Ke-syahid-an Al-Hallaj
Ketika akan dieksekusi, di alun-alun Baghdad, Al-Hallaj shalat dua raka’at.
Di raka’at pertama, setelah membaca Al-Fatihah, ia membaca ayat (Al-Baqarah, 2 : 155-157), “Akan Kami coba kamu dengan sesuatu, baik rasa takut, lapar atau kurang, dari hal harta, diri, juga buah-buahan, tetapi sampaikan kabar gembira buat yang sabar. (Yaitu) yang kalau ditimpa musibah, ia berkata: Sungguh, ini kepunyaan Allah, dan kepada Allah semua ini kembali. Baginyalah shalawat dari Tuhannya, juga rahmat dan hidayat…”
Di raka’at kedua, setelah membaca Al-Fatihah, ia membaca ayat (Ali ‘Imran, 3 : 185), “Setiap jiwa akan merasakan mati, dan di Hari Kebangkitan (Qiyamat)-lah akan disempurnakan-Nya semua pahalamu. Siapa yang dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan ke surga, sungguh ia beruntung. Kehidupan dunia ini tak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya…”
Selesai Al-Hallaj shalat, si algojo langsung mengeksekusinya. Satu-satu tangan dan kaki Al-Hallaj dipancung kutung. Tapi, tubuh yang bersimbah darah itu cuma senyum.
Tiba-tiba sobatnya lantang bertanya, “Ya Husain ibn Manshur (panggilan Al-Hallaj), terangkanlah, apa makna ke-syahid-an itu?”
Sambil tetap tersenyum Al-Hallaj menjawab, “Ya Sobat, makna terendah ke-syahid-an adalah apa yang kau saksikan sekarang ini. Makna tertingginya takkan sanggup kau menjangkaunya!”
Belum habis kata-kata itu terucap, si algojo kembali menebaskan goloknya. Ke leher Sang Syahid langsung. Maka, muncratlah darah dari urat-leher itu. Menyembur ke seantero panggung. Membentuk gambaran hati (qalb) dalam 74 tetes.
Dari masing-masing tetes darah itu tiba-tiba berkumandang dzikir: “Allah… Allah… Allah…!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar