Tha-Sin:
Ikrar Tauhid
1.
Dia – Allah, Sang Maha Hidup (Al-Hayy).
2.
Allah adalah Sang Esa, Unik, Sendiri, dan ‘saksi’ sebagai yang Satu.
3.
Sekaligus, Sang Esa dan kesaksian atas Penyatuan (Tawhid) yang Satu,
Adalah ‘di Dia’ dan ‘dari Dia’.
4.
Dari-Nya datang jarak pemisah (makhluk) yang lain dari Penyatuan-Nya,
dan itu dapat dilambangkan demikian ini:
[Tauhid terpisah dari Allah,
dan simbol ‘wahdaniyah’ ini dilambangkan oleh ‘Alif’ (ﺍ ) panjang,
dengan sejumlah ‘dal’ (د ) di dalamnya.
Adapun ‘Alif’-nya (ﺍ ) merupakan Zat,
dan ‘dal’-nya (د ) sebagai Sifat.]
5.
Pengetahuan Tauhid adalah sebuah ikhtisar kesadaran yang mandiri,
dan perlambangnya demikian ini:
ﺍﺍ ﺍﺍ ﺍﺍﺍ ﺍﺍ
[Inilah ‘Alif’ (ﺍ ) purba-Nya Zat (’Alif’ panjang)
dengan ‘alif-alif’ (ﺍ ﺍ ) lainnya,
yang merupakan wujud-wujud makhluk,
dan yang hidup di atas ‘Alif’ (ﺍ ) utama.]
6.
Tauhid adalah sifat subyek makhluk yang melafalkan ketauhidannya,
dan bukan sifat sang Obyek yang tersaksikan Satu.
7.
Apabila aku yang makhluk mengatakan “aku”,
dapatkah aku membuat-Nya juga mengatakan “Aku”?
Tauhidku datang dariku, dan bukan dari-Nya.
Dia suci [munazzah] dariku dan Tauhidku.
8.
Bila aku mengatakan: “Tauhid kembali ke ‘ia’ yang mengatakannya,”
maka aku membuatnya (Tauhid) sebagai suatu makhluk.
9.
Jika aku mengatakan: “Tidak,
Tauhid itu datang dari sang Obyek yang tersaksikan,”
maka adakah hubungan yang mengaitkan seorang peng-Esa (Tauhid)
ke pernyataannya tentang Penyatuan itu?
10.
Andai kukatakan: “Memang,
Tauhid adalah hubungan yang mengaitkan sang Obyek ke subyeknya,”
maka aku telah mengarahkan hal ini ke sebuah ketentuan nalar! []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar