena perjalanan… untuk acara ta’aruf ini saya wakilkan kepada murid saya, Yusuf…!” 
            Sambil begitu, tangan Yusuf menunjuk ke arah Syeh Nawawi. Ia sendiri turun lagi dari mimbar dengan muka tertunduk.
            Semua hadirin saling lirik, tak mengerti. Sementara itu, Syeh Nawawi dengan tenang naik ke mimbar. Kemudian ia mulai ta’aruf-nya. Dan semua hadirin terpesona mendengar isi uraiannya yang luar biasa. Begitu acara selesai, semua hadirin bertepuk tangan sambil berdiri. Mengelu-elukan. Dan semua membatin:
            “Baru muridnya saja, sudah begitu hebat ta’aruf-nya…Apalagi gurunya…!”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar