Rabu, 22 Desember 2010


Haji Sol Sepatu yang Mabrur

            Seorang tukang sol sepatu di Baghdad menabung hingga 20-an tahun. Saking ingin menunaikan ibadah haji ke Makkah. Setelah dianggap cukup, ia mau menyetorkan uang  tabungannya ke maktab urusan haji.
            Di tengan jalan, tiba-tiba ia mencium bau masakan dari kejauhan. Begitu lezat. Ia jadi merasa sangat tergiur. Hingga saking penasaran, akhirnya ia telusuri di mana sumber bau masakan itu.
            Begitu sampai, ia lihat seorang ibu-ibu sedang memasak di panci butut. Di atas tungku. Sambil dikelilingi tangisan anak-anaknya. Begitu ribut. Menjerit-jerit. Dan berteriak-teriak meminta makanan.
            “Masak apa, Bu, enak sekali…”
            Ibu itu terkaget, sepertinya menahan isak-tangis.
            “Jangan,” sergah si ibu, “makanan ini haram!”
            “Kenapa haram, bukankah ini enak?”
            Si ibu tersengguk. Lalu ia bercerita,  kalau makanannya itu dari bangkai anjing busuk di tempat sampah. Terpaksa ia masak, karena tak ada makanan lain. Anak-anaknya sudah lama kelaparan. Sedangkan suaminya sedang sakit keras, tanpa pengobatan. Malah kondisinya hampir sekarat.
           Dengar cerita si ibu, rasanya mual dan mau muntah. Tapi ia juga trenyuh atas nasib si ibu, suaminya, dan anak-anaknya.  Maka, tanpa pikir panjang langsung ia sumbangkan uang tabungan hajinya kepada si ibu sekeluarga.
            Singkat cerita, jemaah haji sedang wuquf di Padang Arafah. Di antaranya Syeh Mubarok. Tapi, siang itu, Syeh Mubarok melihat semua jemaah haji berkain ihram hitam. Kecuali di kejauhan, tampak si tukang sol sepatu sedang sujud di Jabal Rahmah.
            Terdengar sayup para malaikat bertasbih:
            “Itulah satu-satunya hamba Allah yang hajinya mabrur…”
Kemudian, Syeh Mubarok juga melihatnya di Mina, lempar Jumrah, thawaf di Ka’bah, sya’i, dan tahalul, tapi kemudian menghilang lagi.
            Usai menunaikan haji, Syeh Mubarok sengaja ke Baghdad menemui si tukang sol sepatu. Sekalian kirim salam melalui mimpi Rasulullah. Begitu ketemu, mereka berangkulan seperti dua sahabat.
            Si tukang sol sepatu sendiri tetap pada pekerjaannya, di sepanjang lorong Baghdad. Dan wajahnya bercahaya. Tak ada sebutan apalagi gelar (haqiqat) haji. Tapi di sisi-Nya ia Haji Mabrur…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar