Minggu, 01 Mei 2011

THASIN: MAQAM KESUCIAN...

(: inilah Bab Ketiga kitab "THAWASIN" Al-Hallaj yang fenomenal...)


1.
Hakikat itu adalah sesuatu yang sangat halus,
dan sulit menguraikannya.
Jalan untuk menempuhnya sempit,
dan tentang jalannya itu, seorang penempuh (salik)
harus mengarungi 'kobaran api' di tengah gurun yang dalam.
Seorang asing (gharib) telah mengikuti jalan ini, dan menyampaikan
bahwa apa yang dialaminya ada empat puluh Maqam, yaitu:

1. Kesopansantunan ['adab],
2. Kegentarhatian [rahab],
3. Kejerihpayahan [nashab],
4. Penuntutan-diri [thalab],
5. Ketakjuban ['ajab],
6. Peniadaan ['athab],
7. Pemujaan [tharab],
8. Pendambaan [syarah],
9. Penjernihan [nazah],
10. Kelurusan [shidq],
11. Persahabatan [rifq],
12. Persamaan [litq],
13. Keberangkatan [taswih],
14. Penghiburan [tarwih],
15. Ketajaman [tamyiz],
16. Penyaksian [syuhud],
17. Keberadaan [wujud],
18. Penghitungan ['add],
19. Pengupayaan [kadda],
20. Pemulihan [radda],
21. Perluasan [imtidad],
22. Pengolahan [i'dad],
23. Penyendirian [infirad],
24. Pengendalian [inqiyad],
25. Kemauan [murad],
26. Kehadiran [hudur],
27. Pelatihan [riyadhah],
28. Kehati-hatian [hiyathah],
29. Penyesalan [iftiqad],
30. Kedayatahanan [istilad],
31. Pengawasan [tadabbur],
32. Keterkejutan [tahayyur],
33. Perenungan [tafaqqur],
34. Kesabaran [tashabbur],
35. Penafsiran [ta'abbur],
36. Penolakan [rafdh],
37. Pengoreksian [naqd],
38. Pengamatan [ri'ayah],
39. Pembimbingan [hidayah],
40. Permulaan-jalan [bidayah].

Maqam terakhir ini adalah maqam-nya orang-orang
yang Hatinya tenang dan suci (shufi).

2.
Tiap maqam memiliki keadaan (hal) spiritualnya sendiri
sebagai pahalanya, yang sebagiannya mungkin diperoleh
dan sebagian lainnya tidak.

3.
Adapun sang Gharib yang telah mengarungi gurun (hakikat)
dan menyeberanginya, telah mencakupnya
serta memahaminya secara keseluruhan.
Ia tidak memperoleh sesuatu yang lazim ataupun biasa,
tidak di gunung ataupun di darat.

4.
"Ketika Musa (as) menunaikan tugasnya",
ia meninggalkan ummatnya
karena hakikat akan merengkuhnya sebagai 'milik'-Nya.
Tapi, masih juga ia berpuas dengan penerangan semu
tanpa pandangan (bashirah) batin langsung,
sehingga ada perbedaan antara ia
dan sang Insan Kamil [Muhammad saw].
Karena itu ia (Musa as) berkata:
"Siapa tahu aku dapat membawa sedikit penerangan untukmu." [Q. 20: 10]

5.
Andaikan sang Pembimbing Utama puas dengan penerangan semu,
bagaimana dapat seseorang yang menempuh jalan (thariqah)
tidak mencukupkan dirinya dengan jejak semu.

6.
Dari Semak yang Terbakar, di Bukit Sinai,
apa yang kedengarannya difirmankan Semak
bukanlah dari Semak atau belukarnya,
tetapi (firman) Allah.

7.
Dan peranan 'aku' adalah seperti 'Semak' itu.

8.
Jadi, hakikat adalah 'hakikat' dan makhluk adalah 'makhluk'.
Makanya buanglah sifat kemakhlukanmu, supaya kau sesuai dengan-Nya,
beserta Dia -- kau pun dalam liputan hakikat.

9.
'Aku' sejati adalah subyek,
dan obyek yang terurai adalah subyek dalam hakikatnya.
Soalnya adalah bagaimana itu terurai?

10.
Allah berfirman kepada Musa (as):
"Kau bimbinglah (ummatmu) pada Bukti (al-Hujjah),"
tapi bukan pada Obyeknya Bukti.
Adapun bagi-Ku, Aku adalah 'Bukti' dari setiap bukti.

11.
            Allah membuatku melampaui apa adanya hakikat
            dengan kesepakatan, perjanjian, dan persekutuan.
            Rahasiaku adalah penyaksian (syahadah) langsung
            tanpa (keikutsertaan) pribadi makhlukku.
            Itulah rahasiaku, dan inilah hakikat.

12.
Allah memfirmankan pengetahuanku melalui 'aku' dari hatiku.
Dia menarikku dekat pada-Nya setelah jauh dari-Nya.
Dia membuat aku menjadi Sahabat (Waly)-Nya,
Dia memilih aku... []

[: dari edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arahman At-Tarjumana,
dan edisi Arab, di-Indonesiakan oleh AM Santrie...]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar