Selasa, 05 April 2011

SYAHID AL-HALLAJ: SANG SYUHADA AGUNG


            Baghdad – 24 Dzul-Qa’idah 309 H./922 M.
            Pagi itu, para saksi mengatakan, matahari seperti enggan menampakkan cahayanya. Udara mendung. Dingin. Awan hitam berarak ditiup angin kencang, bergumpal-gumpal. Namun, semua itu tak menghalangi langkah ribuan orang yang berduyun-duyun menuju alun-alun kota.
            Dari arah menjara, sepasukan berkuda menyeruak kerumunan orang yang berdesakan itu. Mereka menyeret seseorang yang terikat kuat. Langsung menggelandangnya ke alun-alun.
            Di tengah alun-alun kota Baghdad itu telah siap sebuah panggung. Di atasnya berdiri tiang-salib gantungan (niqniq) menghadap kerumunan orang. Dan, di situ telah kumpul beberapa pejabat istana: wazir, kepala pasukan, mufthi kerajaan, dan algojo dengan parang di tangannya.
            Begitu sampai, pasukan berkuda itu menyerahkan sang pesakitan ke tangan algojo – yang langsung membuka ikatannya. Wazir menanyai permintaan terakhirnya. Namun, sang pesakitan hanya tersenyum. Matanya jelalatan ke arah orang-orang yang menyemut di bawah panggung. Tiba-tiba dia berseru ke seseorang, dekat panggung itu: “Ya Abu Bakr (nama panggilan Syibli, tokoh sufi zaman itu), apa kau bawa sajadah?”
            Orang yang diserunya menyahut: “Benar, aku bawakan untukmu!”
            “Kalau begitu, cepatlah! Bentangkan di panggung ini…!” seru sang pesakitan lagi. Lalu, orang itu melemparkan sajadahnya, pas terhampar menghadap kiblat (Baitullah, Ka’bah).
            Dalam kesaksiannya, antara lain dari Ibrahim ibnu’l-Fatik, tercatat sebagai berikut:

            Begitu sajadah terbentang, Al-Hallaj (sebutan sang pesakitan) langsung mendirikan shalat dua raka’at, sementara aku berada dekatnya. Pada raka’at pertama, setelah Al-Fatihah, dia membaca ayat (Al-Baqarah, 2: 155-157), “Akan Kami coba kamu dengan sesuatu, baik dari rasa takut, lapar, atau kurang, dari hal harta, diri, juga buah-buahan; tetapi sampaikan kabar gembira buat orang yang sabar. (Yaitu) orang yang kalau ditimpakan kepadanya musibah, mereka mengatakan, ‘Sungguh, ini semua kepunyaan Allah, dan kepada Allah semua ini kembali.’ Merekalah yang mendapat shalawat dari Tuhannya, juga rahmat; dan merekalah yang memperoleh hidayah…”
            Pada raka’at kedua, setelah Al-Fatihah, dia membaca ayat (Ali ‘Imran, 3: 185), “Setiap jiwa akan merasakan mati, dan pada Hari Kebangkitan (Qiyamat)-lah akan disempurnakan-Nya semua pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan ke surga, sesungguhnya dialah yang beruntung. Kehidupan dunia ini tak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya…”

            Usai salam, dia – yang tak lain dari Al-Hallaj, Sang Syuhada (Martyr) paling kontroversial dalam sejarah tasawuf Islam – melantunkan doa, di antaranya: “Wahai, Kekasih-Setiaku (ya Tsiqati), ampuni mereka yang menghukumku, karena mengira, dengan begitu mereka membela agama-Mu… Aah, seandainya Kau singkapkan kepada mereka apa yang Kau singkapkan kepadaku, tentu mereka tak berbuat ini. Dan, seandainya Kau sembunyikan dariku apa yang Kau sembunyikan dari mereka, tentu aku pun tak sanggup menanggung derita ini. Kepujianlah untuk-Mu atas apa yang Kau takdirkan (qudrah), dan kepujianlah untuk-Mu atas apa yang Kau kehendaki (iradah)…”
            Suasana hening. Tenggelam dalam lantunan doa – yang menggaung ke langit, menembus ‘Arasy-Nya. Lalu, sepertinya selaksa malaikat turun ke bumi, menggemakan “Amiiin…!” Dalam sekejap, tapi hanya sekejap, cahaya matahari menerobos gumpalan awan. Langsung menerangi panggung. Namun, sekejap kemudian mendung kembali menghitam. Menutup sang fajar dalam perkabungan alami. Dan, seketika itu algojo menggerung, dengan beringas ditariknya Al-Hallaj ke tiang-salib gantungan. Suasana hening pun pecah. Hiruk-pikuk jeritan bercampur umpatan.
            Maka, inilah saat yang paling dramatis dalam sejarah tasawuf. Sang algojo (Abul-Harits) mengikat dan memaku kedua tangan serta kaki Al-Hallaj pada tiang-salib gantungan. Kemudian, satu-satu tangan dan kaki Al-Hallaj dipancung dengan parangnya, sekali tebas. Tubuh yang kutung itu terguling bersimbah darah. Namun, sang algojo kembali menariknya dengan menjambak rambutnya, dan mengikatnya di tiang-salib gantungan semula. Suasana makin hiruk-pikuk, gemuruh dengan jeritan dan umpatan orang-orang yang terus menyemut di sekeliling panggung penyaliban itu.
            (Saksi lain melaporkan, ketika itu tak sedikit yang pingsan. Kerusuhan pun nyaris terjadi, karena ada sekelompok orang – mungkin murid-murid atau sahabat-sahabat Al-Hallaj – yang berusaha merangsek dan menyerbu ke panggung, sehingga ada yang terinjak dan meninggal dunia.)
            Dari bawah panggung, Syibli – yang tadi menghamparkan sajadah buat Al-Hallaj – lantang berteriak: “Ya Husain bin Manshur (nama panggilan Al-Hallaj), katakanlah.., apa makna ke-syahid-an itu?”
Di tiang-salib gantungannya, Al-Hallaj yang terikat dengan tubuh kutung itu membuka matanya dan tersenyum, lalu berseru: “Ya sahabat, maqam terendah ke-syahid-an adalah apa yang kau saksikan sekarang ini. Dan, maqam tertingginya tak bakal kau sanggup menjangkaunya…!”
            Belum habis kata-kata itu terucap, sang algojo kembali menebaskan parangnya. Langsung ke leher sang syuhada. Maka, muncratlah darah dari urat-leher itu. Menyembur ke seantero panggung. Membentuk gambaran hati (qalbu) dalam 74 – atau, ada juga yang melaporkan 84 – tetes. Konon, dari masing-masing tetes itu tiba-tiba berkumandang dzikir: “Allah.., Allah.., Allah..!”
            ***
            Kini, masalahnya, apa makna yang dapat kita pelajari dari tragedi sejarah yang kontroversial ini? Kenapa sang syuhada dipancung kaki-tangannya, dan dipenggal kepalanya? Apa karena dituduh ingkar dari tatanan Syari’at, dengan pernyataannya yang sarat polemis: “Akulah Sang Maha Benar (Ana’l-Haqq)…!” ataukah karena intrik politik? Dan, apakah pula makna yang dipesankannya, dengan kesanggupannya untuk ‘shabar’ menanggungkan takdir di tiang-salib gantungan – seperti yang dinyatakannya lewat ayat-ayat Al-Qur’an dalam shalat terakhirnya? Benarkah seperti yang dinyatakannya di ujung hayatnya, bahwa maqam terendah ke-syahid-an adalah kesanggupan menjadi martir (syuhada) seperti yang dipersaksikannya?
            Kita bisa menderetkan berpuluh – atau malah beratus – pertanyaan lagi di sini, tapi semua itu sebenarnya terangkum dalam kata-kunci ke-syahid-an, dan pemahaman atasnya.
            Ada anekdot menarik. Tersebutlah, seorang pemuda datang menghadap Zunnun Al-Mishri (tokoh sufi Mesir, sezaman dengan Al-Hallaj). Setelah mengucapkan salam, pemuda itu bersimpuh, dan berkata: “Ya Syeh, izinkanlah saya mengikuti Anda – ajarilah saya tentang ke-syahid-an…”
            Untuk sejenak Zunnun Al-Mishri terdiam. Kepalanya tertunduk dalam.
            Sang pemuda mengulang perkataannya sampai tiga kali. Seketika Zunnun Al-Mishri mengangkat kepalanya. Menyorotkan matanya, menyelidik. Lalu, dari bibir yang tak lepas senyum itu meluncur jawabnya: “Kalau kau punya kesanggupan dan keberanian jantan, mari ikut aku…! Tetapi, kalau tidak, jangan buang-buang waktu – pulanglah saja sejak sekarang…!”
            Zunnun Al-Mishri, dan Al-Hallaj, tampaknya sama-sama mengajarkan, bahwa ke-syahid-an adalah suatu pencapaian ruhani yang tidak mudah. Setidaknya, ke-syahid-an harus dibayar dengan kesanggupan diri untuk menanggungkan takdir-Nya, yakni takdir ketika diri mendapati dan menyadari bahwa ‘ruh’ sejatinya adalah ibarat “si yatim” yang merindukan “Sang Asal”-nya – sangkan paraning dumadi-nya. Sebagaimana difirmankan-Nya (Ad-Dhuha, 93: 6), “Bukankah Dia mendapatimu sebagai si yatim, lalu kau dilindungi-Nya? Dan, Dia mendapatimu seperti yang bingung, lalu kau ditunjuki-Nya?”
             Ke-syahid-an itu tidak mudah. Sebagai tahapan-ruhani (maqam) yang unik, ke-syahid-an itu memiliki kualitas-kualitas pencapaian yang bertahap-tahap – yang masing-masing kualitasnya tak luput dari ujian/cobaan. Kenapa demikian? Masalahnya, ke-syahid-an bukanlah pencapaian ruhani yang sekaligus jadi. Ada bertahap-tahap kualitas pencapaian ke-syahid-an yang mesti ditempuh oleh seorang pejalan (salik). Dan, derajad atau nilai kehidupan seorang salik berbanding-lurus dengan kualitas pencapaian ke-syahid-annya. Maka, dapatkah dibayangkan, bagaimana halnya yang tidak tahu ke-syahid-an?
             Pada awal maqam-nya, ke-syahid-an menuntut kebangkitan hati (qalbu) untuk “melihat” Allah melalui Allah, dan sekaligus menuntut keberpalingan akal-pikiran dari segala sesuatu yang bukan Allah. Dia yang tahu ke-syahid-an – sejak awal maqam-nya – adalah dia yang “melihat” Allah di atas segala sesuatu yang dilihatnya. Sehingga, benarlah firman-Nya (Al-Baqarah, 2: 115), “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Maka, ke mana pun kau menghadap, di sana Wajah Allah. Sungguh, Allah meliputi lagi mengetahui segala sesuatu…”
             Al-Hallaj, dalam kitabnya “Thawasin” yang kontroversial, melukiskan kondisi spiritual (hal) mencapai ke-syahid-an itu dengan indahnya, sebagai berikut:

             Sang laron terbang di sekeliling nyala api hingga fajar, lalu kembali ke teman-temannya. Ia menceritakan kondisi spiritual (hal)-nya dengan ungkapan yang penuh kesan, berpadu (hulul) dengan geliatnya nyala api, dalam hasratnya untuk mencapai penyatuan (tawhid) sempurna.
             Cahayanya nyala api itu adalah Pengetahuan hakikat, panasnya adalah Kenyataan hakikat, dan penyatuan dengannya adalah Kebenaran hakikat.
             Ia merasa tak puas dengan cahayanya ataupun panasnya, sehingga ia melompat ke dalam nyala api langsung. Sementara itu, teman-temannya menantikan kedatangannya, supaya ia menceritakan “penglihatan” aktualnya, karena merasa tak puas dengan kabar angin saja. Tetapi, ketika itu ia tengah tuntas-sirna (fana’), musnah dan buyar, bagai serpihan-serpihan yang tak bersisa – tanpa wujud, tanpa jasad ataupun tanda pengenal...
             Jadi, dalam tahapan ruhani (maqam) apa ia dapat kembali ke teman-temannya? Dan, kondisi spiritual (hal) apa yang tengah dicapainya sekarang?
             Ia yang sampai pada “penglihatan” batin, niscaya sanggup lepas dari kabar angin saja. Juga, ia yang sampai pada inti “penglihatan” batin, tak prihatin tentang “penglihatan” batinnya…!

             Ke-syahid-an itu memang tidak mudah, Ia adalah amanat yang pernah ditawarkan Allah kepada langit dan gunung, tapi mereka menolaknya. Maka, ketika manusia sanggup dengan amanat itu, dimulailah perjalanannya sebagai khalifah di muka bumi – yang dibekali potensi untuk mampu mengenali esensi segala sesuatu (asma’a kullaha). Tentu saja, langit dan gunung menolak amanat ke-syahid-an itu, karena keduanya adalah metafor dari ketinggian, atau sesuatu yang serba tinggi. Dan, biasanya hal itu merujuk pada akal (‘aql) dan pikiran (fikr) saja. Masalahnya, apakah sanggup ke-syahid-an dicapai oleh daya akal dan pikiran semata?
             Jadi, sekali lagi, ke-syahid-an itu tidak mudah. Sebab, ke-syahid-an juga menuntut Kepasrahan-Total dari seorang penempuh-jalan (salik), bahkan hingga Sang Maut datang menjemput. Dan, inilah pesan yang sebenarnya ingin disampaikan Al-Hallaj lewat ke-syahid-annya.
             Al-Hallaj pun tak sendirian. Sebagai martir, jejak ke-syahid-annya diikuti oleh sederet nama yang tak kalah legendarisnya: ‘Ain Qudhat, Suhrawardi, Syamsu’t-Tabriz, Ibnu Sab’in, Ibnu Fadhullah, Abdul-Hamid… hingga Hamzah Fansuri di Aceh, Sidi Jinar di Demak atau Lemah Abang di Cirebon. Seibarat “sang laron” dalam alegori (qiyas) Al-Hallaj, masing-masing syuhada tersebut telah meleburkan dirinya ke dalam inti-nyala Cahaya, karena ke-syahid-an mereka tak terpuaskan dengan hanya kabar angin (dogmatis) saja.
             ***
             Akhir kata, mungkin kita perlu juga menengok pelajaran Nabi Khidir as (Al-Kahfi, 18: 60-82). Bahwa, untuk mencapai ke-syahid-an itu – yang, dalam kisah ayat mutasyabihat tersebut, dikiaskan dengan “harta-karun” yang tersembunyi di balik rumah “si yatim” – maka, pertama-tamanya adalah kita harus shabar
             Nabi Khidir as mengajarkan, bahwa untuk mencapai ke-syahid-an itu, 1) kita harus shabar melubangi perahu (safinah) diri, yaitu jasmani, agar ia tak dikuasai oleh raja zhalim nafsu ‘amarah. Lalu, 2) kita harus shabar membungkam si anak manja, bandel dan ingkar, yang ada dalam nafsu lawamah, supaya ia nantinya tak mencelakakan. Dan, 3) kita harus shabar menegakkan kembali rumah hati (qalbu) yang nyaris runtuh, karena ‘rumah’ itu sebenarnya milik “si yatim” yang telantar, yaitu ruh hakiki, agar ia menemukan harta-karun yang tersembunyi (kanzan makhfiyan) di balik kedalaman rumahnya.
             Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman: “Aku adalah harta-karun yang tersembunyi (kanzan makhfiyan), dan Aku tidak dikenal. Maka, Aku pun ingin dikenal, dan Aku ciptakan makhluk-Ku – agar lewatnya itu Aku mengenali Diri-Ku…”
             Jadi, hakikatnya ke-syahid-an adalah Syahid-Nya Allah atas Diri-Nya Sendiri – makanya itu 'mengenalnya' pun tidak mudah.
             Wallahu a’lam… []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar