Jumat, 31 Desember 2010



(2010) 
Semua Ini hanya Titipan

            Rumaysa bimbang sejenak. Anaknya baru saja meninggal, setelah berminggu-minggu sakit tanpa terobati. Sedangkan, para tetangga terdengar ramai mengelu-elukan pasukan Islam yang baru kembali dari peperangan dengan kemenangan besar.
            Rumaysa bergegas ke luar rumah. Lalu ditanyainya salah seorang tetangga, apakah suaminya termasuk yang selamat. Tetangga itu mengiakannya.
Rumaysa bimbang lagi. Tapi, diputuskannya untuk tidak ikut para tetangga yang beramai-ramai menyambut pahlawan masing-masing.
Ia balik ke rumah. Dipangkunya jenazah kecil anaknya, dipindahkannya ke kamar belakang. Diselimutinya dengan rapi. Lalu ia segera mandi. Membereskan rumah, merapikan tempat tidur, dan mempersiapkan makanan seadanya.
            Begitu suaminya datang, ia langsung menyambutnya dengan wajah suka-cita. Ia tanyai keadaan suaminya. Dan, penuh telaten, disekanya tubuh suaminya dengan air hangat. Diperbannya luka yang ada dengan kain bersih. Disalinnya dengan baju baru. Terus diajaknya makan sambil disuapinya. Sambil bercengkerama. Lalu diajaknya ke tempat tidur dan berhubungan penuh gairah selayaknya suami-istri.
            Selepas itu, suaminya tiba-tiba ingat kepada anaknya. Ia heran, rasanya dari tadi ia tidak mendengar suara anaknya, apalagi melihatnya.
            Rumaysa bimbang, tapi segera ia mengalihkan pertanyaan suaminya. Sahutnya:
            “Begini, Kakanda… Ada tetangga kita, yang bertahun-tahun lalu mendapat titipan dari seorang saudagar. Tapi, ketika kemarin dulu utusan sang saudagar datang mengambil titipan itu, si tetangga kita tidak mau mengembalikannya lagi. Bagaimana kalau menurut Kakanda tentang titipan ini?”
            “Harus dikembalikan,” tegas suaminya. “Sebab, titipan itu kan sebenarnya bukan hak milik si tetangga!”
            “Tidak boleh dipertahankan, ya, Kakanda…” Rumaysa memancing.
            “Tidak boleh, dosa! Harus ikhlas! Kembalikan ke yang empunya!”
            “Eng.., omong-omong, Kakanda.., kalau anak kita, titipan atau bukan…?”
            “Ya titipan, karena hakikatnya ia kepunyaaan Allah!”
            “Kalau titipan, artinya.., kalau Allah mengutus malaikat-Nya untuk mengambil kembali anak kita.., maka kita harus ikhlas mengembalikannya…?”
            “Ya harus ikhlas, lahawla…!”
            “Tapi, eh..,” sambung suaminya. “Omong-omong, memangnya kenapa dengan anak kita.., mana dia sebenarnya?”
            Rumaysa tiba-tiba menangis. Tapi, dengan tegar lalu diceritakannya, bahwa anak mereka mula-mula sakit. Berketerusan, tanpa terobati. Hingga akhirnya tadi meninggal, pas ketika para tetangga ramai mengelu-elukan kemenangan pasukan Islam dari medan perang.
            Katanya sambil tersengguk:
            “Saya ikhlas, Kakanda.., ini memang takdir Allah.., innalillahi...!"
            Suami Rumaysa hanya tertegun...       
            “Innalilahi wainnailaihi raji’un…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar