(At-Taghabun, 64: 17)
Di zaman Rasulullah saw, ada sekelompok orang yang selalu mendapat pinjaman kepada Allah, yang dikenal sebagai ahli Shufah.
Tadinya, mereka berdatangan dari berbadai negeri. Berbai'at kepada Rasulullah saw untuk masuk Islam, dengan meninggalkan keluarganya dan harta-bendanya, dan mereka menyerahkan jiwa-raganya demi perjuangan Islam.
Di Madinah, Rasulullah saw menampung mereka di sebuah pojok Masjid Nabawi. Sehingga pojok itu dikenal sebagai pojok Shufah, dan yang tinggal di sana dikenal sebagai ahli Shufah.
Mereka adalah orang-orang yang menyerahkan jiwa-raganya demi perjuangan Islam. Sebutlah di antaranya: Abu Hurairah ra, ahli periwayat hadits Rasulullah saw.. Salman Al-Farisi ra, ahli strategi perang.. Huzaifah Al-Yaman ra, ahli ilmu jiwa Islam.. Abuz-Zar Al-Ghiffari ra, ahli ibadah.. Ibnu 'Abbas ra, ahli tafsir Al-Quran.. Bilal Al-Habsyi ra, penyeru 'adzan.. Sa'ad ibn Abi Waqqas, ahli perang.. dan banyak lagi.
Allah memerintahkan Rasul-Nya (saw) bahwa, di antara umat itu harus ada yang menyingkir dari kehidupan dunia untuk mendalami ilmu. Dan, Allah pun mencegah Rasulullah saw mengusir mereka dari pojok Shufah -- apalagi membiarkannya -- kendatipun kehidupan mereka sepintas seperti benalu. Sebab, ahli Shufah itu sebenarnya adalah tipikal orang yang diberi pinjaman kepada Allah...
Dan, kemudian terbukti, seperti ditulis sejarah, bahwa kontribusi mereka dalam pengembangan Islam mencakup berbagai bidang. Semua itu tiada lain karena pedulinya orang-orang yang membantu penghidupan mereka, tanpa pamrih apa pun -- seperti yang dilakukan oleh kaum Anshor terhadap para ahli Shufah.
Oleh karena itu, mari... berlomba-lombalah meminjamkan kepada Allah... []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar